Fumidasou! 4 – Asrama

_____ Pagi hari, 27 September 2018. Aku pergi ke dapur untuk memanaskan makanan yang kuperoleh dari acara syukuran semalam. Sesampainya di dapur yang cuma 10 langkah dari kamar, aku bertemu dengan orang baru lagi nih. Ezwan (Awangku Pengiran Ezwan Bin Ludin), aww namanya susah. Sekilas tampak seperti boboho lagi masak (Just kidding) karena memang cukup mirip, cuma rambutnya aja yang lebat dan agak ikal. Entah kenapa imej awal yang terbesit di benakku ketika liat orang brunei langsung jauh berbeda dengan ekspektasi awal yang kayaknya bakal kayak tokoh di upin ipin, atau waktu rehat (acara komedi Malaysia tahun 2009-2010 an di Disney Channel). Yasudahlah, karena orang Brunei, bicara Indonesia mix dengan Inggris pun ngerti lah ya.

Pegel juga cuy lidah kalo ngomong Jepang mulu, atau Inggris mulu. Suwer dehh!

_____ Ternyata dia juga lagi bikin kare tuh, kayaknya baru belanja semalam. Kita pun berbicara sedikit sedikit lah ya, mulai dari perkampusan ria dll. Dia ternyata anak Biologi gitu di UBD (University of Brunei Darussalam), sama kampusnya kayak Mizan. Cuma dia masih ada “relasi” gituu dengan sultan, makanya nama awalnya ada awangku pengiran nya, hooo~~ pantesan alat masaknya baru semua, bagus lagi mereknya. Singkat cerita, dia pun balik ke kamarnya dan aku memasak sendiri, tinggal memanaskan kare-nya aja.

Kitchen 30
Dapur dan ruang makan saat pagi hari (source: personal snapshot)

_____ Di dapur ini, fasilitasnya cukup lengkap lho. Pertama, ada meja dan kursi, buat makan sambil ngobrol ngobrol, dan yang terpenting buat naro barang barang yang akan dimasak karena spacenya di area basah sangat terbatas. Dapurnya punya 2 bak cuci, 2 pemanas air gas (tinggal puter dan pencet, air panas dengan suhu sesuai selera siap mengalir untukmu~),  peralatan masak di laci bawah dapur (meskipun gak aku pake karena udah ada yang dari Pak Alam dan ngeri bekas orang masak sesuatu yang aneh aneh), serta kantong sampah kresek. Ya, kantong sampah kresek atau gomibukuro ゴミ袋, buat sampah organik dan yang boleh dibakar (燃えるゴミ, moeru gomi), lengkap dengan tulisan Tsukuba-shi atau kota Tsukuba.

Dapur 30
Dapur saat malam hari, komplit dengan menu kesayangan mahasiswa (source: personal snapshot)

_____ Tak lupa, lengkap juga dengan exhaust fan buat mengeluarkan asap dan bau saat memasak. Dapurnya pun memiliki 2 buah kompor. Tak tahu kenapa atau emang default-nya gitu, sudah tersedia sponge dan sabut kucek di dapurnya, tapi gak ada sabun cuci piringnya. Terus, ada lap juga, sebagian diletakkan di bagian atas dapur, sebagian “nangkring” di pipa pemanas. Dapurnya menggunakan sistem saluran, jadi nggak perlu bongkar pasang tabung gas LPG kayak biasanya di Indonesia (denger denger sih katanya sumber gas nya dari Indonesia hehehe). Oh iya, untuk memakai dapurnya tidak dikenakan biaya apapun, alias GRATIS!! Mau cuma nyuci, masak, sampe pake mesin pemanas airnya buat wudhu pake air hangat pun tetep gratis. Di asrama ini cuma dikenakan biaya listrik aja yang sebenernya sudah disubsidi sebagian oleh kampus, sisanya untuk gas dan air gratis (Nggak seperti asrama lain atau kosan pada umumnya lho!)

Ini dapur kayaknya buat dipake berjamaah deh, maksudnya masak bareng bareng, makannya sendiri sendiri (masa disuapin) wkwkwk. Semua serba lebih dari 1 soalnya~

_____ Bangunan asrama Ichinoya 8 memiliki 4 lantai dengan kamar per lantainya berjumlah 10. Dapur (台所 Daidokoro) dan ruang cuci hanya ada di lantai 2 dan 3 dengan tampilan dapur antara lantai 2 dan 3 yang tidak jauh berbeda, palingan di lantai 3 terasa lebih pendek aja antara lantai dengan langit langitnya karena memang sedikit memijak tangga dari lantai hall ke lantai dapurnya. Setiap lantai tersedia 2 buah TOILET KERING, iya toilet kering tanpa shower mini atau pembilas bidet kayak toilet canggih di bandara. (apalagi bak dan ember kecil di pojokan, tambah gak ada itu mah). Cuma ada tissue kering di dalam bilik toilet, BAYANGKAN!!! Lah trus kalo buang air gimana? buang air kecil sih mungkin ga terlalu masalah, karena di dalam bilik toiletnya terdapat wastafel kecil untuk cuci tangan mungkin, dan membilas kemaluan setelah buang air kecil. Tapi, untuk buang air besar rada PE ER nih, karena ngga mungkin cebok pake kucuran air wastafel yang pelan itu, mana pake sensor tangan pula. Alhasil, cowok cowok pun mengakalinya dengan membawa botol PET yang diisi air untuk cebok wkwkwk.

Cuci 30
Ruang mencuci di asrama (source: personal snapshot)

_____ Ruang cuci (洗濯機室 – Sentakkishitsu), ruangan no.2 paling drama dan Pe Er di asrama. Karena untuk bisa mencuci, kita harus memasukkan koin 100 yen, atau sekitar 13 ribu rupiah (harus 100 yen pas, ga ada kembalian, ga terima koin dibawah 100 yen yang dicicil masukinnya). 1 kali cuci maksimum kapasitasnya adalah 5kg, mencuci selama kurang lebih 1 jam. Eits, itu nyuci doang, ngeringinnya ada lagi mesinnya yang biru itu, dikenakan tarf juga 100 yen per pengeringan 30 menit dengan kapasitas max 5kg. Iya kalo kering, kalo habis nyuci masih basah, atau cuacanya lagi dingin atau hujan, ngeringinnya bisa 2x euy. Dan… ruangannya harus dijaga biar tetep kering, ga boleh becek >o<….

Sungguh kapitalis wahai mesin cuci ku kali ini, dibandingkan di Asrama IPB atau laundry sekitaran Bateng-Balebak.

_____ Ya, kita sekarang menuruni tangga ke lantai dasar. Terdapat 2 pintu yang melindungi asrama, yaitu pintu password dan pintu biasa. Saat kita keluar, kita tinggal memencet saja tombol buka pintu dan tada~ pintu bisa kebuka dalam waktu 1 menit, setelah itu autolock akan menyala dan pintu terkunci lagi. Setelah itu baru deh kita membuka pintu non-password yang cukup tinggal dorong dan bisa menikmati indahnya pemandangan luar asrama. “Itu kan kalo keluar, masuknya gmn?” Yaaa dibalik, dorong pintu non password, kemudian masukkan kode nomor kamar. Setelah itu mempelkan punggung tangan ke alat detektor dan memasukkan password (yang telah kita buat sebelumnya) dan lalu kembali menempelkan punggung tangan lagi. Pintu password akan terbuka kemudian selama 1 menit, horeee~.

Password
Pengaman pintu bersandi (source: personal snapshot)

_____ Di luar asrama, terdapat parkiran sepeda yang yaah… sangat sederhana, lengkap dengan sekelilingnya yang dipenuhi serasah daun berguguran, tidak diapa apakan, dibiarkan menumpuk saja. Di parkiran sepeda ini, kita bisa menjumpai sepeda para penghuni asrama, mulai dari sepeda baru, warisan, sampe sepeda bekas. Bahkan, sepeda mantan penghuni asrama yang dulu-dulu juga ada disini, yang kondisinya udah berkarat dan “pretel” nggak jelas. Ada juga sepeda buangan yang sengaja dipungut oleh orang agar ga perlu beli sepeda baru He He He~. Di sekeliling asrama lingkungannya cukup hijau dan asri, karena banyak pohon dan rerumputan. Mungkin memang dimaksudkan biar sealami mungkin lingkungannya sehingga tetep seger dilihatnya, nggak disemen atau diapa-apain.

Asrama luar 30
Pemandangan ketika buka pintu depan asrama (source: personal snapshot)

_____ Nah, bicara soal sesuatu di asrama, apalagi yang belum tersebut adalah ….. (*sfx: drumroll) jrengggg apa hayooo…. Yak, itu dia ruangan paling drama No.1 di asrama, sekaligus mungkin buat sebagian penghuni Ichinoya 6 dan 8. Apakah itu, mari kita simak cerita selanjutnya. Semoga bermanfaat dan menghibur \(^o^)/. 

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: