Fumidasou! 44 – Hakone

_____ Sesampainya di Danau Ashi, aku dan teman teman akhirnya makan di pusat informasi yang ada di sekitar danau. Kami pun berencana makan di sebuah restoran udon karena restoran tersebut merupakan restoran yang sepertinya paling ramah muslim dikarenakan kuah udon berasal dari kaldu ikan dan udon sendiri memiliki potensi keharaman yang lebih rendah bila dibandingkan ramen ataupun makanan serupa yang ada di pusat Informasi. Aku sendiri sudah membawa bekal dari asrama, jadi tidak masalah, namun tempat makan ini dipilih untuk mengakomodir teman lainnya seperti Reen, Sarah, dan Nurul (mahasiswi asal Malaysia dan Brunei). Kami pun masuk restoran dan mengambil tempat duduk. Beruntung, restoran tersebut dalam keadaan sepi, hanya terdapat 2 pasang keluarga yang sedang makan disitu sehingga ketika kami mengambil meja pojokan agar bisa makan bersama tidak jadi masalah.

_____ Restoran ini juga menyediakan minum gratis berupa teh hijau yang bisa diambil kapan saja, jadi meskipun aku dan Shauna sudah membawa bekal, hal tersebut tidak jadi masalah. Selain itu, restoran udon ini juga menyediakan soba dan tempura yang isinya adalah seafood dan sayuran, jadi InsyaAllah makanan di restoran ini aman untuk dikonsumsi bagi petualang muslim. Nah berhubung sudah peko peko, alias sudah lapar banget, beberapa orang sudah memesan makanan melalui mesin tiket setibanya di restoran ini sehingga ada yang sudah datang duluan makanannya (seperti Camille). Beberapa yang lain memesan agak belakangan setelah meletakkan tas dan mengobrol tentunya hehe (seperti Fedi, Reen, dan Nurul). Seperti biasa, sebelum makan dan membaca doa makan, mari kita berfoto bersama, yuhuu.

Tetap senyum walau perut lapar karena makanan belum datang (source: Enzo’s gallery)

_____ Itadakimasu… waktunya makan. Tampanya pada penasaran dengan bekal yang kubawa dari asrama. Aku membawa ayam dan tahu tumis kecap berikut nasi dan tambahan pasta wasabi yang kuletakkan terpisah. Mereka yang duduk di dekatku seperti Rae, Camille, dan Kento tampaknya ingin icip icip juga berhubung baunya enak. Aku pun menngambil makananku dan meletakannya ke cawan yang ia berikan sebelumnya. Sebagai gantinya, aku juga mencapat kesempatan untuk mencicip tempura udang dan chikuwa nya. Lumayan lah, saling icip icip nih di restoran hehehe. Oh iya, karena tidak boleh bertukar makanan melalui oper sumpit antara orang 1 dengan orang lainnya (karena bagi masyarakat Jepang, hal tersebut sama seperti memindahkan tulang hasil pengabuan mayat), jadi jika ingin bertukar atau berbagi makanan, lebih baik menggunakan wadah sebagai perantaranya.

Tukeran lah biar bisa icip icip hehehe (source: personal gallery, taken by Sarah)
Yok, yang lagi makan menghadap kamera (source: Taisei’s gallery)

_____ Setelah beberapa waktu menyantap makanan, Taisei tampaknya sudah gatal ingin mengeluarkan kameranya dan berselfie menggunakan Go Pronya. “Waduh aku belum selesai makan nih” kataku, dan juga beberapa orang di belakangku. “Udah, tutup dulu aja bekalnya mal” sambung Taisei. Oke, aku pun menutup kotak bekalku dan meletakannya di atas meja sebelum berfoto. Ckrik. “Nah kan gini enak guys, keliatan semua” kata Taisei. Iya sihh keliatan, tapi masih belum habis ni makanannya, pikirku. “Eh iya, Riki lagi ke toilet” kata Camille yang tersadar kalau orang yang duduk di sebelahnya tak ada. “Eh iya, yaudah gapapa hahaha” lanjut Taisei sambil menutup kameranya. Sarah selanjutnya bertanya kepadaku apakah ia bisa meminjam kamera sakuku. Aku pun menyerahkannya kepada Sarah agar aku bisa mendapat koleksi foto yang lebih banyak berhubung dia berada di mobil yang berbeda.

Udah kenyang, jadi nggak tau saling tunjuk apaan ini (source: personal gallery, taken by Sarah)

_____ Aku yang sudah selesai makan mengeluarkan minuman aneh yang kubeli sehari sebelumnya dari Jason, yaitu Coca Cola latte bening. Ya, anda tak salah baca. Coca Cola rasa latte dengan warna bening seharga 45 yen. Rasanya agak agak aneh gitu karena rasa kola bercampur dengan aroma susu, tapi karena ingin mencoba untuk pertama kalinya ya tak apa lah. Riki tampaknya suka pedas, makanya ia menambahkan bubuk cabe ke dalam kuah udonnya sebleum menghabiskannya. “Wah udah tahan pedas nih Riki?” kataku bertanya padanya mengingat pada postingan yang lalu lalu (Fumidasou! 26) ia belum kuat menahan pedas. “Ooh ini sih buat latihan sebelum ke Malaysia nanti” jawabnya. Kemudian terdengar bunyi cekrek, bunyi kamera yang dilayangkan oleh Sarah saat mencoba kameraku. Setelah makan, kami berjalan jalan sebentar ke toko oleh oleh yang ada di sebelah restoran dan pujasera.

Rae dan furoshiki (source: personal gallery, taken by Sarah)
Sewa kimono di pusat informasi (source: personal gallery, taken by Sarah)
Duuh mau beli apa teman-temanku ini? (source: personal gallery, taken by Sarah)

_____ Toko oleh oleh ini tampak besar sekali karena terdapat 2 lantai, yaitu lantai dasar dan lantai B1 (yang terhubung dengan beranda yang menghadap ke danau untuk pengunjung menikmati makanan dan minuman yang ada). Banyak sekali cinderamata yang dijual disini, mulai dari kerajinan tangan khas daerah, pakaian (termasuk sewa juga), hingga makanan khas Hakone. Karena kami masih akan melanjutkan perjalanan, tampaknya tidak ada satupun dari kami yang membeli oleh oleh disini (mungkin selain karena mahal juga kali ya hehehe). Sambil menunggu teman teman berkeliling, aku sholat zuhur di pusat informasi. Seperti biasa, pusat informasi merupakan tempat yang tepat untuk beribada kalau kita sedang berada di tempat wisata di Jepang karena pusat informasi cenderung sepi dan lega sehingga bisa beribadah dengan khusyu dan leluasa tanpa terganggu. Kami pun tak lama kemudian keluar dari toko oleh oleh dan bergegas menuju mobil masing masing karena jam sudah menujukkan pukul 1 siang.

Cinderamata khas Jepang di toko oleh-oleh (source: personal gallery, taken by Sarah)
Pemotret yang sedang melihat kakak pemotret (source: personal gallery, taken by Sarah)

_____ Rute selanjutnya yang kami tuju adalah kuil di tepi danau Ashi. Jarak antara pusat informasi dengan kuil tersebut hanyalah sekitar 15 menit menggunakan mobil. Maka dari itu, seharusnya tidak akan lama untuk bisa sampai kesana. Akan tetapi karena cuaca sedang sedikit berkabut (atau asap dari kawah Oowakudani, aku nggak tahu), kendaraan harus melaju lebih pelan. Tidak butuh tambahan waktu lama bagi kami untuk bisa sampai disana karena kami sambil mengikuti bis wisata yang ada sehingga waktu perjalanan tidak terpotong oleh pencarian GPS. Sesampainya disana, kami langsung memarkir mobil dan keluar dari kendaraan.

Pergi menuju kuil di tengah hutan Hakone (source: Chikaho’s gallery)
Ayo kita ke tepi danau (source: Chikaho’s gallery)

_____ Ternyata lokasi kuil dan parkirannya terletak di tengah hutan pinus Jepang alias matsu yang sangat rimbun dan termasuk tanaman evergreen yang berarti tanaman tersebut terus rimbun sepanjang tahun (tidak menggugurkan daun saat memasuki musim dingin). Pertama tama, kami mengunjungi torii, atau gerbang kuil yang berada di danau. Kuil ini tergolong sebagai kuil yang cukup tua, tampak dari arsitekturnya yang sangat kuno serta batuan yang ditumbuhi lumut lebat. Tak hanya itu, hutan pinus matsu yang membingkai kuil ini juga turut menambah suasana klasik kuil. Tak disangka, ternyata tangga menuju torii danau tersebut padat oleh orang orang, baik turis lokal maupun mancanegara. Kamipun harus bersabar untuk bisa berfoto di sekitar torii tersebut.

Jangan ngalangin tangga atuh 🙂 (source: Chikaho’s gallery)

_____ Saat mengantri menuruni tangga, terjadi hal yang kocak. Ada seorang turis asing yang terjatuh di tangga di belakang kami. Kami pun bermaksud menolong wanita asing tersebut untuk berdiri kembali, namun hal yang mencengangkan adalah turis tersebut mengatakan, “don’t worry, i bring my insurance card along with me” yang berarti “jangan khawatir, aku bawa kartu asuransiku kok”. Turis tersebutpun kemudian menaiki tangga, dibantu dengan kedua temannya dari belakang antrian dan berlalu. Seketika, aku, Kohei, dan Reen langsung ngakak setelah melihat tingkah turis tersebut. “Who cares if you bring your insurance or not, we’re just trying to help y’know!” tukas Reen dengan kesal sambil tertawa. Yaudah, selfie aja sambil nunggu biar nggak kesal hehe.

Sama aja, cuma part 2 nya (source: Kohei’s gallery)

_____ Sesampainya di depan torii, kami langsung berfoto bersama sama dan dilanjutkan dengan foto pribadi sebelum orang yang ada di tangga berfoto. Aku pun sempat mengambil beberapa gambar toriinya seperti gambar diatas. Beberapa orang Jepang juga tampak menepukkan tangannya di depan torii dan berdoa, sebagaimana ajaran agama shinto. Karena orang asing tidak melakukan itu (dan tampaknya Kohei memilih untuk bersenang senang dibanding jadi alim untuk saat ini), Ia pun mengajak aku, Nurul, dan Enzo untuk berjalan ke jalan setapak di samping torii dan kemudian berfoto dari sisi yang lain. Rupanya dari angle yang ini hasil fotonya lebih baik karena terlihat pula gunung dan danaunya tanpa terhalang oleh backlight seperti foto dari depan torii nya langsung. Selain itu, disini juga sepi sehingga fotonya tampak bagus. Hehe, nice spot!

Foto dari samping lebih lega cuy! (source: Kohei’s gallery)
Aku dan torii danau (source: personal gallery, taken by Kohei)

_____ Setelah berfoto, kami kembali ke atas untuk ke kuil utamanya. Setelah berkeliling di kuil utamanya, kami pun turun untuk kembali ke parkiran. Namun, siapa sangka, jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore yang artinya sudah masuk waktu ashar. Aku dan Sarah pun izin sebentar ke teman teman untuk melaksanakan ibadah sholat di parkiran kuil saja, berhubung sepi dan tidak mengganggu jalan. Seharusnya tidak masalah karena kami pun sholat di pojokan dan arah kiblat didak menghadap ke kuilnya melainkan ke arah hutan dan danau. Bermodalkan air dari botol minum, ami pun berwudhu satu persatu lalu menggelar sajadah mini yang kami bawa. Setelahnya kami pun kembali berkumpul dengan rombongan dan mereka juga tampak lagi asyik berfoto ria di lingkungan kuil sehingga yaah~ win wih solution lah ya!

Kompaknya MY x ID di JP (source: personal gallery, taken by Kohei)

_____ Seusainya berfoto di lingkungan kuil, kami melanjutkan perjalanan menuju “gong” nya perjalanan kali ini, yaitu kawah Oowakudani (大涌谷), salah satu dari kawah gunung api di Jepang yang masih mengeluarkan asap tebal meskipun erupsi terakhir tercatat sekitar ratusan tahun sebelum masehi. Untuk itu, karena jam sudah menunjukkan pukul 14.45, maka tak perlu berlama lama lagi, langsung saja gas menuju Oowakudani yang berjarak sekitar setengah jam dari kuil hutan tersebut. Namun, suatu hal yang agak disayangkan terjadi. Apakah itu? Mari baca di postingan selanjutnya!

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: