Yuk Ikut Program AIMS!

_____ Sebagai pelajar, terutama saat fase mahasiswa, pasti pengen dong menginjakkan kaki ke luar negeri, meskipun cuma sekali. Pengalaman ke luar negeri memang menjanjikan, selain buat nambah koleksi foto hitz instagram eh maksudnya pengalaman, kita juga bisa sekalian mengenal seperti apa sih kehidupan di sana dan mungkin ada hikmah yang bisa kita ambil, ceileh. Salah satu cara yang ampuh buat ke luar negeri adalah dengan ikut lomba/conference. Cara lainnya yang gak kalah bagusnya adalah dengan ikut  sejenis program summer camp yang diadakan kampus tertentu (nama kegiatan bisa berubah tergantung penyelenggara). 

Eh tapi, bukannya kalau lomba cuma beberapa hari doang dan kitanya pusing mikirin lomba? student exchange kayak summer camp juga cuma 2 minggu – 1 bulan? Pengennya yang lamaan dikit ih…

Beberapa mahasiswa

_____ Tenang, sejak tahun 2013, Indonesia bergabung dalam program MIT (Malaysia, Indonesia, Thailand) yang menyelenggarakan pertukaran pelajar antar ketiga negara tersebut, dalam waktu yang cukup lama pula (1 semester). Setelah programnya berjalan mulus selama 5 tahun, akhirnya programnya dibuka untuk seluruh negara ASEAN, ya 10 negara, mantep kan. Oleh karena itu, nama programnya diubah menjadi AIMS (ASEAN International Mobility for Students).  Program ini dicanangkan oleh SEAMEO-RIHED (South East Asia Ministry of Education Organization – Regional Centre for Higher Education and Development), semacam KEMENRISTEKDIKTI nya ASEAN lah ya~. Namun tidak semua negara ASEAN yang tegabung untuk program ini, seperti Singapura, Myanmar, Laos, dan Kamboja entah kenapa tidak terdaftar dalam program ini hingga aku mendaftar. Selain negara-negara ASEAN, program ini juga menggandeng Jepang. Ya, Jepang, anda tidak salah baca! Oh iya sambil mengikuti exchange, bisa juga sambil mengerjakan skripsinya, terutama yang butuh data dari negara lain dan pengen yg lebih ctarr membahana..hahaha.

_____ Jepang menjadi satu-satunya negara diluar ASEAN yang bergabung dengan program ini sejak nama programnya menjadi AIMS, setidaknya sampai blog ini ditulis (karena Korea Selatan juga baru bergabung). Kehadiran Jepang di program AIMS tentu menjadi ajang cuci mata, terlepas dari idol-idol 48 nya ituh, Jepang merupakan negara di Asia Timur yang pastinya alam dan budayanya akan sangat jauh berbeda dengan kebanyakan negara ASEAN yang mayoritas beriklim Tropis, musim panas dan musim lebih panas. Makanya lirikan pertama saat au mendaftar program ini adalah ke Jepang. Selain karena penasaran dengan tantangan hidup di negara 4 musim, aku juga penasaran dengan gimana kita bisa survive hidup disana. Apalagi, Jepang terkenal dengan budayanya yang kelewat disiplin, sangat bersih, dan tertib.

Nyari yang kontras sekalian sama Indonesia ah, biar tau gimana rasanya hidup di Jepang. Bukan karena gw wibu atau gmn yah, tapi pengen tau aja apa iya sehebat yang dibicarakan orang” dan disiarkan di layar kaca? Ya kali ke Jepang / tertarik Jejepangan langsung dicap wibu dll.

_____ Untuk program AIMS di Indonesia, sepanjang yang aku tahu ada beberapa kampus yang berafiliasi, seperti IPB, UGM, Unsri, dan Binus. Untuk mengetahui apakah kampus tersebut berafiliasi dnegan program AIMS, ada 3 cara. (1) Tanya langsung sama bagian International Office di kampus masing” . (2) Cari di web DIKTI atau web kampus. (3) Kepoin mahasiswa internasional di kampus, itung” cara ke-3 paling ampuh biar sekalian modus plus nanya lebih detailnya (could be spoonfed ez kalo mahasiswa Jepang karena gampang taunya, tough as final boss kalo mahasiswa ASEAN karena penampilannya mirip sama orang Indonesia).

_____ Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti AIMS yang ke Jepang dan di Universitasku (IPB) saat itu hanya tersedia 3 pilihan: University of Tsukuba(筑波大学), Ibaraki University (茨城大学), dan Tokyo University of Agriculture & Technology (東京農工大学). Berhubung aku lihat rankingnya menurut Times Higher Education, University of Tsukuba berada di Urutan ke 9 waktu itu (paling tinggi diantara lainnya), ya aku jadi tertarik untuk exchange ke sana. Apalagi saat melihat foto” nya di mbah gugel, tampaknya 11/12 lah ya ama IPB.  Dari hijaunya, lokasinya yang sama” agak ndeso (tidak berlaku buat yang di IPB Baranangsiang), dan kultur mahasiswanya yang masih “alim” kalo dibandingkan kota besar Jepang lainnya, dan sama sama beragam komposisi mahasiswanya dari seantero Jepang (eh bahkan dunia kali ya!).

_____ Aku pun mengikuti seleksi yang diadakan kampusku. Biasa laah~ seperti seleksi pada umumnya ada berkas” yang harus diserahkan dan proses wawancara. Berhubung aku pernah menjadi asisten praktikum di Departemen ITP, jadi agak mendapat “tiket emas” buat mengikuti seleksi. Seleksinya berlangsung sekitar bulan Maret-April yang berarti aku harus mengambil cuti dari magang di BPOM selama beberapa hari (tidak berturut-turut).

     Sekitar akhir bulan April, barulah keluar pengumuman peserta yang bisa mengikuti AIMS. Ada yang didanai penuh oleh DIKTI (fully funded) dan ada yang didanai sebagian (partially funded). Alhamdulillah, aku menjadi salah satu peserta yang didanai penuh dengan dana dari DIKTI sebesar Rp 38.000.000 (Sekitar 300.000 Yen). Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan selama 1 semester di luar negeri, so use ’em wisely dude! Untuk teman” yang didanai sebagian, kesamaan fasilitas yang diterima adalah uang kuliah selama disana, namun tidak mendapatkan tunjangan rupiah untuk biaya tambahan (biaya hidup, jalan jalan, dsb). Oleh karena itu, banyak juga dari mereka yang aktif mencari sponsor, mengajukan permohonan dana dari DITMAWA, ataupun dana pribadi. Untuk peserta yang pergi ke negara ASEAN seperti Thailand atau Malaysia akan mendapat dana sebesar Rp.23.000.000. Selidik punya selidik, sebenarnya tahun lalu dana yang digelontorkan lebih banyak lho hohoho (Rp 43.000.000 untuk ke Jepang dan Rp 25.000.000 untuk ke negara ASEAN).

     Eaak, chukup soal dana karena banyak drama di bagian dana. Kita lanjut ke bagian seleksi mahasiswanya. Seleksi mahasiswanya dilakukan oleh pihak kampus sendiri sehingga benar” tahu gimana sih si mahasiswa di real life nya tanpa di sugarcoat yang mungkin bakal terjadi kalo diwawancara sama third party. Wawancaranya tentang apa aja sih? Modelnya seperti sidang sk****i (nama disensor demi kesehatan mata mahasiswa tingkat akhir wkwkwk). Anda presentasi, anda ditanya tanya, di hisab? yaa gitu deh. Wawancaranya tentang kenapa pilih negara tsb, kenapa pilih kampus yang itu, apa yang bakal dilakukan disana, persiapannya sudah sejauh mana, nilai plus dan minus kita, apakah dosen pembimbing dan orang tua anda setuju?, sejauh mana tugas akhir kita berjalan, dsb. Kira” berkutat-katit di wilayah itu umumnya (bumbu” pertanyaan lainnya bisa muncul juga). Oh iya, untuk teman-teman yang bidikmisi biasanya akan lebih di “cecer” karena yang bidikmisi diharapkan lulus 4 tahun sehingga pertanyaan mengenai tugas akhir dan perizinan dosbing/wali akan lebih “pedes”.

Nahh.. kira” sekian untuk pengenalan kenapa dan gimana untuk ikut AIMS. Untuk mengurus berkas dan tralala nya akan dipost di postingan selanjutnya.

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: