Fumidasou! 37 – SMAN 1 Tsuchiura

_____ Pernahkah kita membayangkan kalau kita di negara orang lain yang seharusnya belajar dan diajar, tetapi malah mengajar, atau setidaknya jadi tamu? Nah jadi pada awal November lalu aku mendapat informasi dari Fedi (yang ia dapat dari Tsukuba-Omochi Language Club, karena ia salah satu angggotanya) bahwa lagi dibutuhkan relawan sebagai tamu di Tsuchiura First High School (茨城県立土浦第一高等学校, Ibaraki-Kenritsu Tsuchiura Dai Ichi Kōtō Gakkō), alias SMAN 1 Tsuchiura. Wah tawaran menarik apalagi nih? Langsung saja aku membuka link yang diberikan oleh Fedi karena pendaftaran terbatas hanya untuk 13 orang saja. Berhubung Fedi tidak bisa ikut karena sedang ada kelas di jam tersebut, makanya ia memberitahuku. Aku pun langsung menghubungi kontak yang tertera pada poster (maaf, disensor ya untuk menjaga privasi). Aku pun sambil memikirkan ide apa yang harus kusiapkan pada hari H. Aku berniat untuk datang di salah satu harinya saja, yaitu hari Jumat karena saat itu sedang kosong, sedangkan saat hari Selasa aku ada kelas debat yang tidak bisa kulubangi absensinya.

Poster lowongan relawan di SMAN 1 Tsuchiura (source: Tsukuba University Omochi Language Club)

_____ Pada pukul 08.00 di hari H, aku berangkat menggunakan sepeda menuju Terminal Tsukuba karena berencana naik bis umum (karena tidak ada kereta ke Tsuchiura dari Tsukuba). Aku pun membawa makanan, yaitu Tempe, dan kecap manis untuk diperkenalkan pada murid SMA, serta mengenakan batik sebagai identitas yang Indonesia banget. Tak lupa, aku juga sudah menyiapkan oleh oleh dan slide printout yang kuprint pada hari H di lab komputer (karena lab komputer memiliki mesin printer otomatis yang bisa diakses dengan KTM dan sepi juga, tidak seperti printer di perpustakaan). Setelah mencetak printout sebanyak 3 eksemplar (masing masing 5 halaman), aku pun memacu sepedaku lebih cepat agar tiba di terminal bis tepat waktu. Bicara soal terminal bis Tsukuba, lokasinya sama dengan stasiun Tsukuba ya, karena mereka terletak dalam posisi atas bawah (terpadu gitu). Bis pun tak lama kemudian tiba pada pukul 08.10 dan berangkat pada 08.15. Perjalanan dari Tsukuba ke Tsuchiura berlangsung lancar jaya, tidak ada macet yang mengular naga. Aku pun kemudian berhenti di Terminal Tsuchiura (yang terintegrasi dengan Stasiun Tsuchiura) sebagai pemberhentian terakhir.

_____ Setelah itu, aku sambung lagi dengan bis dalam kota Tsuchiura, dan waw… berhentinya tidak pas di depan sekolahnya bung, karena haltenya terletak di tanjakan sebelum sekolahnya (Tsuchiura emang banyak jalan yang naik turun, seperti yang kutulis di Fumidasou! 31). Aku pun berjalan menuju sekolahnya yang sudah tampak dari halte. Saat masuk gerbang, aku ditanya oleh pak satpam ,”mau ketemu siapa mas?”. Aku pun menjawab dengan terbata bata karena Bahasa Jepangku masih belum lancar, “E~to~ ketemu Bu XXX untuk acara kelas mahasiswa Internasional”. “Ohh, kalau begitu silakan lewat sini” katanya sambil menunjukkan arah ke sebuah bangunan yang sepertinya ruang kelas. Aku pun kaget karena sekolahnya luas sekali, di arah sebelah kiri pintu masuk ada lapangan lari dan futsal TERPISAH, di sebelah kanan ada taman bunga dan gedung yang tampak antik. Sesampainya aku di bangunan yang diarahkan pak satpam, aku pun dipersilahkan masuk oleh salah satu pak guru yang sepertinya bertanggung jawab dalam kegiatan ini. Akupun diminta untuk melepas sepatu dan menggantinya dengan slipper, karena di sekolah ini dalam bangunan kelas diharapkan pakai slipper agar lantai tidak kotor. Wahhh keren!!!

_____ Saat masuk, aku teringat pada bangunan sekolah yang biasa ada di drama drama Jepang, rak sepatu dan loker, lorong kelas, dan dekorasinya, kurang lebih tergambarkan dalam ruangan yang aku masuki saat itu. Akupun diantarkan ke sebuah aula yang sudah ramai sekali dengan beberapa guru dan mahasiswa asing. Tampaknya aku masuk sangat tepat waktu (lewat sedikit) karena jam menunjukkan 10.35 dan mereka sedang briefing. Dan kulihat ada wajah yang tidak asing, yaitu Sarah, mahasiswi asal Malaysia yang sedang mengenakan jilbab lengkap dengan baju kurung. Setelah itu, aku pun duduk di kursi yang disediakan dan mendengarkan arahan yang diberikan. Plus, tersedia makanan berupa kue kue kecil dan minuman seperti teh, kopi, dan air putih yang bisa diambil kapan saja di aula (he he he). Saat briefing sedang berjalan, tiba tiba datanglah 1 orang terakhir yang tidak asing juga, yaitu Camille (mahasiswi asal Filipina). Wah ini jadi kayak reuni anak AIMS nih, sekaligus menambah pemasukan 😀

_____ Teng teng, waktu workshop (atau lebih tepatnya free talk) dimulai. Kali ini yang dipersilahkan masuk adalah siswa siswi kelas 12 dari jurusan IPS (文系, bunkei). Karena jumlahnya lumayan banyak dan jumlah mahasiswa asingnya tidak terlalu banyak (hanya 11 orang) serta tidak memungkinkan untuk langsung seminar dalam 1 grup besar, maka kami dibagi menjadi 6 kelompok kecil dimana 1 kelompok berisi 1 atau 2 mahasiswa asing dan 4-6 siswa siswi Jepangnya. Karena jumlah siswa siswi IPS ada 3 kelas, maka dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama pun tak lama kemudian dimulai dengan durasi per kelompok sekitar 40-45 menit . Aku mendapat kelompok bersama orang Amerika selama dengan jurusan IPS. Workshop dimulai dengan perkenalan dan menjelaskan tentang negara masing masing. Yang pertama menjelaskan adalah mahasiswi asal Amerika yang menjelaskan seputar Amerika, apa saja yang menarik, dan hal hal unik yang dapat ditemukan di Amerika, terutama kampung halamannya di wilayah California. Kemudian aku menjelaskan tentang Indonesia, letaknya, berapa banyak pulau serta keanekaragaman budaya dan hayatinya, serta apa yang unik di Indonesia. Aku pun memberikan printout berisi beberapa informasi seputar Indonesia sambil menawarkan makanan berupa tempe goreng yang kupotong kecil kecil sebagai kudapan, lengkap dengan kecap manis untuk cocolan di tutup tempat makanku.

_____ Sebagian siswa dan siswi tampak antusias mendengarkan dan bertanya, meskipun beberapa tampak pasif dan cenderung diam, maklum saja, mereka masih SMA dan mungkin belum banyak terpapar hal hal dari luar negeri. Aku dan mahasiswi Amerika menjelaskan hal hal tentang kami dan negara kami menggunakan Bahasa Inggris secara perlahan agar mereka mudah menangkap dan mencerna maksudnya, terlebih kegiatan ini memang dicanangkan oleh guru guru Bahasa Inggris sekolah ini agar siswa siswinya terbiasa berbahasa Inggris dan mengenal dunia luar. Oh iya, sekolah ini juga mendapat akreditasi sekolah negeri bertaraf global loh (kurang lebih semacam program RSBI gitu kalau di Indonesia), jadi memang berencana lebih Go Global dibandingkan sekolah lainnya di kota ini. Mungkin harapan dari para gurunya adalah siswa siswinya kelak bisa melanjutkan sekolah di luar negeri dan kalaupun di dalam negeri, bisa mendapat universitas yang unggulan seperti University of Tsukuba dan tidak canggung, apalagi xenofobik jika bertemu mahasiswa Internasional. Langkah yang bagus pak, bu guru!

_____ Akhirnya, 3 sesi kelas IPS pun selesai, kami kemudian berfoto bersama di aula dan makan siang. Rupanya tak hanya ada mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Amerika saja, tetapi ada juga mahasiswa asal Polandia, Turki, India, Russia, dan Jerman. Karena hari itu hari Jumat dan tidak ada masjid atau musholla di sekitar, aku dan Sarah pun beribadah di ruangan kosong setelah meminta izin dengan guru yang bertanggung jawab. Setelah sholat, kami pun ikutan makan dan mengobrol bersama sama dengan mahasiswa Internasional lainnya dan guru guru. “Eh kalian pada ikutan ini juga, Sarah, Camille?” tanyaku penasaran. “Iya, aku tau dari Fedi” kata Sarah. Camille pun menambahkan, “Aku dikasih tau oleh temanku orang Filipin yang ikut Omochi Club, baru kemarin banget, makanya aku telat hari ini”. Wahhh asik deh aku nggak sendirian banget disini. Aku pun kemudian mengajak mereka untuk pulang bersama setelah dari kegiatan ini. Acara makan makan pun berlanjut, sembari menawarkan tempe kepada orang orang. Kan bermanfaat juga buat mengenalkan budaya Indonesia ke guru gurunya sekalian mahasiswa internasional juga ya gak?

Foto bersama kelompok paling aktif dari kelas IPA (source: personal gallery, taken by Sarah)

_____ Seusai jam makan siang, workshop dilanjutkan lagi dengan siswa siswi kelas 12 dari jurusan IPA (理系, Rikei). Kelas IPA hanya terdiri dari 2 kelas, sehingga waktu free talk per kelasnya lebih panjang, yaitu sekitar 50-60 menit. Hal tersebut dikarenakan para guru ingin anak IPA agar berbicara tentang proyek yang ia rancang. Kali ini, aku berkelompok dengan mahasiswi asal Polandia yang Bahasa Jepangnya cukup fasih (karena dia sastra Jepang). Sama seperti dengan kelas kelas IPS, workshop dimulai dengan penjelasan seputar negara dari mahasiswa internasional, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Yang membedakan adalah, di bagian akhir, para siswa akan menceritakan proyek yang ia sedang kerjakan, atau yang berencana ia kerjakan di masa depan kelak. Sambil berbicara, aku menyuguhkan ke siswa siswi di kelompokku tempe goreng beserta kecapnya. Tak sangka, ternyata anak IPA lebih lahap makannya yah dan sepertinya suka dengan kecap manis ala Indonesia, terlihat dari cocolan kecapnya yang lebih banyak. Kelompok pada sesi pertama menceritakan bahwa proyek mereka adalah konservasi satwa liar, karena merasa miris dengan kepunahan beberapa satwa di dunia, termasuk Jepang. Sedangkan kelompok pada sesi kedua menceritakan bahwa mereka berencana membangun pembangkit listrik dari gas metana yang dihasilkan oleh peternakan. Wah keduanya sama sama keren nihh!

Foto bersama cowok cowok kece dari kelas IPA (source: personal gallery, taken by Sarah)

_____ Nah, ada hal yang cukup nyeleneh untuk ditanyakan, meskipun terdengar wajar. Acap kali aku bertanya “kira kira aku dari negara mana hayoo?” kepada tiap kelompok, baik IPA maupun IPS, jawaban mereka hampir tidak ada Indonesia. Jawaban yang dilontarkan mereka kebanyakan adalah Vietnam dan Thailand, pernah ada India juga bahkan. Ada yang menjawab hampir benar, yaitu Malaysia (ayo ke selatanan lagi dek jawabnya). Hanya ada 1 anak yang menjawab benar dengan kata Indonesia, karena pernah melihat foto orang tuanya yang sedang dinas di Bali dan melihat baju motif batik. “Waah kita perlu lebih gencar lagi nih mengenalkan Indonesia ke negara lain !” pikirku.

Foto bersama siswa siswi IPA dan mahasiswa internasional (source: personal gallery, taken by Pak Guru SMAN 1 Tsuchiura)

_____ Workshop dengan anak IPA selesai pada pukul 15.30, masih ada waktu 20 menit untuk berfoto bersama. Awalnya aku berfoto dengan kelompok-kelompok kece yang sudah menjawab pertanyaanku dengan benar dan memberikan mereka gantungan kunci motif batik. Setelah berfoto per kelompok, mahasiswa asing dan siswa siswi SMA dipersilahkan untuk berfoto bersama. Sarah tiba tiba mengeluarkan bendera Malaysia dari dalam tasnya untuk diperagakan dalam foto (wah niat banget sih ini). Ckrek, foto pun berhasil diambil. Para siswa pun dipersilahkan untuk kembali ke kelas dan mahasiswa asing juga dipersilahkan untuk berberes sambil menanda tangani surat untuk reimburse uang transportasi dan gaji yang akan ditransfer via rekening (he he he). Mahasiswa asing pun dipersilahkan untuk membawa minuman maupun snack yang tersisa setelah membereskan kursi kursi di ruangan. Seusai membereskan ruangan dan membawa makanan, aku dan Sarah sholat ashar di ruangan tadi sambil meminta Camille menunggu di luar untuk pulang bersama.

Camille di depan patung gedung kesenian SMAN 1 Tsuchiura (source: personal snapshot)
Sarah di depan taman bunga dan gedung kelas SMAN 1 Tsuchiura (source: personal snapshot)
Aku di depan pintu samping auditorium SMAN 1 Tsuchiura (source: personal gallery, taken by Sarah)

_____ Jam masih menunjukkan pukul 16.15, jadi kami memutuskan untuk berfoto ria sambil keliling sekolah yang memiliki bangunan antik ini. Beberapa gedung memang tampak antik karena dibangun dari awal tahun 1900 an (yang tentu saja sudah mengalami beberapa renovasi). Kami mengunjungi taman, lapangan kasti dan tennis, auditorium, dan ruang musik. Kami kaget karena sekolah ini lebih besar dari yang kami duga, bahkan untuk ukuran sekolah negeri. Setelah puas berkeliling dan berfoto, kami berencana pulang menggunakan bis menuju Terminal Tsuchiura. Betapa kagetnya kami saat tiba di halte, banyak siswa siswi sedang mengantri tertib sekali hingga panjang mengular sehingga kami baru bisa naik bis yang tiba pada pukul 17.30. Sesampainya di Terminal Tsuchiura, aku dan Sarah langsung sholat maghrib dan makan bersama di dalam mall stasiun “URALA”. Tak lupa, kami bertiga juga sekalian berbelanja di dalam mall stasiun karena di lantai dasarnya terdapat supermarket KASUMI.

Stasiun-Terminal Bis Tsuchiura & Camille (source: personal snapshot)

_____ “Eh mal, foto dong disini. Kapan lagi kita kesini bareng bareng” kata Camille. Oke siap, aku pun mengambil gambarnya di jembatan penghubung mall “URALA”, stasiun, dan terminal bis. Jam menunjukkan pukul 19.15, saatnya kami untuk bergegas menuju terminal bis di bawah jembatan agar sampai Tsukuba tidak terlalu malam karena udara sudah mulai dingin, yaitu 14 derajat. Kami pun akhirnya masuk ke dalam bis menuju Tsukuba dan tiba di Tsukuba Center pada pukul 20.00. Setelahnya, kami mengambil sepeda di parkiran dan membayar uang parkir di mesin sebanyak 200 yen lalu mengayuh sampai ke asrama.

Wah…. asik juga ya bisa berkenalan dengan dedek dedek SMA dan mengenalkan budaya negara. Plus, dapat uang saku :p

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: