Fumidasou! 46 – Ushiku Daibutsu

_____ Aaah, another fine weekend. Karena sedang tidak ada tugas yang emngharuskan berlama lama di depan meja, aku pun bisa menikmati akhir pekan ini untuk melakukan sesuatu yang dirasa “lebih bermanfaat”, yaitu jalan jalan (manfaat bagi tubuh dan pikiran, mudharat terhadap dompet XD ). Tsuchiura udah pernah, Gunung Tsukuba juga udah, lalu kemana aku harus pergi? Nah aku pun telah menjelajahi mbah gugel pada hari sebelumnya dan menemukan spot yang bagus, yaitu patung Buddha raksasa yang ada di kota Ushiku dan kuil serta musium kebudayaan di Chikusei. TIdak ada satupun dari kami yang pernah mengunjungi kota tersebut sehingga kami kesana modal nekat dan google maps saja. Karena Ushiku tampak lebih menarik daripada Chikusei, aku dan Pak Yuli memutuskan untuk pergi ke Ushiku saja. Selain itu, sepertinya aku pernah melihat Patung Buddha Ushiku dari kejauhan saat aku pertama kali datang ke Jepang melalui jendela bis dari balik jalan tol (Baca Fumidasou! 1).

_____ Aku awalnya mengajak Pak Yuli, namun karena Pak Yuli merasa kalau berdua doang tidak ramai, maka aku mengajak mahasiswa UGM yang sama sama short stay di Tsukuba, yaitu Emmanuel dan Adrian. Berhubung ini pertama kalinya Pak Yuli berkenalan dengan mereka, jadi mula mula aku pergi menjemput Emmanuel dahulu di Asrama 36. Setelahnya kami pergi ke asrama 34, tempat Pak Yuli dan Adrian tinggal (Pak Yuli di lantai 1 dan Adrian di lantai 2). Pak Yuli tampak kaget karena beliau baru tahu kalau ada orang Indonesia juga di asramanya. Kamipun akhirnya segera keluar dan bersiap berangkat dari asrama 34 mulai pukul 8 pagi. Seperti biasa, Pak Yuli membawa pompa mininya untuk keadaan darurat dan mengajak kami untuk mengisi angin pada mesin isi angin di KASUMI dalam kampus. Dari sanalah kami mengawali perjalanan kami menuju Ushiku.

Rute dari asrama Ichinoya kampus Tsukuba ke patung Buddha Raksasa Kota Ushiku (source: google maps)

_____ Rute yang kami lewati adalah menuju bagian selatan Kota Tsukuba, melewati stasiun penelitian antariksa Jepang (JAXA). Terus saja lurus mengikuti jalan, melewati beberapa perempatan, terus, hingga sampailah kami di jalan yang terkesan antah berantah karena sudah tidak ada lagi bangunan bangunan rumah warga ataupun pertokoan. Disanalah kami harus sering sering lihat peta yang ada di HP ku, maka dari itu pada perjalanan ini aku tidak bisa mengambil banyak foto karena HP ku fokus digunakan untuk GPS saja (HP Emmanuel atau Adrian juga lebih joss untuk dipakai foto). Kami pun pada perempatan yang sepi tersebut berbelok kanan, menuju hingga menemukan daerah yang lebih ramai dengan pertokoan. Trotoar pun semakin sempit untuk sepeda dan orang berjalan, mungkin hanya bisa dilewati oleh 1 sepeda dan orang saja dan itupun orangnya perlu berjalan menyerong ketika berpapasan dengan sepeda. Maklum, kami sedang di tempat yang antah berantah, jadi trotoar sempit sepertinya hal wajar. Siapa sih yang mau jalan kaki di tempat gini?

_____ Kami terus menyusuri jalan yang lurus tersebut hingga mulai menjumpai area pertokoan tua yang berisi toko sepeda, bengkel, dan pabrik tua. Sepertinya keberadaan toko tersebut menandakan bahwa kami berada dalam rute yang benar. Firasat kami tersebut benar adanya karena di ujung jalan, terdapat perempatan dengan supermarket 7 Eleven di seberang kami (kami berada di trotoar kanan jalan dan 7 Elevennya ada di trotoal kiri). Kami pun menyeberang dan berhenti sejenak di 7 Eleven untuk beristirahat. Seperti biasa, Emmanuel dan Adrian merokok sembari meminum sekaleng kopi “Suntory BOSS” sedangkan aku dan Pak Yuli makan makanan ringan. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali dengan panduan google maps yang menunjukkan bahwa kira kira masih 10 km lagi menuju Patung Buddha Ushiku. Dari arah jalan yang kami lewati sebelumnya, rupanya destinasi kami berada di arah kiri dari perempatan sehingga kami hanya perlu lurus saja dari 7 Eleven.

Patung Buddha Ushiku dari dekat (source: @Himuraseta from https://pixabay.com/photos/buddha-ushiku-daibutsu-japan-5737891/)

_____ Jalan yang kami lalui memang sebagian besar mulus dan lurus, dengan sedikit gelombang naik dan turun pada kontur alamnya, namun jalanan terasa sangat membosankan karena hanya terdapat padang rumput, persawahan, dan sedikit rumah warga. Perasaan bosan kami berubah total pada suatu titik dimana kami harus mengikuti jalanan menanjak yang agak curam. “Nah ini dia, tenteng sepedanya atau tetap gowes ya.” pikirku dalam hati. Berhubung aku masih bugar dan merasa sanggup, aku pun tetap berusaha mengayuh. Sepertinya mengayuh bukan pilihan yang bijak karena mereka ber-3 memilih untuk turun dan berjalan sambil menenteng sepedanya. Alhasil aku menjadi kelelahan di puncak tanjakan, hahaha gegayaan sih kamu mal 😦 . Sesampainya di puncak tanjakan, barulah jalanan mulai asik karena lebih bergelombang, berkelok, dan banyak rumah rumah warga sehingga tidak monoton hijau melulu. Kami pun terus mengayuh mengikuti jalan tersebut hingga tiba di sebuah pertigaan besar. Google maps menyuruh kita belok kanan, tetapi jalanan di kanan tampak hanyalah daerah hijau dengan perkebunan, sawah, padang, dan hutan, sedangkan arah kiri tampaknya “lebih urban” karena terdapat beberapa rumah warga. Kami pun mengambil suara dan sepertinya kami akan mengikuti arahan Google saja.

_____ Setelah menyusuri jalan google maps, kami semakin merasa masuk ke dalam hutan dan daerah persawahan. “Ini bener nggak ya petanya ^.^” tanyaku dalam hati. Dari kejauhan memang sudah tampak kepala Patung Buddhanya, tetapi apa iya arahnya lewat sini? Karena merasa semakin jauh dari Patung Buddha, kami pun akhirnya mencoba melewati jalan kecil ke arah yang mendekati patung, mari kita langgar google mapsnya. Jalanan pun menjadi lebih naik turun dan sepertinya beneran masuk ke hutan, tapi saat kami lihat tamapknya kami bergerak menuju arah yang semakin dekat dengan lokasinya. Terus mengayuh, terus mengayuh….. hingga kami sampai di daerah kuburan dan Patung Buddha pun tampak semakin jelas. Oke, sepertinya kalau sudah dekat kami bisa mengandalkan common sensei dan matahari sebagai kompas saja. Kami pun bergerak lurus mengikuti patokan kepala Patung Buddha dan akhirnya sampai juga di tamannya. Jadi, rupanya Patung Buddha raksasa ini berada di sebuah taman yang dikelilingi kuburan. Sesampainya disana, kami pun mencari parkiran sepeda dan tempat istirahat karena sudah pukul 12 siang. Hal yang tak disangka adalah bahwa tempat ini cukup ramai dengan pengunjung, sangat kontras dengan area sepi berupa hutan dan kuburan yang tadi kami lewati.

Adrian dan patung Buddha Ushiku (source: Emmanuel’s gallery)
Berjalan diantara Patung Buddha, taman, dan kuburan (source: Pak Yuli’s gallery)

_____ Taman di sekitar Patung Buddha ini ada 2 area, yaitu area luar dan area dalam. Untuk area luar, terdapat pujasera, toko oleh oleh, dan tempat parkir, sedangkan untuk area dalamnya terdapat taman bermain kecil dan taman bunga. Berhubung sekarang sedang musim dingin, kami rasa tidak perlu menghabiskan uang untuk membeli tiket masuk agar bisa masuk ke taman bagian dalam karena taman bunganya pun sedang dalam fase dorman (alias layu). Ya, musim dingin di daerah yang menghadap ke Samudra Pasifik cenderung lebih gersang sehingga peluang turun salju pun lebih rendah dibanding daerah yang menghadap Laut Jepang. Oleh karena itu, tak heran jika saat musim dingin hanya dijumpai rerumputan yang kuning pucat – kecoklatan hingga pohon yang gugur pada daerah yang menghadap Samudra Pasifik Kami pun hanya duduk dan makan-makan saja di meja makan yang ada di bagian luar. Aku dan Pak Yuli pun bisa sholat zuhur bersama di pojok parkiran yang kosong. Seusai makan, kami hanya berjalan jalan sebentar untuk mengambil foto dan kemudian bersiap untuk kembali sebelum pukul 2 siang.

_____ Saat perjalanan pulang, kami mengikuti arah bis yang berada di depan kami. Bis tersebut melewati daerah perkampungan warga dan hutan yang sepertinya antah berantah bagi kami. Jalan pulang pun sepertinya terasa lebih ekstrim karena cukup sepi dan tidak ada trotoar untuk kami mengayuh sepeda sehingga kami pun harus megayuh pada bahu jalan. dan jalanannya pun cukup banyak naik turun serta kelokannya. Di ujung jalanan yang sepi tersebut, kami akhirnya menemukan sebuah perempatan 7 Eleven yang tadi kami kunjungi. “Hiyaa, ketemu lagi el” kata Adrian. “Tau gitu tadi kita lewat sini ya, jalannya lebih seru dan ngga ada tanjakan ekstrim kayak tadi” sambung Emmanuel. “Lain kali deh keliling sini lagi” lanjutku. Karena sudah familiar dengan arah setelah 7 Eleven, kami pun hanya tinggal mengikuti rute sebelumnya layaknya copy paste. Kami pun tiba di Tsukuba Center pukul 5 sore, bersamaan dengan langit yang sudah gelap.

_____ Aku pun memeriksa HP ku yang baterainya tinggal sekarat itu dan menerima pesan dari Enzo untuk ke restoran Tiongkok halal yang ada di daerah Amakubo 3. “Ada apaan disana?” tanyaku. “Udah kesini aja, makan bareng yuk, sama Fedi dan Kohei” jawabnya. Aku kemudian bilang ke Pak Yuli, Emmanuel, dan Adrian bahwa aku ingin berpisah di Tsukuba Center karena temanku mengajak makan di luar. Mereka pun mengiyakan da akhirnya kami berpisah. Sesampainya aku sampai di restoran Tiongkok halal tersebut, aku langsung kaget karena yang datang banyak sekali dan “HAPPY BIRTHDAY” teriak mereka semua. Wadaw…. Terima kasih semuanya yang sudah mengingat hari ulang tahunku. Kami pun mengahbiskan malam di restoran Tiongkok halal tersebut dengan beberapa makanan yang enak-enak. Jadi, rupanya yang tahu bahwa aku ulang tahun adalah Fedi, kemudian mengajak teman teman yang lain untuk datang juga. Xixixi

Ultah di restoran Uyghur (source: Kohei’s gallery)

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: