Fumidasou! 24 – Kangen Indonesia?

_____ Sebagai mahasiswa rantau ke negeri yang jauh, pasti kita bakalan kangen dong dengan masakan tanah air. Mungkin kalau yang berada di daerah ASEAN, terutama Malaysia, Singapore, Brunei, mungkin gak akan terlalu kangen karena masakannya memiliki citarasa yang agak mirip dengan masakan Indonesia. Belum lagi banyaknya orang Indonesia yang tinggal disana (di Malaysia saja terdapat 2 juta lebih orang Indonesia). Tapi, gimana kalo kita lebih ke utara lagi, ke Jepang contohnya, dimana hanya sekitar 50.000 orang Indonesia diantara 126 juta orang Jepang, tersebar di berbagai pulau yang membentang dari Okinawa di selatan higga Hokkaido di utara. Hmm…. gimana yah kita melepas rasa rindu ini? #ciee

_____ Eits, tenang aja, karena di Jepang banyak terdapat restoran khas Indonesia, terutama di kota-kota besar, baik yang dimiliki oleh orang Indonesia sendiri, maupun yang dikelola oleh orang Jepangnya langsung. Tak hanya itu, toko-toko yang menjual produk asal Indonesia pun bisa ditemui di negeri mentari terbit ini. Sebagai contohnya di Tsukuba, terdapat sekitar 300 orang Indonesia (lihat Fumidasou! 18). Bahkan, makanan asal Indonesia dan ala Indonesia pun bisa ditemui di Tsukuba. Nggak percaya? Yuk kita selidiki!

1.) Mansai Bussan

mansai-bussan-20.jpg
“Mansai Bussan Konbini”, menjual berbagai produk dari berbagai negara (source: personal snapshot)

_____ Toko ini terletak paling dekat dengan kampus, tidak jauh dari jembatan daigaku kaikan (jembatan sentral-selatan), serta tidak jauh dari perempatan matsuya. Penjualnya adalah sepasang suami-istri orang Tiongkok. Kelebihan toko ini adalah jaraknya yang terjangkau serta pilihan barangnya yang beragam, mulai dari bumbu khas Indonesia, sampai minuman pun ada, begitu juga dengan mie kesayangan anak kosan hehehe. Sayangnya penjualnya kurang bisa Bahasa Inggris dan harganya sekitar 10-20% lebih mahal dari koperasi masjid. Eitss tapi tenang aja, kita nggak harus ngomong dengan mereka menggunakan bahasa mandarin kok, kita cukup bicara aja pake Bahasa Jepang karena penjualnya pun ngerti. Selain itu, jam buka toko ini sangat panjaaaaang, mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 10 malam sehingga bisa menjadi alternatif dikala ngidam makanan Indonesia tapi nggak sempat ke masjid (karena toko masjid hanya buka setelah jumatan dan habis isya).

mansaibussan
Rute dari Ichinoya – Mansai Bussan (source: Google Maps)

_____ Berdasarkan Google Maps, jaraknya dari asrama Ichinoya hanya sekitar 20 menit berjalan, atau bisa sekitar 10 menit menggunakan sepeda. Karena namanya tidak terdeteksi di peta, aku letakkan pin merahnya di apa-to (kos kosan) di belakangnya, yaitu Hi Valley. Letaknya tidak menghadap jalan raya hiratsuka, namun bisa dengan mudah diketahui ketika kita berbelok di perempatannya. Untuk sampai toko, bisa menempuh jalan dalam kampus daigaku-chūo ataupun lewat jalan menuju perempatan matsuya. Aku pun pertama kali menemukan toko ini bersama Mizan, ketika kami ingin membeli ayam di koperasi masjid setelah Isya namun terlambat sampai kesana. Alhasi, Mas Eri yang kebetulan sedang ada di masjid memberitahuku untuk ke toko ini dan akhirnya ketemu juga.

Bumbu Indonesia 20
Beberapa barang yang dijual di Mansai Bussan (source: personal snapshot)

_____ Bisa dilihat dari gambar, bahwa toko ini menjual banyak sekali bumbu-bumbu khas Indonesia. Tak hanya itu, ada juga saus sambal dan kecap A*C, Ind**ie, Teh b**ol, dan berbagai produk lainnya. Selain itu, produk asal Tiongkok, Taiwan, Korea, dan Singapura juga ada disini. Tentu saja harganya lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Bahan makanan halal seperti ayam, daging, dan tempe pun juga tersedia disini. Tapi perlu diingat bahwa bumbu dan mie yang dijual disini, ataupun yang dijual di banyak tempat di Jepang merupakan versi Asia Timur (atau ada juga yang memang versi Jepangnya) sehingga rasanya tidak sekuat yang di Indonesia.

Apa mungkin micinnya dikurangin??? who knows…. wkwkwkk

(+) = Dekat, lengkap

(-) = Harga agak mahal, penjualnya hanya bisa berbahasa Jepang dan Mandarin

Kesimpulan: Pilihan utama kalo nggak sempat beli di koperasi masjid karena ramai atau ada kelas setelah jumatan, alternatif kalau koperasi masjid tidak buka, tempat yang lengkap untuk membeli bumbu khas Indonesia.

2.) Koperasi Masjid Tsukuba

Notif 20
Poster notifikasi koperasi masjid (source: personal snapshot)

_____ Kalau di koperasi masjid, jumlah makanan khas Indonesia yang dijualnya lebih sedikit karena memang ukuran tokonya yang lebih kecil. Beberapa produk Indonesia yang dijual disini adalah sambal * b***bis, kecap b**go, dan mie s***ap, sedikit variasi dari mansai bussan. Kelebihannya di koperasi masjid adalah harganya yang lebih murah hingga 20% dibandingkan mansai bussan serta kita tidak kena pajak 8%, jadi lebih hemat gituu.. Kekurangannya adalah, jam bukanya yang sangat spesifik, yaitu setelah jumatan dan sholat isya saja. Selain itu ukuran toko yang kecil dan pembeli yang banyak seringkali membuat riewuh saat membeli.

majid front view
Bangunan masjid tampak depan (cat merah) beserta koperasinya yang terpisah (cat kuning-putih) (source: Google Maps)
Rute
Rute dari Ichinoya ke Koperasi Masjid Tsukuba (source: personal snapshot)

_____ Jarak antara asrama dengan koperasi masjidnya bukan menjadi masalah, karena sebenarnya tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jika bersepeda, maka hanya akan memakan waktu sekitar 10-15 menitan saja sekali jalan. Kita juga sekalian menyumbang juga untuk pembangunan masjid Tsukuba kalo kita beli disini.

webp.net-resizeimage.jpg
Sambal yang dibeli di masjid (source: personal snapshot)

(+) = Murah, sekalian beramal untuk pembangunan masjid

(-) = Jam buka terlalu spesifik, penuh sesak jika ramai karena ukuran toko kecil

Kesimpulan: Pilihan utama kalo rutin nyetok mingguan tiap jumatan dan tidak ada kelas setelah jumatan, alternatif kalo lagi akhir bulan dan butuh belanja yang lebih murah

3.) Gyōmu Super

front view
Gyōmu Super cabang Tsukuba tampak depan (source: Google Maps)
gyoumu super
Rute dari Ichinoya menuju Gyōmu Super – Asumsi menggunakan mobil (source: Google Maps)

_____ Gyōmu Super merupakan supermarket khas Jepang yang sudah membuka cabangnya di berbagai tempat di Jepang. Barang-barang yang dijualnya pun lengkap, namun umumnya berupa bahan makanan dan kebutuhan memasak. Gyōmu sendiri berasal dari 業 (Gyō, gō) yang berarti  bisnis dan 務 (Tsutomeru / Mu) yang berarti kerjaan atau tugas serta スーパー (Su-pa- yang berarti supermarket). Berdasarkan namanya, supermarket ini mungkin ditujukan untuk pengusaha/ pebisnis, baik itu UKM ataupun pembeli dalam jumlah yang agak banyak dibandingkan supermarket biasa. Makanya disini kita bisa menemukan banyak produk yang dijual dalam bentuk bulk atau ukuran besar, seperti lemak, minyak, beras, air mineral, dan daging-dagingan.

Tambahin “hujan” udah jadi bisnis “kabut” supermarketnya 😀

_____ Disini variasi barang-barang yang dijual sangat lengkap layaknya supermarket yang memang khusus menjual bahan makanan dan peralatan dapur. Barang-barang impor pun mudah ditemui disini, termasuk makanan halal dari berbagai Negara. Sejauh ini, aku belum menemukan produk Indonesia di supermarket ini, paling-paling yang mendekati adalah sambal sriracha dan sambal bangkok khas Thailand. Selain itu ada snack dari Vietnam juga yang pasti mengingatkan kita pada biskuit Ma**e R***al dan R**z. Produk produk dari Thailand dan Vietnam tersebut juga sudah bersertifikasi halal dari lembaga semacam MUI di negaranya, jadi gak perlu khawatir. Rasa produknya mungkin agak berbeda dengan yang di Indonesia, tapi lumayan lho buat pereda rasa kangen, produk negara tetangga ini hehehe.

Sriracha
Sambal pedas ala Thailand (source: personal snapshot)
Roundy 20
Biskuit keju dari Vietnam (source: personal snapshot)
Fine Bear 20
Biskuit marie dari Vietnam (source: personal snapshot)

(+) = Harga agak murah, pilihan sangat lengkap

(-) = Belum banyak produk asal Indonesia-nya (untuk cabang Tsukuba, gatau kalo cabang lain), jaraknya jauh banget

Kesimpulan: Pilihan utama buat yang mau nyetok bahan-bahan dalam jumlah besar, alternatif kalo benda yang dicari nggak ada di kedua toko sebelumnya

4.) Warung Indonesia Daring

_____ Karena aku belum pernah beli disini, jadi aku tidak tahu bagaimana kondisi produknya maupun pelayanannya. Tapi berdasarkan testimoni orang yang pernah beli disini, produknya cukup baik, bisa diantarkan sampai ke tempat tinggal yang diinginkan, dan pelayanannya baik karena beberapa dari pengelolanya bisa ditemui ketika sholat jumat di masjid Tsukuba atau kumpul-kumpul PPI Ibaraki. Jangan khawatir, pengelolanya orang Indonesia semua kok, jadi ga perlu repot-repot berbahasa Inggris maupun Jepang. Kelebihan lainnya adalah bahwa web ini juga menjual berbagai smartphone asal Jepang (Android dan IPhone), serta jasa unlock hapenya juga (buat yang beli hp Jepang tapi ingin diisi SIM card asal Indonesia atau negara lain).

Link : https://warunghalal-indonesia.com/kontak-kami/

5.) Toko Daring Jepang

_____ Jepang juga memiliki marketplace online-nya lho,namanya adalah Mercari dan Rakuten. Tapi, aku hanya pernah beli buku komik Bahasa Jepang di Amazon Jepang dan pelayanannya sangat bagus. Barang tiba dengan tepat waktu dan UI website-nya mudah digunakan. Semua web diatas hanya tertulis dalam Bahasa Jepang, namun Amazon dan Rakuten memiliki versi global marketnya yang menggunakan Bahasa Inggris, jadi tenang saja!

Amazon =  https://www.amazon.co.jp/

Mercari = https://www.mercari.com/jp/

Rakuten = https://www.rakuten.co.jp/

6.) Restoran “Warung Indonesia”

_____ Nah kalo yang satu ini bukan tempat belanja, melainkan restoran. Iya, restoran makanan Indonesia yang ada di Tsukuba. Biasanya di Tsukuba, kita hanya menemui restoran asing seperti restoran India (Jewel of India, New Mira), restoran timur tengah (Ali’s Kebab), restoran Tiongkok (Chūka daiichi men), ataupun restoran Vietnam (Dr.Pho). Tapi rupanya setelah berkeliling keliling aku melihat restoran Indonesia juga di daerah Amakubo 2 chome. Pemiliknya adalah orang Jepang yang lama tinggal di Indonesia sehingga pastinya rasa yang ditawarkan di restoran ini sudah disesuaikan dengan lidah orang Jepang. Bicara soal rasa dan harganya… Hmm… aku belum tahu karena aku belum pernah makan di dalamnya hahaha. Karena aku belum kangen dengan masakan Indonesia dan terkadang saat kumpul PPI ada masakan Indonesia sehingga mengobati rasa kangenku.

Warung Indonesia 20
Restoran “Warung Indonesia” tampak depan (source: personal snapshot)

6.) Bonus Plus dari Kerabat

_____ Syukurlah, beberapa waktu yang lalu orang tua Adrian, salah satu mahasiswa Fisipol UGM yang exchange ke Tsukuba bersama Emmanuel “Noel” didatangi oleh orang tuanya di Jepang. Orang tuanya membawakan beberapa makanan Indonesia dan mengajaknya bertamasya ke berbagai tempat di Jepang. Sekembalinya dari tamasya, ketika di asrama, Adrian pun membagikan ke kami beberapa makanan Indonesia yang dibawakan oleh orang tuanya kepadaku dan Noel. Wiiihhhh… makasih banyak 😀

gudeg-20-1.jpg
Gudeg kaleng dari Adrian (source: personal snapshot)

Di Tsukuba, dijamin susah kangen dengan Indonesia. Karena suasananya yang homey banget, plus banyaknya kegiatan dari PPI sehingga membuatku betah hehehe”

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: