Fumidasou! 8 – Amakubo

_____ Kemarin rasanya ada yang hilang, karena tidak mengeksplor lebih lanjut kampus bagian barat. Nah di tanggal 28 September kemarin aku mencoba untuk keliling lebih dalam di kampus bagian barat, melewati daigaku kaikan. Di daerah daigaku kaikan rupanya ada University of Tsukuba full map, waaaw, aku jadi bisa lebih terarah berpetualangnya nihh. Oke, di daigaku kaikan terdapat pusat bahasa dan budaya, buat yang hobinya mempelajari bahasa dan budaya asing seperti Perancis, Jerman, Arab, termasuk Indonesia (Ada lho kelas Bahasa Indonesia di Tsukuba ternyata). Melewati daigaku kaikan dan menyusuri jalan sepeda, aku melihat gym pusat (tempatku langganan mandi gratis) yang tepat di sebelah fakultas 4 (kesehatan dan ilmu fisik) di sebelah kiriku dan gallery, fakultas 5 (seni rupa dan desain), dan fakultas 6 (kemanusiaan dan budaya) di sebelah kananku. Oh ya, terdapat pula gallery ASIAN GAMES 2018 kemarin lho yang di Jakarta, lengkap dengan koleksi medali dan peralatan atletnya karena sebagian berasal dari kampus ini.

Kampus ini terkenal dengan mahasiswanya yang jago olahraga, didukung dengan fasilitas kampus yang mumpuni serta pendanaan yang baik dari pihak universitasnya sendiri. Maka, tak heran bila banyak kejuaraan yang sering dimenangkan oleh mahasiswa kampus Tsukuba, baik tingkat Jepang maupun tingkat Internasional. 

Map full
Peta utuh University of Tsukuba dari ujung ke ujung (source: personal snapshot)

_____ Lanjut terus dan berkelok kelok, hingga sampailah aku di sepanjang wilayah yang bernama Amakubo (天久保), tepatnya Amakubo 2 Chome (天久保2丁目) atau sering disingkat Amani. Di Jepang, dalam 1 kota terdapat beberapa kecamatan, kelurahan, serta tingkat RW dan RT, sama kayak Indonesia lah. Nah, kalo dari pembacaannya ini, Amakubo adalah RW nya dan Chome (丁目) adalah RT nya, maka bisa dibilang kira kira seperti RW Amakubo RT 2, karena Amakubo ada 3 RT. Yaa… pendekatannya mungkin seperti itu kalo di Indonesia-kan kali ya, biar nggak bingung ini apa dan apa buatku.

Prasasti 20
Batu “prasasti” taman Amakubo (source: personal snapshot)

_____ Nah di Amakubo ini ada taman, sederhana sih dan nggak terlalu luas, tapi posisinya cukup sejalan dengan jalan raya, dan dipelihara dnegan baik sehingga tampak hijau, lengkap dengan mainan anak di tengahnya. Di kiri kanannya terdapat rumah warga, warung, dan restoran. 11/12 dengan di Indonesia lho suasananya. Karena ini bukan komplek perumahan swasta alias perumahan warga biasa yang sudah dibangun sejak lama, maka gak heran kalo kita masuk ke dalam perumahan warganya kita tidak menemukan trotoar, hanya sebatas garis putih di pinggir jalan kecil yang menandai bahu jalan.

Perosotan 20
Perosotan di bagian depan taman Amakubo yang menghadap jalan raya (source: personal snapshot)\

_____ Di dekat bagian belakang taman amakubo terdapat beberapa tempat makan, seperti kedai kopi, kedai ramen, serta beberapa restoran, termasuk restoran halal pula seperti Ali’s Kebab dan Chūka Dai’ichimen. Ali’s kebab merupakan restoran kebab yang terkenal se Tsukuba dan kota sekitarnya yang menjual kebab dan masakan ala Turki lainnya (untuk makan di restoran). Ali’s kebab ini tergolong agak mahal kalo buat kantong mahasiswa karena 1 kebabnya dibanderol dengan harga 550 yen (isi ayam) dan bisa lebih untuk varian lainnya. Namun, Ali’s kebab tak hanya dijumpai restorannya disini, tapi juga dapat dibeli di mobil kelilingnya (yang biasa mangkir di Tsukuba center, saat aku pertama kali datang ke Tsukuba).

Cicle tree 20
Arena tanaman merambat di bagian belakang taman amakubo yang menghadap rumah rumah warga (source: personal snapshot)

_____ Selain masakan ala Turki, ada pula Chūka Dai’ichimen yang menjual masakan Cina. “Hah, masakan Cina? gak salah tuh, kan biasanya mengandung babi atau arak?”. Eits, jangan berpikiran negatif dulu, karena konon empunya restoran merupakan orang Uyghur yang memang muslim dan membuka bisnisnya di Tsukuba dan restoran ini sudah tersertifikasi halal. “Wiiihh, boleh juga tuh, kayak gimana sih makanannya dan berapaan harganya? “. Hmm, untuk harga sih agak mahal, tapi jujur porsinya gueedeee banget dan ngenyangin, jadi bisa patungan dengan temannya ketika makan. Aku pun tertarik untuk mencobanya bersama Takuya di keesokan harinya. Sesuai namanya, Chūka berarti Masakan Tiongkok dan Dai’ichimen berarti ramen yang ke 1 (mungkin cabang pertama di Tsukuba, atau satu-satunya restoran Cina halal pertama di Tsukuba).

Chuuka Daiichi men 20
Menu yang terpampang di dinding restoran Chūka daiichi men (source: personal snapshot)

_____ Kami akhirnya duduk lesehan beralaskan bantal duduk dan kemudian memesan 1 menu yang seharga 550 yen, sebuah set menu yang terdiri dari nasi, acar lobak, agar agar khas Tiongkok, dan lauk yang berbeda-beda, tergantung pesennya apa. Kopi free flow dan air putih disediakan gratis di meja kasir, tinggal ambil ajah. Makanannya datang sekitar 10 menitan setelah dipesan, tidak terlalu lama sih. Kalau dari segi rasa sih menurutku oke aja, cukup kuat rasanya jika dibandingkan dengan masakan Jepang sehingga orang Indonesia yang makan pun nggak terlalu mengalami syok di lidah akibat perbedaan intensitas rasa. Tapi sayangnya, lauk ayam fillet dengan saus yang disajikan terlalu berminyak seperti gorengan menurutku, karena aku nggak suka makanan yang terlalu berminyak (gorengan aja suka gw tisu-in berkali kali biar kering dari minyak). Pudding dan acarnya pun pas, tidak terlalu manis maupun terlalu asam sehingga mungkin cocok untuk menetralkan rasa berminyaknya. Takuya sendiri memesan semacam masakan cah tahu saus hitam gitu yang rasanya mantaps, cuma sayangnya tetep agak berminyak bagiku 😦

Menu 1 20
Kiri: Ippan Teishoku / menu paketan umum. Kanan: Donburi Teishoku /menu paketan rice bowl (source: personal snapshot)
Menu 2 20
Kiri: Kakuyasu Teishoku / menu paketan versi murmer 550 yen. Kanan: Nabe Teishoku / menu paketan kuali (rebusan) (source: personal snapshot)
Menu 3 20
Chūka Dai’ichimen set menu combo sisi depan (source: personal snapshot)
Menu 4 20
Chūka Dai’ichimen set menu combo sisi belakang (source: personal snapshot)
Menu 5 20
Course meal restoran. Bisa buat makan rame-rame kalo ada pesta dll (soruce: personal snapshot

_____ Puas setelah makan siang, aku berjalan lagi ke arah pusat kota dan menemukan sebuah SMP di pertigaan Amakubo – Rumah Sakit Tsukuba. Ya, SMPN Azuma ini tepat terletak sangat strategis di sebelah rumah sakit, kampus Tsukuba, dan Taman Oikoshi. Saat ku melewatinya, tampak banyak siswa-siswi SMP yang baru saja pulang sekolah yang sedang menaiki sepedanya, mengenakan seragam hitam (untuk cowok) dan sailor (untuk cewek), seragam yang biasa dijumpai di SMP negeri di Jepang. Nggak ada yang naik mobil pribadi atau motor, pada jalan, naik sepeda, atau naik bis yang haltenya cuma beberapa langkah dari gerbang sekolah. Oh iya, dilarang foto-foto bocahnya tanpa seizin orangnya karena bisa berurusan dengan aparat jika orang tersebut mengadukannya ke polisi, (hati hati buat yang jalan-jalan atau belajar di Jepang karena aturan ini bisa rawan mencengkeram orang asing yang belum tau). SMPN 1 Azuma ini terletak di Amakubo 1 Chome yang sudah dekat banget dengan pusat kota Tsukuba. Meski dekat begitu, nggak banyak anak SMP keluyuran di Mall setelah pulang sekolah, apalagi saat jam sekolah. Karena Tsukuba itungannya masih agak “ndeso”, jadi banyak juga yang langsung pulang dan membantu kerjaan orang tuanya di toko, atau bertani.

SMP 1 Tsukuba 20
SMPN Azuma, Tsukuba tampak depan (source: personal snapshot)

_____ Oke, saatnya mengakhiri petualangan hari ini dengan melewati rute pulang yang lain. Ya, melewati bagian tengah kampus di taman Oikoshi, Rumah Sakit Tsukuba, dan Hirasuna. Aku pun menyeberang dari SMP nya ke trotoar Oikoshi dan menaiki tangga keatas jalan sepedanya. Selama jalan, tampak banyak penanda penanda jalan seperti patung tokoh dan tonggak arah yang terbuat dari batu. Semakin unik saja ya melihatnya karena dekorasi jalannya sangat cucok dengan sekelilingnya yang hijau dan mulai menguning/memerah.

Patung 20
Patung tokoh di sekitaran Rumah Sakit Tsukuba (source: personal snapshot)

_____ Sambil menyusuri trotoar berbatu, aku iseng-iseng menjepret pemandangan sekitar yang bikin adem ayem. Gimana nggak, pemandangannya yang asri padahal sebuah kota, lengkap dengan fasilitas untuk pejalan kaki yang baik. Selama berjalan balik, aku juga banyak melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang sedang berjalan jalan santai. Mungkin fasilitas pejalan kaki yang mumpuni ini juga dimaksudkan agar para lansia bisa berolahraga dengan aman tanpa terganggu kendaraan bermotor, mengingat jumlah lansia di Jepang sudah hampir mencapai 1/3 populasinya. Gak cuma lansia, anak-anak kecil pun akan merasa aman jalan di trotoar, apalagi yang “pencila’an” kesana kemari. Cuma sayangnya adalah, sepanjang jalan ini minim sekali penerangannya, bahkan jumlah lampu jalan bisa dihitung jari untuk jalan yang sepanjang ini dan dikelilingi pohon lebat.

Pohon yang menggugurkan daunnya hanyalah bentuk adaptasi menghadapi musim dingin. Orang yang menggugurkan air matanya hanyalah bentuk adapatasi menghadapi musim sulitnya. Kita semua tahu musim dingin tidak berlangsung sepanjang tahun”

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: