Fumidasou! 28 – Festival Sohōsai

_____ Aaah, minggu pertama bulan November kini diwarnai dengan adanya pentas seni, atau akrab disebut Sohōsai (蘇峰祭). Acara ini diselenggarakan oleh “BEM” nya kampus Tsukuba sebagai panitianya dan disponsori oleh beberapa pihak lain seperti perusahaan maupun dinas setempat. Acaranya berlangsung selama 2 hari, yaitu 3 dan 4 November, bertempat di kampus bagian pusat (Ishi no hiroba), menjalar ke depan perpustakaan, pelataran kolam matsumi, daigaku kaikan, hingga wilayah fakultas 5 (kesenian). Acaranya berupa pameran, ajang penampilan seni dan UKM, serta bazaar. Tak cuma siswa lokal aja yang berpartisipasi, namun kelompok mahasiswa asing pun ikut meramaikan membuka stand dan menampilkan kebolehannya, termasuk Indonesia.

Menatap Langit 20
Mumpung jalan kampus lagi sepi (source: personal collection, taken by: Emmanuel Pradipta)

_____ Kami dari Indonesia pun mengadakan polling di grup PPI untuk mencari siapa yang bersedia menjadi volunteer jaga stand, memasak, promosi, dll karena sebagian sedang bersiap siap untuk tampil di panggung kolam matsumi. Ya, rencananya Indonesia akan membawakan tari ratoh jaroe dan vocal group. Karena aku sedang kosong dan udah kelar semua tugasnya, jadi aku nyalon aja jaga kasir dan bantuin menyiapkan makanan.  Kami juga menyediakan berbagai makanan khas Indonesia, sebut saja bakso (semangkok 500 yen, include bihun, tahu, dan pangsit), rendang (sepiring 600 yen, include nasi dan sayur), batagor dan sempol (3 tusuk seharga 200 yen), dan sempol (4 tusuk seharga 200 yen).

_____ Pagi itu, aku diminta tolong untuk membantu Bu Arsita di asrama ichinoyanya untuk mengangkut barang barang ke mobil. Setelah mengangkut, barulah Bu Arsita mulai menyetir ke arah 7-11 daigaku kaikan bagian bawah, ditemani oleh dek Najwa dan aku. Jam menunjukkan pukul 8, sedangkan acara resmi dimulai pukul 10. Kami pun mengangkut barang barang seperti dandang besar berisi bakso, kompor, peralatan masak, dan bahan lainnya ke stand. Di stand, sudah ada beberapa orang yang sedang merakit stand dan menghiasnya. Ya, merakit! Di Jepang, untuk event mahasiswa, mahasiswanya sendiri yang merakit standnya, membongkarnya, dan mengembalikan tenda stand ke tempat asalnya (a.k.a gudang kampus). “Masih lama euy, tapi jam Jepang kan maju, jadi kudu siap lebih awal dari waktu seharusnya”

_____ Hari pertama-pun dimulai… waktunya mendekorasi booth putih polos ini menjadi lebih berwarna dan bernuansa Indonesia, yeaay~. Seperti biasa, anak DDD sepertiku gatel kalo ngga ikut kotak katik peralatan. Setelah 30 menit mendekor, memasang ornamen yang sudah siap sebelumnya, stand kami pun beres pada sekitar pukul 09 .15. Tampak anak” BEM KM Tsukuba sudah keliling mengenakan rompi jingga dan mendatangi stand-stand yang ada. Ketika mbak panitianya menghampiri stand kami, kak Ridho langsung merespon dan mengurus hal administratif dengan si mbaknya, yaitu nametag. Katanya, hanya orang yang memiliki nametag aja yang boleh jaga dan mengurusi stand, selebihnya ngga boleh. Karena nametagnya cuma 4, 1 nya kak ridho, 1 nya Pak Halim (yang waktu itu lagi pergi sebentar menjemput anaknya), dan 2 lainnya adalah ciwi ciwi yang lagi bersiap penampilan.

Guntur adjie's poster
Poster promosi Sohousai 2018 (source: PPI Ibaraki)

Waduh,  ini nametag ama muka yang make beda jauh gmn dong kecuali kak Ridho.

_____ Kami semua panik, duh apakah nanti ada diskualifikasi atau penalti dari pihak panitia kalo melanggar karena yang bersangkutan sedang pergi. Kak Ridho pun berinisiatif untuk bilang ke mbak panitianya tadi, mengenai ketiadaan 2 orang untuk sementara. Aku dianggap Pak Halim, karena ngga ada yang bakal nyadar juga, tutur kak Ridho wkwkwk. Namun, yang saat itu sedang berjaga adalah Bu Lia yang mengurus rendang dan sempol, serta Bu Arsita yang mengurus bakso, dan keduanya mengenakan jilbab sedangkan yang tertera di nametag adalah mahasiswi yang tidak mengenakan Jilbab. Waduh ada drama dengan mbak panitianya ini….

_____ Okeh, akhirnya setelah nego bernego, panitianya membolehkan sampai acara penampilan selesai. Kami pun lega, beberapa orang PPI lainnya pun ikut membantu di belakang kompor, seperti menyiapkan sempol, mengemas, dll. Aku kebagian platting #ceilehh, menyajikan makanan yang sudah jadi ke piring/mangkok plastik, merapikan, dan memberikan saus. Kak Ridho jadi frontliner yang promosi ke orang orang sekaligus jaga kasir. Totally a jam-packed day, karena emang bener bener kekurangan personil saat itu meskipun jam sudah hampir menunjukkan pukul 10. Akhirnya aku dan bu Lia bertugas jaga kompor menerima pesanan. Nggak disangka ternyata laku juga makanannya, bahkan ada yg beli sampe 2x, ada yg beliin teman/pacarnya, ada juga beberapa keluarga kenalan teman-teman PPI yang datang mampir dan beli buat keluarga di rumah. Kedai sebelah juga tampak cukup ramai dengan anak anak muda karena menjual dorayaki (toko sebelah kiri) dan boba (toko sebelah kanan).

Waktu tinggal 1 menit lagi! Ayo bu ditumplek daging rendangnya hehe (source: Guntur’s gallery)

_____ Tak lama setelah jam 10, orang orang lain pun datang. Fedi, kak Jabbar, Pak Supri, dan lainnya datang untuk membantu dan meramaikan stand. Wiiihhh 助かった, akhirnya setiap orang bisa kerja lebih ringan. Bukan, bukan bermaksud gabut atau gimana, tapi STAND INDONESIA BENER BENER RAME PAMER PAHA (PAdat MERayap tanPA HArapan). Pengunjung yang ingin beli ngantrinya sampai memanjang, menyentuh semak yang ada di ujung (nggak nyebar kayak antri beras bulog, ini bener bener rapi panjang mengular naga). Aku membantu berganti job dari platter menjadi marketing, menjelaskan menu kepada wong jepun. Yah, menjelaskan dalam Bahasa Jepang, meskipun nggak se cas cis cus Kak Ridho dalam promosinya. Aku menjelaskan dan mencatat pesanan pengunjung yang antri agar nanti saat sampai di kasir tinggal bayar dan mengambil pesanannya. Kak Jabbar bertugas jaga kasir, sedangkan Fedi membantu menggoreng dan melapisi sempol dengan telur.

_____ Orang-orang terus membanjiri kedai kita, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 12 siang. Wah 1 jam lagi pada tampil nih di Matsumi Kami Ike (Kolam Matsumi bagian atas, a.k.a. danau kecil di belakang fakultas 1). Toko pun ditutup selama 1 jam untuk istirahat sholat dan makan, serta persiapan untuk membantu teman-teman yang akan tampil. Karena tidak ada tempat yang cukup lega dan bersih, kami akhirnya sholat di rerumputan dekat stand. Beberapa orang tetap ada yang berjaga di stand. Setelah sholat, kami makan makanan yang tadi dimasak, lumayan itung-itung membantu menghabiskan stok biar nggak nyisa karena masih ada jatah buat besok. Nikmatnya, piknik kecil-kecilan di tengah kerumunan orang-orang memang seru, walaupun agak dilihatin gitu karena kita sampai gelar terpal di rerumputan.

_____ Jam 1 kurang 10 menit, aku memutuskan untuk melihat penampilan teman-teman PPI sedangkan beberapa ibu-ibu jaga stand. Kak Ridho sudah duluan ke tempat acara karena dia termasuk salah satu pengisi acaranya. Tenaaang~ kalau ada yang mau beli, kan ada Bu Arsita dan Najwa yang jago Bahasa Jepang, pasti lancar aja. Perjalanan menuju panggung dilakukan dengan menyebrangi jembatan penyebrangan jalan raya (ya, karena jalannya kampus membelah jalan raya) yang penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Sesampainya di tempat acara, sudah ada teman-teman PPI yang berdiri di panggung (alias tepi kolam). Acara dimulai dengan menyanyikan aransemen lagu daerah, kemudian dilanjutkan dengan tari ratoh jaroe. Penarinya tidak hanya orang Indonesia lho, tetapi ada juga orang India seorang. Acara penampilan dari PPI berlangsung selama 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan penampilan negara lain.

Penampilan lagu nasional dan daerah di panggung Matsumi Kamiike, Tsukuba (source: Agusta S. Gallery)
Penampilan tari Ratoh Jaroe di panggung Matsumi Kamiike, Tsukuba (source: Agusta S. Gallery)

_____ Seusai acara, kami berfoto di tangga dekat panggung. Arai-san juga datang berkunjung, berikut teman dari salah satu anggota PPI Ibaraki. Senang deh, bisa ikut mengenalkan budaya Indonesia ke masyarakat internasional (walaupun aku ngga tampil apa apa :<). お疲れ様でした (otsukaresama deshita), ungkapan yang diucapkan untuk orang yang telah bekerja keras sepanjang hari, yup, tapi untuk teman-teman PPI walaupun penampilannya hanya 30 menit tetapi latihannya sudah dari jauh jauh bulan, bahkan beberapa hari sebelum ini aku juga sempat menyaksikan gladiresiknya di aula hirasuna. Setelahnya, aku langsung balik ke stand, membantu ibu-ibu dan dedek-dedek yang lagi jaga disana. Ternyata, tokonya sedang tidak terlalu ramai karena memang jam nya orang makan siang sehingga lebih banyak yg beli makan siang di tempat lain. Emangnya ini rendang cemilan ya, hei warga Tsukuba?

Setelah tampil, mari foto bersama teman-teman PPI dan para sponsor mancanegara (source: Agusta S. gallery)

_____ Kami pun tetap berjualan sampai sekitar jam 4 sore. Pelanggan terakhir yang datang ternyata adalah bapak-bapak orang Jepang yang dulu pernah bekerja di Indonesia. Beliau memesan rendang, tapi sekalian dikasih sempolnya oleh bu Lia karena sekalian menghabiskan 1 porsi sempol yang ada. Beliau ternyata sudah lama juga bekerja di Indonesianya, terlihat dari cara bicara beliau (yang walaupun terbata-bata, tapi ngerti mau ngomong apa).Akhir kata, kami pun berfoto di depan stand, sebelum menutup standnya untuk esok hari. Oh iya, besok juga akan ada penampilan spesial lagi loh.

Yok, dibeli-dibeli…. Makanan Indonesianya, silahkan~ (source: personal gallery, taken by Nadia)
Tim jaga stand sohōsai 2018 yang ceria (source: Guntur’s gallery)

Penampilan apaan? Dari siapa? Kok ngga ada di brosur?

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: