Fumidasou! 23 – Gunung Tsukuba

_____ Sesampainya kami di Tsukuba Rin-Rin Road rest area, kami beristirahat sebentar lagi. Terdapat toilet umum juga disini serta pompa sepeda. Namun, jangan harap bahwa toiletnya sebersih toilet kampus, atau se modern toilet mall, ini toiletnya biasa saja. Hanya bilik biasa yang kering, tak ada gayung dan ember maupun shower pembilas mini, hanya tersedia tisu gulung dan toilet duduk yang tidka terlalu bersih. Selain itu ada juga uriner berdiri dan wastafel yang biasa saja. Yang bikin bingung adalah, kenapa tempatnya masih terbilang cukup bersih (6/10 lah), tidak ada becekan maupun noda-noda kotor di toilet. Selain itu, fasilitasnya termasuk terawat dan tidak bau, meskipun usang dan agak kotor.

_____ Dari rest area tersebut, kami tinggal sedikit lagi sampai di spot pendakian gunung Tsukuba. Tetapi jalanan semakin curam dan menanjak, semakin sulit untuk mengayuh sepeda, apalagi sepeda seperti yang kugunakan, tidak ada pengatur gigi dan memang bukan dirancang untuk jalanan mendaki dari sananya. Tapi, semangatku nggak padam tertiup angin dingin Tsukuba, aku masih terus mengayuh perlahan lahan, tidak turun dan menenteng sepedanya. Bahkan Pak Yuli dan Izhar kaget melihat aku bisa mengayuh seperti itu hehehe.

iya sih 20-30 menitan di peta, kalo jalan. Masalahnya ini sambil ngayuh sepeda bung! Jalanan securam ini bisa makan waktu lebih

rute

_____ Eitsss… tunggu dulu, setelah mengayuh selama sekitar 20 menitan, kami menemukan pembatas jalan bertuliskan seperti dibawah (工事案内 kōji annai – pemberitahuan konstruksi). Wadaw, ada perbaikan saluran air di daerah sini, sehingga jalan harus memutar, mengikuti rute yang diwarnai abu-abu karena rute yang diberi warna merah sedang ada perbaikan. Hilihhh, makin jauh aja ini menggowesnya. Belum lagi, jalanan semakin curam dan sempit, tidak ada konbini (minimarket semacam Lawson, 7-11, Family mart) di daerah sini, dan hanya ada rumah-rumah warga. Sesekali, kami menemui mesin penjual otomatis, tapi sayangnya tidak ada minuman yang disukai dan harganya muahhaall.

roadworks-20.jpg
Papan penanda adanya konstruksi perbaikan saluran air, Lokasi saat ini : yang diberi tanda pink (現在地 – genzaichi) (source: personal snapshot)

_____ Kami pun berbelok ke kanan dan menyusuri jalan yang akhirnya datar juga, tapi cukup mengerikan karena jalannya terletak di tebing. Sebelah kanan kami adalah hutan dengan pepohonan yang dsangat tinggi, sehingga kalau jatuh, akan sulit menolongnya karena terperosok jauh. Sebelah kiri kami juga hutan di sisi tebing, meskipun sesekali ditemui rumah warga (kayaknya villa punya orang) yang tidak ditempati. Jalanannya pun berkelok kelok, tidak semulus lurus seperti di peta (petanya hoax?). Setelah menggowes berkelok kelok, kami akhirnya sampai di sebuah torii abu abu (鳥居- Torii – Gerbang kuil shinto). Rasanya lega juga, akhirnya sampai di sebuah spot untuk beristirahat sejenak. Kami pun membuka bekal dan beristirahat di ayunan kecil tak jauh dari torii.

Setengah jalan 20
Torii abu-abu, pertanda kami sudah memasuki lingkar luar kuil Tsukuba dan tempat pendakian gunung Tsukuba (source: personal gallery, taken by Izhar)

_____ Saat makan, tiba tiba ada 3 orang yang sedang bersepeda menghampiri kami dan mengajak berbicara. Dan wow, ternyata orang yang tampak seperti orang Jepang tersebut bisa bicara Bahasa Inggris dengan baik. Rupanya, orang tersebut adalah mahasiswa pascasarjana dari Malaysia, yang emang lagi sepedaan kemari. Ia pun megobrol-ngobrol dengan Pak Yuli selama 10 menit di sisi lain ayunan. Setelahnya, ia pergi meninggalkan kami, melanjutkan sepedaannya dengan temannya. “Kenapa pak katanya?” tanyaku. “Oooh enggak, tadi dia nanya nanya gitu arahnya kemana. Trus sama bilang kalo kamu kuat juga sepedaan ke gunung begini pake sepeda gituan” katanya. Waduhh, kenapa tuh om-om Malaysia, gw mesti seneng atau sedih nih~. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi, karena Pak Yuli sorenya harus pergi ke suatu tempat.

_____ Menggowes lagi, lagi, dan lagi. Iyak, sampai akhirnya kami menemukan tebing yang ada tempat duduknya untuk kami bersantai dan makan siang. “Mal, Zar, kita makan siang disini aja. Trus sholat baru cabut balik. Aku mesti pergi sorenya soalnya”, kata Pak Yuli. “Oh iya pak, santai aja!” kata Izhar. “Duduk di tepian tebingnya situ pak?” tanyaku. “Iya, situ aja, sambil ngadem, ngaso dulu”, balasnya. Akhirnya kami pun bersantai di tepian tebing, menghadap kota Tsukuba. Wahh, pemandangannya bagus lho. Tapi kata Pak Yuli lebih bagus lagi kalau nanti udah November, ketika semuanya udah kuning dan merah.

Kuil hutan 20
Tangga menuju kuil (source: personal snapshot)

_____ Okee, selesai makan dan sholat zuhur, kami bersepeda ke arah sebaliknya agar Pak Yuli bisa sampai di kampus Tsukuba tepat waktu sehingga bisa mengurus keperluannya. Tapi, saat sampai di perempatan torii abu-abu tadi, kami memilih untuk berbelok kiri, melewati jalan yang curam karena sepertinya lebih cepat sampai dan tidak banyak muter-muter seperti sebelumnya. Okedeh kami ikutin aja insting kami dan waw, jalanannya benar benar curam. Terlebih lagi, jalanannya dipenuhi oleh pepohonan, berbeda dengan rute sebelumnya yang dipenuhi oleh rumah warga di kiri-kanannya. SEMRIWIING~ itulah yang kami rasakan ketika meengayuh sepeda menembus deru angin yang melewati pepohonan. Hingga kami terhenti pada suatu tempat, yaitu kuil jinja.

Kuil tua 20
Kuil Iina (飯名神社 – Iina Jinja) (source: personal snapshot)
Kuil hutan close
Pintu masuk kuil, tapi tutup (source: personal snapshot)

_____ Kami pun berhenti sejenak di kuil ini, dan karena sepi jadi kami sempat berfoto-foto sebentar di kuil ini. Nama kuil ini ternyata adalah kuil Iina, yang kalau diartikan kira-kira berarti kuil nama nasi. Kuilnya tidak terlalu besar, namun karena ini pertama kali aku melihat kuil ala Jepang di tengah hutan seperti di film-film, maka aku pun agak terkejut saat melihatnya. Di Jepang, terdapat 2 jenis kuil, yaitu Jinja (神社) dan Otera (お寺). Jinja digunakan sebagai tempat ibadah penganut Shinto dan ditulis sebagai Shrine, sedangkan Otera (atau tera) digunakan sebagai tempat ibadah penganut Buddha dan ditulis sebagai Temple.

_____ Okeey, setelah selesai berfoto, kami terus menuruni jalan. Terus menyerempetkan alas kaki ke jalan agar tidak “terjungkal” karena sepeda menuruni turunan yang curam. Setelah melewati komplek pepohonan lebat tersebut, kami sampai di daerah yang dipenuhi oleh rumah warga kembali. Yokatta~ sudah mulai dekat sepertinya dengan Rin-Rin Road. Dan benar, tak lama kemudian kami sampai di jalanan yang mulai mendatar. Di kejauhan, tampak rest area Tsukuba Rin-Rin Road. Nahh… Petualangan gunung Tsukuba-pun berakhir untuk hari ini. Semoga aku bisa kesini lagi suatu saat, きっと~

Adakah yang menjual semacam counterpain di Jepang?”

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: