Fumidasou! 32 – Kasumi

_____ Setelah puas foto foto di tempat sebelumnya, aku melanjutkan perjalanan menuju sebuah kincir angin besar yang sedang diperbaiki. Di sekeliling kincir terdapat ladang ilalang, kolam, taman bunga, dan padang rumput yang nyaman banget kalau dipakai untuk piknik, jalan santai, atau foto foto. Berhubung ini sedang musim gugur, jadi rumputnya tampak hijau kekuningan, sebelum akhirnya kuning kecoklatan karena layu pada musim dingin. Banyak orang tua dan anaknya yang sedang berjalan-jalan di taman ini, maklum, taman ini termasuk taman yang ramah anak karena di sisi di balik kincir angin terdapat arena wahana anak, seperti kolam memancing buat anak, dan tempat bermain. Aku dan Pak Yuli berjalan jalan santai saja mengitari taman kincir ini, sembari mencari spot spot yang baik untuk berfoto. Yaiyalah, orang udah jauh jauh sepedaan kesini.

Padang pinggir danau (source: personal snapshot)

_____ Kami berjalan mengikuti dermaga kayu yang terbentang melintasi parit parit kecil. DI ujung dermaga terdapat Danau Kasumigaura (霞ヶ浦), danau terbesar ke-2 di Jepang setelah Danau Biwa (琵琶湖). Arti dari danau ini adalah 霞= kasumi = kabut, samar, dan 浦 = ura = teluk. ヶ = ga / ge, merupakan kata penghubung yang banyak ditemui pada nama, sehingga secara harfiah danau ini dapat dikatakan sebagai danau kabut. Danau ini tampak sangat bening sekali, terlihat dari warna airnya yang jernih hingga dasarnya bisa terlihat dan sepanjang mata memandang, hanya terdapat warna biru, biru, dan biru, hingga beririsan dengan cakrawala. Mungkin batas cakrawala ini bisa kita sebut sebagai suiheisen (水平線) karena garis cakrawala terlihat berbatasan dengan air danau. Di kejauhan sisi kiri dan kanan, tampak bangunan bangunan yang berada di sekeliling danau yang sepertinya rumah penduduk. Di tengah danau juga terlihat beberapa perahu kecil yang sedang mengitari danau. Wahh, enaknya piknik kali ini karena disuguhi oleh pemandangan yang menyejukkan mata, tidak hanya berolahraga mengayuh sekian jauh ataupun berfoto ria.

Kincir 20
Kazaguruma / Fūsha (source: personal snapshot)

_____ Kemudian dari ujung dermaga, kami berbelok ke kanan, megikuti labirin dermaga kayu yang dikelilingi oleh ilalang. Mungkin, jika tidak ada ilalang, dermaga kayu ini akan tampak sangat membosankan, beruntunglah terdapat ilalang yang membatasi sehingga dermaga bisa menjadi sedikit lebih menyenangkan untuk dikelilingi. Akupun berjalan menyusuri dermaga, hingga pada suatu tempat di tengah dermaga, aku terpikir ide “cemerlang”, yaitu berfoto bersama ilalangnya. Bagaimana tidak, ilalang yang sudah menjulang tinggi ini, bahkan dari bawah dermaga hingga hampir menyamai tinggiku, bisa dijadikan suatu objek foto yang bagus. Karena sepanjang mata memandang hanya ilalang ilalang yang sudah kecoklatan, maka jika difoto bisa tampak seperti ladang gandum bukan? Makanya aku pun meminta Pak Yuli untuk mengambil foto dengan aku sebagai objek utama dan ilalang sebagai latarnya. Oh ya, tak lupa juga, aku mengambil sudut yang tepat agar kincir anginnya dapat terlihat sehinga…. Tadaa!, Jadilah pose ala ala di ladang gandum seperti iklan sereal coklat itu lho haha. Belum lagi langit bitu menambah kesan aktif dan hangat pada foto ini.

Gandum 20
Model iklan sereal cokelat? (source: personal collection, taken by Pak Yuli)

_____ “Yuk pak gantian, sekarang Pak Yuli deh berpose gitu, mumpung bagus nih cuacanya” kataku. “Ngadep kemana enaknya?” tanya Pak Yuli. “Kayak aku tadi aja pak, oh iya, sama pose lagi berjalan gitu kayaknya bagus deh” tambahku. Akhirnya setelah 3x trial & error, akhirnya dapatlah foto Pak Yulil yang paling oke. Dengan matahari yang nyaris tegak di atas (karena sudah mau jam 1 siang), serta gumpalan awan di belakang dan ilalang di sisi kiri kanan, maka jadilah foto dengan pose yang mantap. Ala ala film action gitu kan?

Pak Yuli 20
Bayangan sang fotografer, Pak Yuli (source: personal snapshot)

_____ Setelah puas berfoto ria diantara ilalang, kami keluar dari labirin dermaga kayu dan berpindah ke sisi lainnya. Disana terdapat kolam kolam kecil dan sebuah kincir air. lengkap sudah, kincir air dan kincir angin dalam 1 taman. Kincir air umumnya digunakan untuk mengolah sesuatu dengan menggunakan tenaga dari aliran air yang cukup deras, namun kincir ini nampaknya hanyalah dekorasi semata yang masih punya fungsi berputar estetis, namun tidak untuk mengolah sesuatu. Yaiyalah, orang aliran air di paritnya B aja, nggak deras deras amat. Posisi kincir yang menghadap matahari jika diambil dari sudut pandangku, serta indeks UV yang sedang tinggi waktu itu (bisa dilihat di aplikasi Tenki.JP di playstore) dapat membuat foto ini sangat hitam legam jika tidak ditangani dengan benar. Untunglah ada cara untuk menangkal efek sinar kuat tersebut. Kami pun kemudian berjalan lagi ke sebuah rumah yang ada di di taman yang sepertinya merupakan sebuah cafe.

Suisha (source: personal snapshot)
Kincir dan rumah tepi danau (source: Pak Yuli’s gallery)

_____ Sesampainya di bagunan yang mirip cafe tersebut (dan emang beneran cafe ternyata), kami hanya melihat lihat saja dari luar karena kami masih kenyang. Selain itu, harganya pun agak kurang sip di kantongku (mungkin ga masalah buat Pak Yuli). Harga sepiring rata rata makanannya berkisar 500 – 800 yen, sehingga A BIG NO NO. Hal yang membuat kafe ini menarik adalah gaya makanan dan bangunannya yang ala ala eropa, meskipun bertabur dengan tulisan Jepang. Pada bagian depan cafe, bisa dijumpai semacam mesin gacha tentang percintaan dan juga tempat surat mak comblang, seperti pada gambar di bawah. Tulis suratmu bersama surat pasanganmu dan ikat disini (atau masukin ke kotaknya juga bisa). Karena aku masih jomblo (he he he…) jadi abaikan saja lah, cukup foto saja kotak suratnya buat kenang kenangan :D.

Love plus 20
Kotak mak comblang (source: personal snapshot)
Pusing mikirin apa hayo??? (source: Pak Yuli’s gallery)

_____ Kemudian kami berjalan lagi ke arah utara hingga ujung taman. Disana terdapat patung singa besar dan batas taman dengan danau, berikut pantainya. Kami sangat senang karena puas mengitari 1 taman yang besar ini dalam 1 hari, belum lagi mendapat foto foto yang ciamik. Selain itu, tempatnya pun bersih, sehingga nyaman untuk melepas penat sejenak dari hiruk pikuk kampus (terutama Pak Yuli karena S3 sudah pasti sibuk banget). Perjalanan berkeliling taman ini kami akhiri pada pukul 2 siang, dimana kami keluar taman melalui jalur pintu keluar yang terletak setelah area bemain anak dan kolam resto tepi kolam yang ada pemancingan khusus anak-anaknya. Entah mengapa jalan pulang kami terasa lebih singkat, mungkin karena kami sudah hafal medannya meskipun jalan pulang kami melewati arah yang berbeda pada separuh jalannya.

Shishi 20
Singa melawan cahaya (source: personal snapshot)
Ura 20
Tepi danau Kasumigaura (source: personal snapshot)
Biru, lebih biru, dan sangat biru (source: Pak Yuli’s galery)

_____ Sesampainya kita di Kampus Tsukuba sekitar pukul setengah 4 sore, kami langsung sholat ashar di Hirasuna Community Center (Hiracom). Berhubung lantai 2 bangunan tersebut sepi dan bersih, maka tidak masalah kalau kami menggelar sajadah disana. Aku berada di Hiracom hingga jam 4 sore lewat, sambil menunggu temanku Fedi karena kami berencana berbelanja bersama. Selain itu, aku memiliki misi rahasia bersama teman teman AIMS ku (ho ho ho). Setelah Fedi datang, aku dan Pak Yuli berpisah karena beliau berniat bertemu dengan Bapak PPI juga. Oke, samapi jumpa Pak Yuli, kapan kapan jalan jalan lagi ya~. Dan begitulah siang hariku, namun tidak hanya sampai disitu saja, malam harinya pun terdapat cerita menarik. Apa itu, mari baca postingan selanjutnya!

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: