Fumidasou! 2 – Malam Pertama

_____ Langkah pertama di kampus Tsukuba, “aaah, akhirnya mau sampe juga”. Aku diantarkan Nomura-sensei ke ruang administrasi asrama yang berada di gedung Ichinoya 34, Ya, 34. Di sini banyak sekali asramanya, mulai dari Ichinoya 1 hingga Ichinoya sekian. Kata sensei, selain di daerah sini, ada juga komplek asrama di daerah Hirasuna, Oikoshi, dan Kasuga, serta yang baru di Global Village. “Ooh lengkap juga ya sensei disini, berarti mahasiswanya banyak dong ya”, tanyaku dalam bahasa Inggris (karena senseinya bisa Bahasa Inggris dan Bahasa Jepangku masih acakadut). Sensei-pun menjawab, “Ya, di Tsukuba memang banyak mahasiswanya, apalagi komposisi mahasiswa Internasionalnya sama mahasiswa Jepang udah hampir 70:30″… oooo, begitu toh!

_____ Ya, selama di mobil, kami sedikit ngobrol tentang mahasiswa IPB, dan Indonesia. Sensei bilang, beliau cukup kaget dengan orang Indonesia yang kelewat beragam, karena beliau kira awalnya orang Indonesia itu muslim semua, nggak makan babi, nggak minum alkohol, dan kalo ngomong pelaaan gitu. “Oh nggak dong sensei, dari barat sampe timur bisa beda-beda suku, agama, ras, maupun kebiasannya. Jadi ya diikuti saja apa yang berlaku di tiap daerahnya”. “oooh gitu toh, iya juga sih karena mahasiswa saya yang orang Indonesia juga beda-beda karakternya”. Sensei pun sedikit ngobrol kalau Istrinya orang Thailand dan Thailand memang cukup homogen dari selatan sampe utara. Dia juga bercerita kalo dia juga pernah kenal orang Indonesia yang jadi peneliti di salah satu universitas di Thailand sewaktu sensei meneliti di Thailand. “Ni sensei hobi amat sih ke berbagai negara” gumamku.

_____ Daaan, akhirnya sampai juga di wilayah Ichinoya. Sambil menyeret koper keluar dari bagasi mobil, sensei sambil minta maaf karena tidak bisa menjemput di Bandara karena dari pagi beliau ada rapat. Yaah, mau gimana lagi ya, yang penting setidaknya sensei udah ngasi guide gimana cara ke Tsukuba dengan selamat. Di tengah jalan yang berbatu (batu batu yang “ditanam” di tengah jalan beraspal), hujan pun mulai turun… Aaaaa, gawat nih, harus buruan ke administration office nya (ngangkat koper + duffle bag susah euy di jalan yang berbatu yang besar-besar, banyak lagi). Akhirnya sampai juga dan aku neduh dulu di terasnya sebelum masuk.

_____ Irasshaimase~… Suara aku disalami oleh petugas administrasi asrama dan aku menjelaskan kalau aku adalah calon penghuni asrama Ichinoya 8, kamar 203. Sambil dibantu sensei (yang menjelaskan ke mbaknya dalam bahasa Jepang biar cepet), Aku mengisi formulir yang diberikan. Nama… BERES, tujuan kemari… BERES, uang deposit dan bulanan…. HAAAH. “Ini saya harus bayar deposit dan bulanannya sekarang?” tanyaku. “ooh nggak, itu bisa nanti aja di akhir bulan. Sekarang mah tinggal ngisi aja trus angkat kasur, seprai, dan perlengkapan lainnya ke asrama dari laundry office”, kata si mbaknya.

Itu sih lebih HAAAAAAAAH lagi mbak. Dateng dateng udah disuruh angkat angkat, hujan pula, dan gatau dimana itu laundry office”. Okeh, ini sih udah 2x ajaib. 1. Ngangkat seprai dll, 2. Hari lagi hujan

_____ Yossssh, selesai mengisi formulir, mengambil kunci, dan menerima booklet wifi dan panduan keamanan kampus, aku pun keluar dari kantor administrasinya. Sensei pun pamit dan pergi….. (teganya~ terlalu sadis caramu *play sfx: Afgan – Sadis). “Eh mas, maaf saya lupa bilang, kalo ngambil perlengkapan tidur cepetan, soalnya jam 5 udah tutup!” kata mbak-mbak customer service sambil keluar dari pintu. Dan, kulihat jam di hape menunjukkan pukul 16.15.

Etdahhhh….. masa aku tidur ngemper~~~~BURUAANNNN!!!”

_____ Aku pun mencari-cari dimana itu bangunan, atau apalah yang disebut laundry office, sampai aku menemukan bangunan tua (tapi masih terpakai) yang didalamnya ada Yamazaki mart dan tempat service elektronik. Aku bertanya sama yang jaga minimarketnya dan disuruh coba tanya sama yang diatas, eh maksudnya petugas yang ada di kantor atas. Naik tangga, aku pun melihat petugasnya di sebuah kantor kecil. “aha, mungkin ini kali ya tempat binatu”, pikirku. Namun, ketika aku tanya, ternyata bukan, “laundry office ada di belakang bangunan ini, terpisah dari gedung. Mas nya turun aja trus keluar lewat pintu sebelah kanan, trus belok kanan memutar. Ntar juga nemu”. “Ohhh, ya makasih banyak pak”. Aku pun bergegas karena jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Untungnya hujannya mereda dan aku keluar lewat pintu kanan yang dimaksud.

_____ Keluar dari bangunan tua tadi, dan belok kanan, aku berpapasan dengan mbak-mbak cantik (bule sepertinya) dengan crop tee dan celana pendek (kuat juga loh padahal suhunya 22’C). Aku pun nanya ke mbak-mbak tersebut dan waw, aku berada di jalan yang benar. “Oh, it’s just few steps ahead. See that old hut or something? That’s where you can find the bed sheet and stuffs” katanya, dengan Bahasa Inggris yang lancar (karena dari tadi aku ketemu orang yang bingung sekali untuk diajak ngomong Bahasa Inggris kecuali senseiku). Dia pun bertanya, apa aku mahasiswa baru dan dari mana. Aku menjawab bahwa diriku mahasiswa exchange dari Indonesia. “Indonesia? wow, as expected”. “Nani, eh, know something about Indonesia?” tanyaku agak kepo (soalnya dia yg mulai sih… wkwk). “Oh, just a lil bit. My mom’s Indonesian tbh, but i’m from Germany. Ok good luck then!”. “Gee, thanks a lot for the direction. I’ll go there ASAP!” balasku dengan girang sambil berlalu menyeret koper dan duffle bag.

Widiihhh,, KEAJAIBAN #3, ketemu mahasiswa cantik blasteran Jerman-Indonesia. 

_____ Kitazo~ Sampe juga di laundry office 20 menit sebelum tutup. Aku disuruh menuliskan nama, asal kamar, dan jumlah barang yang diambil. Aku langsung dikasih seperangkat alat tidur dalam tas yang besarnya hampir seukuran koperku. Haduuh cobaaan apalagi ini, berat amat ngangkatnya~…Gerimis pun mulai turun lagi, hufttt. Aku pun keluar bangunan itu dan langsung mencar asrama Ichinoya 8. “Ichinoya 8… Ichinoya 8…. Ichinoya 4, BUKAN!… 6, 7a, 7b, 8… nah ini dia!!!”Akhirnya aku naik tangga terasnya yang cuma 3 langkah (naik pake tenaga manjat karena nyeret koper dll). Eh, pas mau masuk, pintunya utamanya dikunci pake password. “Passwordnya apa ini ooiiii~“, keluhku sambil langsung ninggalin barang bawaan dan menuju administration office, LAGI.

_____ “Oh, passwordnya sama kayak nomor kamarnya si mas. 08203. Digantinya nanti per tanggal 1 oktober” kata mbaknya. “Oke, makasih banyak, maaf merepotkan”. Was was dengan barang bawaan, aku langsung lari ke asrama. Alhamdulillah masih utuh, aman, selamat. Aku pun memasukkan passwordnya dan tadaa… pintu kebuka. Aku kemudian mengangkat koper ke lantai 2, menaruh tas ransel, lalu disusul dengan seperangkat sprei dan duffle bagku. “Assalamualaikum…” sambil buka pintu kamar. “Oh ternyata kamarnya rapi, bagus, sempit sih tapi cukup lah ya buat sendiri. Tau lah Jepang tanah mahal” gumamku. Tak pakai lama, aku langsung unboxing koper, sholat ashar dan sambil nunggu maghrib sekalian.

_____ Selepas ashar, aku memeriksa dulu apakah ada yang rusak atau kotor, sesuai perintah mbak kantor administrasi tadi. Dan benar, ada dong yang bermasalah, Keajaiban#4 (akan kubahas di postingan selanjutnya). Okee… masalah beres, dan aku di chat oleh Pak Supri untuk datang ke asramanya di Ichinoya 19 habis maghrib. Oh, masih jam 5.36, masih ada 20 menitan lagi sebelum maghrib (kayaknya). Setelah jam 6 teng, aku langsung maghriban dan siap siap keluar asrama lagi. Oh iya, Pak Supri adalah dosen jurusan TMB yang lagi S3 di Tsukuba. Aku sendiri mengenal beliau karena dikenalkan oleh Kak Ulya dan Bang Sutan (ingat kakak TMB di Prodik BEM Fateta?). Ketika aku sedang pakai sepatu, aku dichat oleh Pak Supri bahwa ntar ketemuannya habis Isya di Ichinoya 17 aja, lebih deket, tinggal cari gomibako atau bak sampah dan asramanya di sebelahnya pas.

Keajaiban #4, Password salah, ada masalah di kamar, mesti nembus hujan pula 😦

_____ Yak, setelah nunggu sampai isya, aku pun keluar dan langit masih menangis. Di tengah kegelapan malam dan di daerah yang aku tak tahu arahnya kemana, aku mencari cari asrama 17 itu. Selang 5-10 menit, akhirnya ketemu juga Pak Supri dan seorang bapak-bapak di sebelahnya. Setelahnya, aku diajak masuk ke “kosan” bapak tersebut dan dikenalkan bahwa bapak tersebut adalah Pak Alam, salah satu peneliti yang bekerja di Puspiptek. Beliau ternyata baru saja lulus dari Tsukuba beberapa hari lalu dan akan pulang ke Indonesia besok, ya BESOK! ” Salam kenal dan selamat datang di Tsukuba. Ini… saya kan besok pulang dan peraturannya gak boleh ninggalin sampah apa apa di kamar, pokoknya kamar harus bersih kinclong besok pagi. Kamu ambil aja apapun yang dibutuhkan” seru pak Alam.

Alhamdulillah, Keajaiban#5, ada warisan yang tidak terduga. Banyak lagi, terima kasih Pak Alam.

Kamar pak alam 30
Mari kita bersih-bersih apato Pak Alam (source: personal snapshot)

_____ “Masnya dari mana, ikut program apa di Tsukuba?” Tanya Istri Pak Alam. “Oh ini bu, saya dari IPB sama kayak Pak Supri, cuma jurusannya dari Teknologi Pangan, jurusan sebelahnya Pak Supri. Saya ikut program exchange dari AIMS bu di Tsukuba”. “Ooh, adek kelasnya Pak Supri toh, yaudah ini ambil aja, yang itu juga, eh ini baju bajunya juga ambil sekalian soalnya berguna banget kalo musim dingin, eh ini boleh sekalian juga, itu…, ini…., itu…” kata Ibu Alam. “Waduh, terima kasih banyak lho bu. Apa nggak papa nih banyak banget, sampe ada panci, frying pan, pisau, talenan, saringan, dan baju bajunya juga banyak banget?” tanyaku heran sambil masuk masukin ke kantong kertas coklat. “Ah gakpapa, wong namanya juga udah mau pindahan, anggep aja hadiah selamat datang di Tsukuba. Eh iya ini telor juga sekalian ambil aja 3-3 nya, mentega, tuna kalengnya juga. Eh iya itu sabun cuci baju yang di kamar mandinya sekalian aja bawa”. Wadidaw, banyak juga yah, mantap!

_____ “Dek, itu tolong ambilin kakaknya gih (menyebutkan nama merk) nya di kamar mandi, sekalian sama sabun yang lain” katanya Pak Alam sambil meminta anak perempuannya mengambilkan. “Mal, nih celananya sekalian ambil aja, lumayan buat sepedaan biar kakinya nggak membeku kena angin. Boleh kan pak yang ini diambil?”, kata Pak Supri sambil nunjuk beberapa outwear. “Eh gapapa pak? Kalo celana saya bawa banyak sih jeans. Tahan dingin kan ya jeans”, tanyaku. “Oh iya jelas boleh, ambil aja yang udah saya keluarin disitu. Ambil aja mal celananya. Musim dingin itu anginnya yang kuat, jeans nggak nahan anginnya”. “Oke pak, saya ambil ya yang disini” jawabku. Pak Supri pun langsung menyahut lagi, “bisa nggak mal bawa nya? perlu kantong lagi buat bawa?”. “Oh nggak pak, saya ntar bolak balik aja kesini, paling sekali angkut lagi kelar pak.”

Warisan 30
Warisan dari keluarga Pak Alam tahap 1, mulai dari alat masak, pakaian, hingga bahan makanan (source: personal snapshot)

_____ Jreng… Begitulah barang bawaanku seperti yang tampak di gambar diatas. Aku langsung bergegas ke tempat Pak Alam lagi dan tadaaa…. Komplitlah barang bawaanku, hehe, ditambah dengan madu Jepang yang masih sekitar setengah liter. Kemudian aku diajak Pak Alam dan Pak supri untuk datang ke kumpulnya FKMIT. Apa tuh? Forum Keluarga Muslim Indonesia – Tsukuba. Oh rupanya saat itu memang lagi ada syukuran untuk mahasiswa yang barusan lulus. Waah, nggak nyangka ternyata aku datang di tanggal syukuran mereka. Acaranya bertempat di Ichikom (Ichinoya Community Center), bangunan tua yang tadi aku linglung nanyain ke lantai atas. Di Ichikom ini ternyata ada mess hall nya juga (dulunya katanya tempat kantin, cuma ditutup). Fix ini Keajaiban#6, aku langsung bertemu orang-orang Indonesia di Tsukuba dalam jumlah banyak dan bertepatan dengan acara syukuran.

Alhamdulillah, ada orang yang berbaik hati mau ngasih barang-barangnya. Udah hampir putus asa padahal karena nggak ada siapa siapa disini pada awalnya, dan mengalami banyak kejadian aneh. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” Al-Insyirah:5.

Pengajian 30
Suasana pengajian di malam kedatangan, 26 September 2018 (source: personal snapshot)

_____ Aku langsung berkenalan dengan mereka ketika sampai setelah diperkenalkan oleh Pak Supri dan Pak Alam. Ternyata ada yang mahasiswa S1, ada yang S2, ada yang S3, ada yang ikut bareng keluarganya, wah macem macem deh latar belakangnya. Langsung setelah mengaji, kita mengobrol ngobrol dan sedikit memperkenalkan diri. Rupanya Kak Izhar juga anak baru nih di Tsukuba, cuma dia S2 hehe. Aku pun berkenalan dengan anggota lainnya seperti Kak Ridho, Kak Jabbar, Mas Fikry, Kak Hadi, Kak Guntur, Pak Fajar, Pak Eko, Pak Ari, Kak Arga, Raka, Rira, Vanya, dan Nadia (yang mungkin seumuran kayaknya yang 4 terakhir). Yaa setelah ngobrol ngobrol, kita pun akhirnya makan kare-raisu (curry rice) yang dibuat oleh ibu-ibu. Wiih…. di hari pertama udah ngicip makanan Jepang??? Sugeee~~~~

Capture+_2019-09-27-22-43-11-01
Yok mari disantap, Kare dengan nasi hangat di cuaca hujan, mantaps (source: personal snapshot)

_____ Ternyata, budaya kalo gathering orang Indonesia di Tsukuba ya begini. Sambil minum teh, sari buah, atau soda sambil diselingi camilan atau makanan berat, baik khas Indonesia atau khas Jepang. Wiiih asik banget, bersyukur sekali deh rasanya dalam 1 hari udah seperti bundle package dimana dari siang hingga sore rasanya apes terus tapi dari maghrib hingga malam rasanya tuh bahagia yang menggebu-gebu. Setelah selesai ngobrol-ngobrol, teng jam 9 lewat, akhirnya syukuran pun selesai. Adek (adek kan ya) yang bernama Vanya langsung nawarin kare, nasi pouch, teh hijau kotak 7/11, dan sari buah apel 7/11 kepadaku “kak, mau dibawa pulang gak makanannya? masih banyak nih, bawa aja buat sarapan besok”. “Vanya kan ya… Eh seriusan??? Beneran boleh dibawa pulang? pake apaan bawanya?” tanyaku. “Iya gapapa kak, anggep aja salam kenalnya dari FKMIT. Besok tinggal angetin aja di panci ini karenya, nasinya dipanasin pake microwave” katanya menawarkan, diikuti dengan Raka dan Nadia yang nyahut “iya bawa aja udehh”.

“Waduhh.. makasih banyak ya semuanya… Baru dateng 5 jam udah ngerepotin banget”….. Sepertinya ini udah Keajaiban#7 di Tsukuba, dikasih banyak makanan, padahal aslinya gak tau besok pagi mau makan apa, beli dimana.

_____ Akhirnya, aku bawa pulang itu semuanya pake kantong kresek, dan kare nya dimasukin ke plastik. Mereka pun siap siap pulang pake sepeda, menerjang gerimis. “Eh seriusan gapapa pulang ujan gini? Emang pada dimana sih tinggalnya?” tanyaku. Raka menjawab, “Vanya sama Rira mah ngesot juga nyampe, orang di Ichinoya 20 situ”. “Lah trus kalian, Nadia, Raka, Ka Guntur?”…. “Ini ada sepeda, udah biasa kok malem gini sepedaan” kata Kak Guntur. Ooooh ok deh… Hati hati ya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Aku pun berjalan balik ke kamar, merasa senang karena hari ini berakhir dengan baik. Hmm… apa iya perlu aku namain kejadian 2 hari lalu ini sebagai つくば大学七不思議 (Tsukuba Daigaku Nana Fushigi)? 26 September akan kuingat terus pokoknya. Dan…. cerita berlanjut ke postingan selanjutnya.

Rasanya tak mungkin bagi manusia terus menerus sial. Kalender aja ada hitam ada merahnya”

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: