Fumidasou! 19 – Jishin x Jishin

_____ Sesuai dengan rencana kemarin, aku dan Fedi akan ikut Arai-san menggalang dana di kegiatan bakti sosial. Minggu, sehari setelah acara welcome party PPI, aku bangun lebih awal agar tidak telat. Karena Arai-san akan datang menjemput di halte ichicom pukul 07.00, maka aku harus bangun jam 5, atau lewat dikit mungkin gak apa apa sebenarnya hehehe. Setelah menjalankan rutinitas pagi, saku ke pergi ke dapur untuk memasak apa yang kubeli kemarin di Kasumi, yaituuuu UDON!

Notice 20
Poster donasi untuk Palu, Indonesia (source: personal snapshot)

_____ MEVVAH BANGET YAAA SARAPANNYA :v….Manee~ mewah. Harga udon per bungkusnya (tanpa bumbu) di Jepang hanyalah 30 yen (seukuran bungkus mie instan di Indonesia, tapi lebih berat). Begitu pula dengan soba dan ramen, harganya per bungkus hanya 30 yen. Eits…. tapi aku tidak bisa membeli ramen bungkusan ataupun cup men di Jepang karena ramen umumnya mengandung babi atau zat turunannya, kecuali memang dinyatakan halal. Jadi, solusi ku kemarin ya beli udon atau soba aja, dan pilihanku jatuh kepada udon karena sepertinya udon terlihat lebih mengenyangkan. Untuk kuahnya, aku menggunakan bumbu kare. Curry roux yang paling aman menurutku (dan disarankan oleh Bu Arsita dari PPI) adalah yang mereknya DAISO, yang dapat dibeli di outlet DAISO dengan harga 100 yen per pak (untuk 8 kali masak). Hal tersebut karena kare merk DAISO tersebut hanya memiliki alergen berupa kedelai dan gandum, tidak terdapat gelatin atau babi, sehingga InsyaAllah lebih meyakinkan buatku.

_____ Udonnya aku lengkapi dengan telur dan sayur. Harga telur di Jepang sangatlah murah, mungkin setara dengan Indonesia, yaitu hanya 100 yen untuk 1 pak berisi 10 butir. Sayur yang kupakai hanyalah sayur dari hasil panen dengan Pak Nobuyuki. Sehingga untuk 1 mangkok kare udon dengan telur dan sayur HARGANYA HANYA SEKITAR 55 YEN, ALIAS 7000 RUPIAH. Murahhh kan! Sarapanku juga dilengkapi dengan susu pasteurisasi rendah lemak yang harganya gak kalah murah, yaitu hanya 100 yen per 1 karton (1 liter, bisa untuk 3-4 gelas). Sehingga kalau ditotal pun tidak sampai 100 yen untuk sarapan.

Biaya untuk hidup di Jepang sebenarnya tergolong murah, bahkan bisa hampir setara dengan di Indonesia.

udon-saarapan-20.jpg
Kare udon dengan telur dan sayur (source: personal snapshot)

_____ Pukul 07.00, aku keluar dari asrama dan menuju halte bus. Disana, Arai-san sudah datang dengan mobilnya, beserta kak Ridho yang sepertinya bareng dengan Arai-san. Aku pun kemudian menelpon Fedi untuk bergegas ke halte, dan taddaaa… dia datang tak lama setelahnya. Kami semua masuk ke mobil Arai-san dan cusss… menuju ibukota provinsi Ibaraki, yaitu kota “pintu air” atau Mito (水戸). Perjalanan menuju Mito pun lancar jaya, dari jalan biasa hingga jalan tol nya. Perjalanan berlangsung kurang lebih hanya 1 jam.

Rute
Rute dari Tsukuba – Mito (source: Google maps)

_____ Selama perjalanan, Arai-san bercerita kalo kemarin malam, setelah acara PPI, badainya bener-bener parah dan mungkin puncaknya adalah hari minggu malamnya. Badainya bukan cuma kencang, tapi juga membawa air laut sehingga hujannya cenderung asin. Nah kata beliau, badai yang begitu sering terjadi di musim gugur sama musim semi, dan kalo sampai membawa air laut, siap siap tanaman bisa layu sebelum waktunya. Jadi masa-masa melihat sakura (di musim semi) atau melihat dedaunan merah kuning (di musim gugur) akan berkurang drastis. Belum lagi kalau mengenai perkebunan atau sawah, dampaknya adalah penurunan kualitas produksi yang tentunya bahaya juga buat petani. Wahh.. ternyata Jepang seram juga ya badainya.

_____ Selama perjalanan, kami hanya turun sekali di rest area tol menuju Mito. Kak Ridho tampak asik sekali ngobrol dengan Arai-san karena emang lancar puoll. Kak Ridho sendiri adalah mahasiswa S2 sastra Jepang yang S1 nya juga sastra Jepang, jadi mungkin wajar kali ya buat dia kalau sejago itu. Aku dan Fedi hanya ngegosipin kampus masing masing di kursi belakang, lengkap dengan perjalanan AIMS nya. Sesampainya di Mito, Arai-san langsung mencari parkir di parkiran depan stasiun agar tidak terlalu jauh. Aksi menggalang dana dilakukan di pintu selatan stasiun Mito (水戸駅南口 – Mito Eki Minami Guchi), stasiun terbesar di Mito (yang ukurannya udah kayak mall). Stasiunnya saking besarnya sampai punya 5 lantai, dimana lantai 3-5 berisi pusat perbelanjaan, lantai 2 berisi tempat belanja, bioskop, dan stasiun, sedangkan lantai 1 berisi terminal bis, rel kereta, dan tempat belanja.

_____ Kami tiba di lantai 2 pintu selatan stasiun pukul 08.30, dan kami terlebih dahulu bersiap siap mengenakan atribut penggalang dana. Di Jepang, untuk melaksanakan kegiatan bakti sosial meminta sumbangan seperti ini memerlukan izin dari pemerintah setempat lho, dan juga izin dari lokasi terkait (pihak manajemen stasiun), jadi ngga bisa sembarangan minta sumbangan. Belum lagi, untuk menggalang dana juga diperlukan proposal kegiatan, lengkap dengan tujuannya, penjelasan mengenai lokasi spesifiknya, dan durasinya, udah kayak proposal acara BEM/Himpro ya~. Hal tersebut dimaksudkan agar menghindari hal-hal yang tidak bertanggung jawab seperti penipuan, kejahatan terhadap masyarakat sekitar, ataupun terhadap penyelenggara bakti sosial itu sendiri. Awalnya, kami diberi arahan detail teknis terkait kegiatan penggalangan dana. Kemudian kami diminta untuk mengenakan sabuk penanda dan bendera hijau, tanda bahwa sedang ada kegiatan sosial.

Merah Putih Mito 20
Siap berjuang untuk Indonesia ! (source: personal gallery, taken by Fedi)

_____ Setelah semua anggota datang dan mengenakan atribut, kami dibagi menjadi 5 kelompok yang tersebar di sekitaran pintu selatan stasiun lantai 2, tempat berlalu lalangnya orang orang. Tak lupa, kami diberikan briefing agar teriakannya 1 suara. Setelah pukul 9, barulah kita bergerak ke pos masing masing dan berteriak “インドネシアの地震義援金お願いします!”. Indonesia no jishin gienkin onegaishimasu, atau mohon donasinya untuk gempa bumi di Indonesia. Posku adalah dekat dengan dengan lift dan eskalator menuju pedestrian lantai 2, sehingga banyak orang yang berlalu lalang. Apalagi dengan suara TOA aku dan 3 mbak-mbak Indonesia dan Jepang di pos, dijamin membuat semua yang ingin naik turun eskalator dan lift mendengar wkwkkw…

_____ Selama menggalang dana, kami menerima banyak respon dari orang yang berlalu lalang. Ada yang acuh berjalan terus, ada yang melihat kami tapi tidak menyumbang, ada yang menyumbang, ada yang bahkan menyumbang dan ngobrol juga. Bahkan ada juga orang bule yang tiba tiba ikut menyumbang dalam jumlah nominal yang cukup besar, “ooh Indonesia, i’ve been there around years ago to work and it’s amazin’. Hopefully, the disaster damage could be recovered ASAP”. Ada juga keluarga yang membawa anak kecilnya yang kebetulan lewat dan disuruh anaknya yang memasukkan uangnya. Waaah lucu dan bagus banget, masih kecil udah diajarin buat berani nyumbang sama orang tuanya. Mereka yakin-yakin aja kalo emang ada kegiatan donasi, itu akan digunakan sepenuhnya untuk yang berkepentingan, jadi ga perlu takut untuk disalahgunakan karena memang sudah ada MOU dari otoritas yang bersangkutan. Beberapa dari penyumbang ada yang tahu Indonesia, ada yang pernah ke Indonesia juga, dan ada pula yang belum tahu Indonesia. Nahh, untuk yang belum tahu Indonesia, kami jelaskan kalau Indonesia itu juga sejenis dengan Jepang, sama sama negara kepulauan di Asia yang sering kena bencana.

_____ Pukul 12 siang, waktunya mengakhiri kegiatan penggalangan dana karena di proposalnya hanya tertulis bahwa penggalangan dana akan berlangsung dari pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang. Kami pun berkumpul di dekat pintu masuk stasiun dan melepas atribut, serta membereskan perlengkapan donasi. Rencananya, masih akan diadakan penggalangan dana sampai bulan Desember mendatang di beberapa titik di Jepang. Donasi juga bisa dilakukan dengan mentransfer via ATM bank yang tertera di poster.

Donasi Palu 1
Segenap rekan-rekan tim donasi untuk Palu di Stasiun Mito (source: Arai’s collection)

_____ Seusai membereskan perlengkapan, kami ber 4 kemdian menuju lantai 1 pedestrian stasiun dan dibelikan minuman oleh Arai-san sebelum masuk ke mobil. Kami kemudian berjalan ke parkiran dan kembali ke Tsukuba. Saat sampai tol, kami ditanyai oleh Arai-san, “mau makan dimana nih pada?”. Ehhhhhhhhh, ngga usah repot-repot Arai-san, jawab kami. Ohh, rupanya Arai-san memang berniat mentraktir kami karena sudah mau datang membantu di hari Minggu pagi-pagi, apalagi di hari-hari badai seperti ini. Kemudian kak Ridho menyarankan ke Coco’s Restaurant (bukan Coco Ichibanya Curry ya), karena di restoran itu harganya cukup terjangkau dan menunya seafood. Selain itu arahnya sejalan dengan jalan pulang Arai-san. Kami pun akhirnya pergi kesana, dan makan siang disana. Alhamdulillah~

_____ Singkat cerita, malam harinya aku dikirimi Arai-san foto-fotonya saat kegiatan tadi siang. Beliau juga mengatakan terima kasih sudah berpartisipasi, hasil donasi tadi siang juga sudah direkapitulasi oleh rekan-rekan. Kata beliau, hasil donasi yang diperoleh tadi siang berjumlah sekitar 65.000 yen (sekitar 8 juta rupiah). Waah, Alhamdulillah, semoga bermanfaat buat yang membutuhkan.

install-e1570533456468.png
Aplikasi yang bermanfaat untuk memberitahu cuaca dan bencana di Jepang (source: Google play store)
tenki.png
Tampilan home dari Tenki.Jp (source: tenki.jp)
deck-menu.png
App drawer dari Tenki.Jp, menampilkan menu yang dibutuhkan, mulai dari cuaca, bencana, sampai berbagai indeks (source: tenki.jp)

_____ Oh iya, mengenai gempa, ada baiknya menginstall aplikasi Tenki.JP di ponsel, semacam aplikasi BMKG gitu, yang menginformasikan cuaca (天気 – Tenki = cuaca), bencana, serta kondisi lainnya seperti paparan sinar UV, derajat menjemur, polusi, indeks berolahraga, dll. Jadi, bisa lebih siaga dengan cuaca dan bencana di Jepang, bahkan kalo mau jemur pakaian atau bersepeda bisa dilihat apakah indeks cuaca hari tersebut baik atau tidak. APLIKASI INI FULL BERBAHASA JEPANG, TIDAK ADA BAHASA INGGRISNYA APALAGI BAHASA INDONESIA SAMA SEKALI, jadi siapkan aplikasi penerjemah anda, hehe. Aplikasi ini juga gratis kok, ngga ada premium versionnya, atau in-app purchase nya, jadi bisa digunakan siapa saja.

_____ Bicara soal gempa di Jepang, selama 2 minggu ini aku sudah merasakan gempa 3 kali. Yang terakhir adalah hari Jumat kemarin dan paling besar karena aku pikir kulkas dan seisi kamar bergetar karena aku menendang pintu kulkas terlalu keras, rupanya memang ada gempa berskala 5,5. Herannya, asrama tenang-tenang aja, nggak ada heboh atau jerit-jeritnya, hanya mati lampu saja sementara. Dan berdasarkan aplikasinya, ternyata Jepang memang mengalami gempa tiap hari, cuma beda provinsinya aja, mulai dari skala 1-4 yang paling sering, 5 kadang-kadang, dan 6 keatas yang jarang (dan biasanya ada peringatannya).

“Jangan sampai jishin menggetarkan jishin mu”

*地震 = Jishin = Gempa bumi – 自信 = Jishin = Kepercayaan diri

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: