Fumidasou! 31 – Kurenai

_____ Hari semakin dingin, menandakan waktu semakin masuk ke pertengahan musim gugur. Suhu udara di luar pun juga berkata demikian, yang hanya 15 derajat saat siang (kalau cerah banget bisa mencapai 18) sedangkan kalau malam menyentuh 10 derajat (pernah juga menyentuh 7 derajat). Daun daun pun juga berkata demikian, tampak dari warnanya yang sudah menguning, mencoklat, dan berguguran, hingga tampak hanya segelintir saja yang masih tetap hijau nan rimbun. Untuk mengusir rasa dingin dan bosan saat akhir pekan karena kalau di dalam kamar terus rasanya suntuk dan dingin banget, kecuali kalau menyalakan AC. Ya, hangat sih, tapi kantong cepat aus, alias boros. Makanya, akhir pekan ini aku dan pak Yuli berencana bersepeda ke tempat yang agak jauh, yaitu Tsuchiura.

_____ Pak Yuli adalah seorang ahli kehutanan yang sudah beberapa kali mengenyam pendidikan di luar maupun dalam negeri, makanya nggak heran kalau beliau sudah lumayan hafal bersikap dengan orang Jepang, dan lebih familiar dengan suasananya. Pak Yuli tinggal seorang diri di asrama Ichinoya 34, jadi cukup hanya berjalan kaki sekitar 5 menit, aku pun sudah tiba di depan asramanya. Oh iya, untuk petualangan kali ini, au tidak mengajak Akainu, alias sepeda merahku, karena jaraknya cukup jauh dan medannya cukup bergelombang, sehingga aku meminjam sepeda BMX Pak supri, biar lebih gress gitu. Pak Yuli pun tak lama keluar, sambil membawa pompa mini, jaga jaga kalau ban kempes dan perlu angin karena di Jepang tukang tambal ban cukup jarang dan kalaupun ada harus merogoh kocek lumayan dalam untuk menggunakan jasanya (sekitar 1000 yen), katanya. Pak Yuli juga bilang, sebelum berangkat, ada baiknya kita mengisi angin dulu di mesin isi angin di sebelah sueprmarket KASUMI yang ada di dalam kampus agar tekanan udara dalam ban berada dalam kondisi yang prima, itung itung sebagai pencegahan kecelakaan dan peningkat performa menggowes lah.

Dedaunan yang semakin berguguran sebelum menjadi serasah (source: personal snapshot)

_____ Setelah bersiap siap dari asrama Pak Yuli, kami berangkat melewati kampus bagian pusat, kebetulan kampus lagi sepi karena akan diadakan ujian masukk perguruan tinggi semacam SBMPTN gitu. Berhubung sepi, dan kampus sedang dihiasi oleh pepohonan yang mulai menguning dan memerah, maka kami pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk mengambil foto. “Sekalian aja Pak temanya sambil bersepeda gitu, kan bagus” ujarku. “Oh iya juga ya, yaudah kamu gowes dari sana, nanti saya jepret dari sini” jawab Pak Yuli. Siap Pak! Aku pun langsung menggowes sepeda sedangkan Pak Yuli mengambil gambar dari garis zebra cross, dan dilanjutkan dengan sebaliknya. Jalanan benar benar sepi, sampai hanya dilewati oleh bis kota 1 kali saja, sisanya kosong melompong. Kemudian setelah puas mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan ke arah KASUMI dalam kampus.

Karena kampus lagi sepi, saatnya menembus angin bersama daun berguguran (source: personal gallery, taken by Pak Yuli)

_____ “Eit, bentar dulu Pak, foto lagi dong mumpung bagus dan sepi nih” kataku saat melewati jembatan penyebrangan kampus pusat – kampus selatan. “Idih kenapa lagi, yaudah mau foto dimana?” tanya Pak Yuli. Emang yah, nyebelin tiba tiba berhenti saat sedang asik menggowes sepeda, tapi keindahan pohon ginko jantan di sepanjang jalan Hiratsuka (sepanjang jalan ini ginko jantan semua, nggak ada yang betina) cukup menyilaukan mata. Bagaimana tidak? daunnya yang keemasan ditambah langit putih yang sedikit mendung, membuat pemandangan terasa kontras. Akupun akhirnya mendapat 2x pemotretan karena sambil mengejar waktu juga. Akhirnya setelah berfoto ria, kami pun bergegas ke KASUMI dalam kampus untuk mengisi angin. KASUMI dalam kampus pun saat itu sedang tutup, sehingga mesin isi angin hanya kami yang menggunakan. Dan sip, angin sudah terisi, waktunya berangkat ke kota sebelah, Tsuchiura, kota yang kalau dilihat dari tulisannya berarti teluk tanah (土浦, 土 = tsuchi = tanah, dan 浦 = ura = teluk).

Ginko emas di sepanjang jembatan penyebrangan kampus – Hiratsuka Doori (source: personal gallery, taken by Pak Yuli)

_____ Sebelum berangkat, tentu seperti biasa aku memeriksanya di mbah gugel, dan jarak antara kampus dengan taman tepi danau terbesar ke-2 di jepang tersebut berjarak sekitar 13 km, yang artinya 26 km pulang-pergi. Namun, ekspektasi tentu tidak sama dengan realita, karena saat bersepeda melewati batas luar kota Tsukuba, kami sempat tersasar dan ada beberapa jalan yang sedang dalam perbaikan sehingga kami harus memutar dan sebagainya. Alhasil, mungkin jarak yang kami tempuh dapat mencapai 30 km pada akhirnya. Kami harus berkendara pada jalan menanjak dan menurun mengikuti kontur perbukitan di kota Tsuchiura. Belum lagi, kota ini tampak lebih kusam dan tua bila dibandingkan dengan Tsukuba sehingga cukup sedikit akses sepeda dan penunjuk jalan. Trotoar di kota ini lebih kecil dan terkadang ditumbuhi rerumputan. Setelah tersasar sebentar, kami pun akhirnya menemukan rute yang benar, ya, setelah sekian tanjakan dan turunan terlewati.

Rute dari kampus Tsukuba menuju Taman Kasumigaura (source: google maps)

_____ Hari pun semakin siang. Jam di ponsel tampak menunjukkan pukul 10.30. Kami pun terus mengayuh sepeda, menggowes mengikuti arahan peta, hingga pada suatu perempatan, kami tidak lagi melihat bangunan dan perumahan. Ya, di arah jam 1 tampak perairan yang cukup luas yang kami kira adalah Danau Kasumigaura. Dugaan kami terbukti benar, ketika kami berbelok ke kanan dan melihat ada plank besar bertanda Kasumigaura Comprehensive Park. “Kenapa comprehensive ya, padahal itu huruf kanjinya lebih cocok kalau disebut public?” gumamku dalam hati. Di sisi kiri jalan, terdapat bangunan yang menjadi pintu masuk taman, lengkap dengan lapangan parkir dan pujasera. Kami pun bertanya pada warga yang sepertinya berniat ingin masuk ke taman. Pria itu menunjukkan bahwa untuk masuk ke taman bagi pejalan kaki dan pesepeda ada di sisi yang sedikit berbeda dari pengendara mobil. Kami pun mengikuti arahan pria tersebut dan berhasil masuk ke taman secara GRATIS, ya karena taman ini adalah taman umum.

_____ Ketika masuk taman, kami agak celingukan mencari arah yang benar karena tamannya besar sekali, dengan pepohonan yang cukup lebat dari pintu masuk. Udara tidak terlalu panas saat itu meskipun hari benar benar cerah, nyaris tanpa awan yang menghiasi langit. Setelah berjalan menyusuri taman pepohonan, sampailah kami pada daerah terluas dan pusat tamannya, yaitu padang rumput, area bermain, dan kincir angin. Ya, daya tarik taman ini adalah kincir angin raksasanya, yang konon sangat indah pada musim dingin karena berhias lampu lampu di sekujur kincir anginnya berikut hiasan lampu di tamannya, sedangkan pada musim gugur hal yang bisa dinikmati adalah padang ilalang yang mengering sehingga tampak seperti lahan gandum, beserta pepohonan yang memerah. Oh iya, dengar-dengar saat musim semi, taman ini juga menyajikan pameran bunga tulip lho.

_____ Jam menunjukkan pukul 11.30 kurang sedikit, waktunya bagi kami untuk bersiap siap sholat zuhur sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah sholat, kami pun makan siang dengan bekal yang dibawa. Aku membawa…. ehm, apa ya namanya, anggap saja oseng oseng dengan bumbu kuning yang kubawa dari Indonesia (sisa seidkit lagi), sedangkan Pak Yuli membawa onigiri yang dibelinya di konbini. Seusai makan, kami berjalan menuju padang rumput untuk berfoto ria, dengan kincir angin sebagai latar. Di padang rumput, tampak banyak anak sedang bermain, ada yang kejar kejaran, ada yang main futsal, dan yang paling banyak adalah bermain kasti. Memang, kasti adalah olahraga paling favorit di Jepang, mengalahkan sepakbola dan bulutangkis. Hype dari anak anak ini benar benar kerasa layaknya anak anak Indonesia bermain futsal di jalan/lapangan dekat rumah.

Daylight Ageha (正午アゲハ蝶). Momiji yang tampak bagaikan kupu kupu berterbangan di Taman Kasumigaura (source: personal snapshot)

_____ Ckrik, ckrik. Pak Yuli sudah selesai memotretnya, dan sekarang giliranku untuk memotret beliau. Tak hanya memotret objek orang, aku pun juga memotret beberapa dedaunan dan bunga yang kuanggap bagus dan sesuai dengan tema musim gugur. Oh iya, perlu diingat jika saat kita berfoto dan ada orang lain di belakangnya (berjalan, berlari, atau ngapain aja yang menampakkan wajah pada foto), sebaiknya di blur atau disensor karena itu adalah salah satu hal yang menjadi peraturan disini. Hal tersebut perlu dipatuhi, terlebih jika orang yang tampak adalah anak anak, karena orang Jepang sangat menghargai privasi. Oleh sebab itulah kamera ponsel yang dijual di Jepang dibuat bersuara cukup keras untuk menghindari pemotretan ilegal, begitu pula kamera DSLR, tentu suaranya akan lebih nyaring dibandingkan suara jepretan kamera DSLR di Indonesia. Oleh karena itu sebisa mungkin jangan sampai melanggar peraturan yang tampak sederhana namun serius ini, karena bisa berujung pada hukum pidana. Namun, tidak perlu khawatir, jika orang yang terpotret memberikan izin, tentu hal tersebut tidak akan menjadi masalah. “Aah, puas juga pak foto foto disini, kita jalan ke daerah kincir angin yuk!” Lanjutku, berikut naskah ini yang berlanjut ke laman setelahnya.

Lapangan di sekitar kincir angin Taman Kasumigaura, Tsuchiura (source: Pak Yuli’s gallery)

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: