Fumidasou! 40 – Sakura Musim Gugur

_____ Bulan November merupakan bulan yang identik dengan bagian tengah menuju akhir musim gugur sehingga tak mengherankan kalau udaranya menjadi lebih dingin dan kering, begitupun hari itu. Hari itu suhu turun hingga 11 derajat di pagi harinya dan malam sebelumnya pun menyentuh angka 8 derajat. Karena sedang lilbur, aku dan Emmanuel, temanku dari UGM, berencana untuk pergi ke Gunung Tsukuba untuk mendaki gunungnya dan menikmati suasana musim gugur. Malam sebelumnya, aku sudah meminjam sepeda BMX milik Pak Supri agar lebih mudah mendaki gunung dan mengimbangi kecepatan sepeda Emmanuel karena sepedanya adalah sepeda lipat yang lebih ringan dan lebih gesit bila dibandingkan dengan “Akainu” milikku. Pada pagi hari H nya, aku mendatangi asrama Emmanuel dan menunggu di bawah, tetapi ia mengajakku masuk dulu sembari ia bersiap siap. Aku pun masuk dan tak lama kemudian kami siap berangkat.

_____ Perjalanan kali ini terasa lebih mudah dibandingkan sebelumnya karena kami sudah mengecek arahnya terlebih dahulu, terlebih aku juga sudah mengenal Rin Rin Road sehingga bisa lebih familiar dengan rutenya. Pertama tama kami melewati kuil Ichinoyasaka (yang ada pada Fumidasou! 27), kemudian masuk melewati perumahan warga. Dalam perumahan warga ini, kita harus tetap tenang karena jalannya yang berbentuk maze akan cukup membingungkan, belum lagi ada anjing galak yang siap menggonggong dan memecah konsentrasi. Ketika sudah bertemu dengan semacam pintu air di ujung perumahan warga, maka artinya kami sudah berada dalam rute yang benar karena hanya tinggal lurus saja dan melewati jalan raya, selebihnya hanya tinggal lurus saja menembus sawah.

Sepeda Pak Supri dengan performa yang lebih tinggi dari Akainu untuk mendaki gunung (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya dijalan ujung sawah yang berbatasan dengan Rin Rin Road, kami beristirahat sebentar dengan meminum minuman yang kami beli, Emmanuel meminum kopi kaleng sedangkan aku minum teh hijau botol. Perjalanan kemudian kami lanjutkan dengan menyusuri Rin Rin Road hingga di suatu titik di Rin Rin Road, kami menemukan suatu hal yang janggal. Ya, berdasarkan petanya, tepian Rin Rin Road memang ditanami pohon sakura agar lebih rindang, namun karena ini musim gugur dan sebentar lagi musim dingin, wajar saja jika tidak ada daun ataupun bunga yang masih tersisa di pohon. Namun, kali ini berbeda, karena kami menemukan bunga sakura di beberapa pohon. Kami pun langsung berhenti untuk mengambil di bawah sakura, apalagi masa studi kami di Jepang tergolong singkat sehinga belum tentu memungkinkan untuk melihat sakura tahun depan. Saatnya berfoto!

Berusaha menggapai sakura yang baru mekar (source: personal gallery, taken by Emmanuel)

_____ Selidik punya selidik, setelah aku bertanya pada Pak Yuli, beliau mengatakan bahwa pohon sakura itu peka terhadap anomali cuaca sehingga bisa saja mekar di musim gugur. Terlebih, karena selama 3 hari sebelumnya cuaca sempat hangat dan menyentuh 21 derajat sehingga berpeluang menyebabkan sakura ini mekar. Tapi apakah ini sakura beneran (cherry blossom), atau hanya ume (plum blossom). Bagi pembaca yang tahu harap ditulis di kolom komentar ya! Tapi aku berharap ini adalah sakura yang terkena anomali cuaca tersebut karena sepanjang Rin Rin Road memang ditanamnya sakura, kecuali kalau diselipkan beberapa pohon ume. Oh iya, kalau berfoto dengan sakura Jangan sampai mematahkan rantingnya, atau mencabuti kelopaknya karena dianggap HARAM di Jepang!

Sakura yang mekar secara anomali, apa malah bukan sakura? (source: personal snapshot)

_____ Setelah berfoto dengan sakura, kami melanjutkan perjalanan hingga ke titik peristirahatan ke 2, yaitu parkiran luar Gunung Tsukuba yang memiliki toilet umum. Kami beristirahat sejenak kembali dan buang air kecil sebelum mengayuh sepeda lagi. Seusai beristirahat, kami kembali mengayuh di jalan menanjak. Kali ini adalah bagian tersulitnya karena jalan tanjakannya cukup curam, sempit, dan berkelok kelok. Sambil melihat google maps dan penanda jalan, kami akhirnya sampai juga di pintu masuk wahana gunung Tsukuba dimana terdapat area parkiran dan pusat Informasi serta rest area. Di pusat informasi, aku meminta izin dengan petugasnya untuk sholat zuhur di pojok ruangan dan guess what, petugasnya membolehkan dengan sukarela lho. Sementara itu, Emmanuel menunggu di luar sambil merokok santai. Setelahnya, aku makan siang bersama Emmanuel di dalam pusat informasi, sekaligus mengecap stempel. Oh iya, di banyak tempat wisata di Jepang, maupun tempat yang ikonik seperti gedung pemerintahan, stasiun, dll, kita dapat mengecap stempel secara gratis untuk cinderamata. Keren ya!

_____ Seusai makan, kami melanjutkan perjalanan dengan menuntun sepeda ke gerbang Torii merah besar yang menjadi penanda Kuil dan Gunung Tsukuba. Karena memang dikhususkan untuk pejalan kaki, kami pun menuntun sepeda kami ke atas hingga parkiran sepeda di depan kuil yang sedang direnovasi. Jadi sebenarnya di komplek ini ada 1 kuil besar dan beberapa kuil kecil gitu, tapi karena sudah pukul 1 siang lewat, jadi kami terus saja naik ke atas dan tidak mampir ke kuil dulu agar bisa sampai puncak tepat waktu. Setelah memarkir sepeda, kami menemukan loket untuk naik ropeway atau kereta gantung yang bentuknya lebih mirip monorail (bukan seperti kereta gantung di TMII ya). Harga 1 tiketnya adalah 800 yen untu orang dewasa dan 400 untuk anak anak, PP ya, bukan sekali jalan. Tersedia paket terusan yaitu ropeway dengan cable car untuk pergi ke gunung 1 nya yang harganya 1400 yen. Tapi karena kami datangnya sudah lewat siang, jadi kami memutuskan untuk beli yang 1 tiket ropeway saja.

Pohon Kusunoki yang biasanya tumbuh dekat kuil (source: personal snapshot)

_____ Oh iya, kenapa ada 2 gunung? Karena sebenarnya Gunung Tsukuba itu adalah gabungan dari 2 gunung yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa dan dewi oleh masyarakat setempat. Gunung sang dewa menjadi tempat wisata sedangkan gunung sang dewi menjadi tempat penelitian. Nah tempat yang akan kami naiki dengan ropeway adalah gunung sang dewa sedangkan yang terhubung dengan cable car dan menjadi tempat penelitian adalah gunung sang dewinya. Sebenarnya, ada akses lain untuk sampai ke puncak, yaitu dengan mendaki, ya, dengan kaki sendiri. Namun, karena sudah tidak ada waktu, jadi kami naik ropeway saja. Kami pun sudah mengantri di antrian dan tidak terlalu ramai. Hingga saatnya giliran kami masuk, namun karena sudah penuh dan tidak dapat kursi depan, jadi kami memilih untuk mengalah dan menunggu ropeway selanjutnya. Tak lama kemudian, ropeway selanjutnya pun tiba.

_____ Setibanya ropeway di depan loket, 1 per 1 pengunjung pun masuk dengan tertib. Aku dan Emmanuel berdiri di samping supirnya agar bisa menikmati pemandangan to the max. Saat ropeway mulai berjalan, para pengunjung terutama anak anak mulai semakin gembira. Aku dan Emmanuel pun sangat menikmati perjalanan ropeway yang berlangsung selama hampir 15 menit tersebut karena sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat Indah, berikut dedaunan berwarna warni yang menjuntai ke bawah dengan indahnya. Tidak lupa saat memasuki terowongan yang bernuansa agak angker namun rasa angker tersebut sirna ketika keluar terowongan dan disambut dengan berbagai bunga yang menghiasi jalan. Di sisi kiri terdapat jalan setapak yang bisa digunakan apabila ingin mendaki gunung.

_____ Sesampainya di atas, kami pun langsung berkeliling untuk mencari spot foto yang bagus. Namun karena udara terlalu dingin, kami memutuskan untuk menghangatkan diri dahulu di kedai yang ada di puncak gunung sambil memakan mochi bakar yang rasanya manis manis tawar. Setelah itu, kami pergi menuju kuil kecil yang ada diatas batu batuan yang hanya bisa diraih dengan memanjat. Yoshh… ayok el kita kesana! Sepertinya di arah ini banyak sekali anak ABG yang berniat ke kuil yang ada di atas bebatuan. Ya, bagaimana tidak, karena jalanan ini terlalu berbahaya untuk anak anak dan lansia, sehingga tak heran jika yang sampai ke sini hanya ABG dan orang dewasa saja. Di atas tebing inilah kami bisa menikmati pemandangan kota Tsukuba dari kejauhan dengan leluasa, berbalut awan tebal dan cahaya mentari yang mulai memasuki fase sore hari. Wah iya el, udah jam 3 nih nggak kerasa. Ayo kita balik!

Menuju puncak, gemilang cahaya (nantai sanchō) (source: Emmanuel’s gallery)
Pemandangan dari puncak Gunung Tsukuba (source: personal snapshot)
Adem banget uyy (source: Emmanuel’s gallery)
Anginnya sepoy sepoy buangeet (source: Emmanuel’s galery)

_____ Aku dan Emmanuel pun berencana untuk kembali. kami pun menuruni tebing batu dengan perlahan dan menuju loket ropeway, namun antrian untuk turun sangatlah ramai hingga mengular naga. Mau tidak mau, kamipun harus mengantri dengan sabar, karena jika mendaki turun rasanya sudah lelah dan tidak kuat dengan udara dingin ini. Akhirnya kami baru bisa masuk ropeway untuk turun pada pukul 15.45 dan tiba di bawah pada pukul 4 sore. Kami pun bergegas menuju pintu keluar yang berarti harus melewati kuil Tsukuba. Namun, karena pemandangan di kuil Tsukuba terlalu bagus sehingga sayang untuk dilewatkan, maka aku mengambil langkah terakhir untuk memotret keindahan momiji yang sangat merah ini, terlebih arah yang kuambil menghadap matahari terbenam. Alhasil, aku pun mendapat foto yang sangat bagus. Yeay, tidak sia sia menunggu 5 menit untuk berfoto ria dan Emmanuel pun mengambil video di sekeliling dengan HP nya (IPhone emang mantep yak ngerekam dalam gelap)

Momiji di bawah ropeway kaki gunung Tsukuba (source: Emmanuel’s gallery)
隠れ日光, Kakure Nikkō yang berarti sinar mentari yang tersembunyi, di balik daun momiji yang merah merona (source: personal snapshot)

_____ Setelah berfoto dengan momiji, kami langsung menuju parkiran sepeda dan memacu sepeda kami ke bawah. Namun sebelum itu, aku harus sholat ashar dulu di pusat informasi. Emmanuel pun mengiyakan karena ia pun bisa sambil merokok dulu sambil menungguku. Seusai sholat, kami langsung bergegas menuruni lereng gunung yang sudah semakin gelap karena sudah pukul 16.45 sore. Aku berencana menjamak sholat Maghrib dengan Isya karena sepanjang perjalanan tidak ada tempat yang bisa kugunakan dengan leluasa untuk sholat dan udara di luar pun sudah semakin dingin yaitu menyentuh 10 derajat. Sesampainya di parkiran luar Gunung Tsukuba yang menjadi tempat peristirahatan ke-2 sebelumnya, kami semakin memacu sepeda kami agar melaju lebih cepat karena sudah hampir jam 6 sore. Selamat tinggal Gunung Tsukuba, jika suatu saat nanti ada kesempatan lagi, aku akan kesana lagi untuk bertamasya.

Torii merah besar menuju kuil dan Gunung Tsukuba (source: Emmanuel’s gallery)
Senja di sekitar pusat informasi Gunung Tsukuba (source: Emmanuel’s gallery)
Jalan menuruni perumahan warga ke bawah Gunung Tsukuba (source: Emmanuel’s gallery)

_____ Di perjalanan pulang, jalanan Rin Rin Road yang semula indah dan nyaman untuk berkendara kini menjadi suram dan gelap gulita karena tidak ada lampu di sepanjang jalan. Sumber penerangan yang dapat kami andalkan adalah lampu dari masing masing sepeda dan lampu dari rumah rumah penduduk letaknya berjauhan di sepanjang jalan raya yang terletak tak jauh dari Rin Rin Road. Sesekali, terdapat mobil dan truk melewati jalan raya sehingga kami terbantu dengan penerangan mereka. Jalan jalan kecil di Jepang memang jarang yang memiliki lampu di sepanjang jalannya, terlebih jika jalanan tersebut memang sepi penduduk dan terletak di kota kecil atau pedesaan. Kami pun harus extra struggle saat sampai di pertigaan Rin Rin Road dengan jalan persawahan karena jalannya menjadi semakin gelap. Yaiyalah siapa sih yang masang lampu di tengah sawah. Beberapa kali kami sempat tersesat dan hampir masuk ke sawah sehingga perjalanan di sawah ini cukup memakan waktu. Kami akhirnya bisa menemukan jalan keluar sambil mengikuti suara truk yang sedang mengangkut hasil panen. Ya, di pojok sana rupanya ada pergudangan hasil panen, yang berarti tak jauh lagi kami akan sampai di jalan raya menuju perumahan penduduk Tsukuba.

Checkpoint kaki Gunung Tsukuba : Pompa sepeda dan drinking fountain serta arah menuju Kota Makabe (source: Emmanuel’s gallery)
ckpoint kaki Gunung Tsukuba : Toilet umum serta arah menuju Kota Tsukuba (source: Emmanuel’s gallery)

_____ Setelah kami menyebrangi jalan raya, terjadi sesuatu yang beneran angker di jalan menuju perumahan Tsukuba. Di pojokan jalan, kami melihat mobil bak berwarna hitam dengan seseorang yang sedang bermain saxofon. “Siapa dia, apa dia? ngapain dia disini?” tanya kami saling bersahutan. Sosok tersebut sangatlah misterius mengingat jalan ini sangatlah sepi dan gelap gulita (jalan di foto Fumidasou! 22). Yang jelas, kami langsung tak menghiraukan sosok misterius berjubah warna gelap yang sedang bermain saxofon itu karena pikiran kami tertuju pada 1 hal, yatu PULANG! 帰ろう!. Jam masih menunjukkan pukul 7 malam, masih terlalu dini agaknya jika kami menganggap sosok tersebut jelmaan sesuatu, atau psikopat. Kami pun terus mengayuh melewati perumahan Tsukuba dan sampai di kuil Ichinoyasaka. Yeay, akhirnya sudah dekat!

Jalan pulang yang sangat gelap karena tak ada penerangan, kecuali dari lampu mobil yang terkadang lewat (source: personal snapshot)

_____ Setelahnya aku dan Emmanuel berhenti di konbini LAWSON untuk membeli camilan dan mengobrol serta tertawa atas hal misterius sebelumnya. Seusai melepas ketegangan, barulah kami mengayuh lagi hingga sampai di asrama masing masing. Sebuah perjalanan yang seru, karena diawali dengan keindaha, kemudian dilanjutkan dengan ketegangan. Kapan lagi ya aku bisa mengunjungi Gunung Tsukuba di musim gugur?

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: