Fumidasou! 52 – Field Trip

_____ Pada pertengahan Desember lalu, Nomura Sensei mengajak anak-anak AIMS untuk field trip bersama. Field trip ini murni dirancang oleh koordinator program AIMS di Tsukuba, jadi tidak dipungut biaya apapun dari mahasiswa. Orang yang akan ikut serta dalam field trip ini tentu saja anak-anak AIMS, didampingi oleh Nomura Sensei, dan juga Kohei. Tak hanya akses perjalanan dan tempat yang dikunjunginya saja yang ditanggung oleh Universitas Tsukuba, tetapi juga sampai ke tingkat akomodasinya pun juga ditanggung, komplit. Rencananya, field trip ini akan berlangsung selama 3 hari dan berlangsung di beberapa kota berbeda. Selain itu, kita tak cuma sembarang field trip berisi jalan-jalan semata, tetapi kita juga akan belajar sesuatu yang Jepang banget. Apa itu? I’m glad you ask!. Mari kita simak saja di postingan-postingan selanjutnya.

_____ Pada hari Jumat itu, kami direncanakan untuk berkumpul bersama di halte bis kampus bagian pusat (大学中央, Daigaku Chuō) pada pukul 18.00. Karena hari Jumat aku masih ada kelas biologi dari Mr. Delmar hingga pukul 16.30, aku pun hanya punya waktu sebentar saja untuk bersiap siap. Beruntung, aku sudah mempersiapkan baju dan perlengkapan yang dibutuhkan dari beberapa hari sebelumnya agar nanti pada hari Jumat aku tinggal bersih-bersih dan angkut saja selepas kelas biologi berakhir. Seusai kelas Mr. Delmar, aku segera keluar dari kelas dan pergi menuju parkiran sepeda. Langsung saja, kukayuh sepedaku sekencangnya agar bisa sampai asrama secepat mungkin. Sesampainya aku di asrama pada pukul 16.45, aku langsung bergegas mandi dan menyiapkan bekal untuk makan malam nanti. Sebelum berangkat, tak lupa aku sholat maghrib terlebih dahulu karena tak yakin akan bisa sholat maghrib di perjalanan. Pada pukul 17.30, aku segera berangkat dengan sepedaku sambil membawa tas ranselku yang sudah penuh minta ampun itu sebagai perlengkapan 3 hari. Sesampainya aku di kampus bagian pusat, aku memarkir sepedaku di parkiran yang paling dekat dengan halte bis lalu berjalan menuju halte. Jam masih menunjukkan pukul 17.50, padahal langit sudah gelap gulita.

Sembari menunggu bis (source: Enzo’s gallery)

_____ Sesampainya di halte bis, tak kusangka aku akan bertemu seseorang, ya, Nomura Sensei. Memang yah, orang Jepang sangat memberi perhatian ekstra terhadap waktu. Padahal, kami dijadwalkan tiba jam 18.00 dan akan naik bis menuju Tokyo yang datang pada pukul 18.20, tapi Nomura Sensei sudah berdiri tegak di halte dengan santainya (sepertinya sudah disini agak lamaan). “Sensei, sudah lama menunggukah? Maaf aku baru datang” kataku sambil menunduk. Kenapa perlu sambil menunduk dan meminta maaf? karena kalau di Jepang jika kita datang lebih telat dari Senseinya (atau atasan tempat kerja), maka kita secara semu dianggap telat. “Ah nggak, baru 10 menit disini. Teman-temanmu mana mal?” tanyanya balik. “WHAT? 10 menit? betah amat di luar lama lama, di udara sedingin 5 derajat ini” pikirku. Aku pun menjawab pertanyaan Sensei, “Kayaknya baru berangkat deh sensei. Soalnya tadi saat aku berangkat naik sepeda, aku tidak ketemu siapapun di asrama”. “Hee~ begitu ya, semoga mereka nggak telat karena bisnya datang pukul 18.20”

_____ Pada pukul 18.10, sebagian besar dari merekapun tiba dengan bis dalam Kota Tsukuba yang berangkat dari depan asrama. Sensei dan aku pun menyambut mereka dan merasa lega karena kita semua tidak telat. Setelahnya datang juga 2 orang lagi dari parkiran menuju halte (sepertinya sih mereka naik sepeda). Setelah semua berkumpul, Sensei mengajak berfoto sebagai dokumentasi awal. Jadi, Sensei meminta kita untuk mendokumentasikan perjalanan dan mencatat apa saja hal yang penting untu selanjutnya dibuat laporan. Sensei kemudian mengatakan, “Untunglah semuanya datang tepat waktu, karena kalau kita telat kita harus naik bisnya sejam lagi” seru Sensei. Untunglah~~

Ayo masuk ke bis gaiss (source: Enzo’s gallery)

_____ Tak lama kemudian, bis pun tiba di halte. Yang masuk duluan adalah seorang bapak bapak yang tak kami kenal yang sudah mengantri lebih dulu di depan Sensei. Setelahnya barulah kami bisa masuk ke dalam satu per satu. Setelah 5 menit menunggu hingga 18.25 dan tak ada penumpang yang naik lagi, supir kemudian menutup bisnya secara otomatis dan bis pun mulai berjalan. Semua duduk secara berpasangan, 2 2, dan aku mendapat duduk bersama Kohei di baris depan, bersama dengan sensei di kursi seberang yang duduk seorang diri. Sensei kemudian bertanya padaku, “Ini pertama kalinya mal naik bis jarak jauh di Jepang?”. Aku pun menjawab, “iya sensei, pertama kalinya. Bahkan ini pertama kalinya saya ke Tokyo. Saya kaget ternyata tidak hanya kereta saja yang tepat waktu, tapi bisnya juga benar benar tepat waktu ya sensei, seperti yang dijadwalkan”. Suasana pembicaran kemudian menjadi sedikit hening, “nggak, bisnya nggak tepat waktu ini. Telat hampir 2 menit.” “Hah, iyakah sensei?” tanyaku padanya. Nggak sangka ternyata beneran se-strict itu dengan waktu ya orang Jepang.

_____ Perjalanan kami berlangsung selama sekitar 90 menit menuju Stasiun Ueno di Tokyo. Stasiun Ueno adalah salah satu stasiun besar di Tokyo yang memuat banyak moda transportasi, mulai dari kereta lokal, shinkansen, bis, hingga kereta bawah tanah. Selama perjalanan kesana, kami beberapa kali berhenti baik di Kota Tsukuba sendiri maupun di kota setelahnya hingga jalan tol. Kami banyak bercanda dan berbagi makanan selama di perjalanan karen Sensei pun juga ikut bagi bagi makanan. Selama menjaga kebersihan, hal tersebut tidak masalah, karena pak supir juga membolehkan dan saat itu bis tidak memiliki penumpang lain selain kami pada kebanyakan waktu. Serasa nyarter bis ya, ihihi.

Halte bis depan Stasiun Ueno (source: personal snapshot)
Jalan raya Tokyo dari jembatan Stasiun Ueno (source: personal snapshot)
Dari Jembatan Stasiun Ueno menuju bagian dalam stasiun lantai 3 (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di seberang Stasiun Ueno, Sensei mengarahkan kami untuk naik jembatan penyeberangan yang terhubung dengan lapangan parkir stasiun. Jalanan di Tokyo tampak sepi pada malam itu, setidaknya untuk daerah Ueno. Kami kemudian langsung masuk menuju stasiun yang super besar itu (3 lantai yang luas banget, berikut 1 lantai bawah tanah). Di dalamnya kami dibuat takjub (baca: norak) karena pertama kalinya masuk stasiun sebesar ini. Bahkan, bagiku stasiuin ini lebih besar daripada Stasiun Tsuchiura, bahkan Stasiun Mito yang notabene merupakan stasiun pusat Ibukota Prefektur. Kami kemudian menuruni eskalator dan pergi ke lantai dasar. Sensei kemudian membagikan tiket shinkansen kepada kami sebelum masuk gerbang. “Kohei dan yang lainnya kemana?” tanya Sensei tiba-tiba. Tak satupun dari kami yang melihatnya. Tiba beberapa orang yang menghilang muncul dari arah yang berlawanan sambil membawa makanan, “maaf, tadi kami ke toilet dulu dan jajan” katanya sambil terengah-engah. Sensei pun mengiyakan lalu menyuruh mereka untuk masuk gate terlebih dahulu.

Suasana dalam Stasiun Ueno (source: personal snapshot)
Gerbang menuju peron shinkansen (source: personal snapshot)
Sensei sedang memeriksa keberangkatan kereta (source: personal snapshot)
Papan digital stasiun (source: Shauna’s gallery)

_____ Ini adalah kali pertamanya aku naik sebuah kereta cepat. Meskipun kini shinkansen bukanlah yang paling cepat di dunia (tapi masih masuk 5 besar sih), namun kereta ini merupakan kereta cepat pertama di dunia. Di depan kami sudah ada shinkansen berwarna hijau yang sedang dinaiki orang orang. Karena shinkansen kami baru tiba pada pukul 20.50, kami masih punya waktu 20 menit lagi untuk menunggu. Bwoooshh, hembusan angin dari shinkansen hijau yang baru saja berangkat benar benar kencang, sampai terasa ke bagian tengah peron meskipun peronnya cukup luas dan terdapat pembatas peron. Meskipun cepat, kereta ini tidak terlalu berisik dengan suara gruduk-gruduk maupun suara mendecit dari remnya, benar benar mulus pokoknya. Setelah selang 2 kereta shinkansen lewat, akhirnya kereta kami tiba juga, tepat pada pukul 20.50 dan berhenti tepat pada bukaan gerbang pembatas peron sehingga antara pintu dan garis peron benar benar lurus. Sugoi~

Karcis naik shinkansen PP (source: personal snapshot)
Shinkansen yang baru datang di peron seberang (source: personal snapshot)
Majalah di depan kursi shinkansenku (source: personal snapshot)

_____ Saatnya mencari tempat duduk kami di dalam gerbong. Aku mendapat duduk diantara Enzo dan Shauna di kursi 13 ABC, sedangkan yang lain ada di 14 ABC, 15 ABC, dan seterusnya. Pemandangan malam dari shinkansen sungguh menakjubkan, bagaikan melewati lautan bintang gemerlap ibukota dengan cepatnya. Selain itu, suasana di dalam shinkansen sangatlah tenang dan benar benar tidak berisik. Perjalananpun terasa sangat mulus tanpa suasana naik turun yang menggetarkan, bahkan minum Enzo yang ada di meja tempat duduk pun tidak terjatuh. Tidak seperti kereta biasa, di dalam shinkansen kita diperbolehkan untuk makan asalkan tetap menjaga kebersihan. Dalam waktu yang tidak lama, kereta sudah keluar dari Daerah Khusus Ibukota Tokyo (Tokyo itu prefektur ya, bukan kota) dan menuju area yang agak pedesaan. Pada pukul 21.34, kami sudah tiba di stasiun tujuan, yaitu Stasiun Utsunomiya di Prefektur Tochigi. Perjalanan benar berjalan dengan tepat waktu karena Senseipun tidak terlihat gusar ataupun protes dengan ketepatan waktunya. Yeay, akhirnya sampai di kota pertama.

Ada sepasang mata memandang (source: Nanaris’ gallery)
Sampai di Stasiun Utsunomiya (source: Enzo’s gallery)

_____ Kota Utsunomiya (宇都宮市) merupakan kota terbesar di Prefektur Tochigi. Di kota inilah kami akan menginap di sebuah love hotel hotel bisnis yang bernama Tōyoko Inn, sebuah franchise hotel bisnis yang sudah ternama dan tersebar di penjuru Jepang. Karena hotel bisnis, jadi hotel ini memang ditujukan untuk karyawan yang sedang dinas ke luar kota ataupun yang mencari penginapan dengan harga miring sehingga tampaknya memang pas bagi kami. Hotel tempat kami menginap berada hanya dalam jarak berjalan 5-10 menit dari stasiun sehingga aksesnya cukup terjangkau. Saat check-in, kami diminta untuk menunjukkan paspor dan kartu izin Jepang kami satu per satu. Setelah check-in, masing masing mendapatkan kunci kamarnya, ada yang tidur sendiri dan ada yang tidur berdua. Beruntung, aku adalah cowok Indonesia sendiri sehingga aku mendapat kamar sendiri, berbeda dengan Mizan yang pasti sekamar dengan Ezwan, ataupun Enzo yang sekamar dengan Bosh. Kamarku terletak di lantai 4 sehingga tidak perlu berada di lift lama lama.

Hotel Tōyō Utsunomiya, tempat menginap di malam pertama (source: Nanaris’ gallery)

Kamar hotel Toyoko Inn Utsunomiya (source: personal snapshot)

_____ Saatnya masuk kamar! Kamarnya tampak minimalis, tapi compact dengan seluruh perabotan dan peralatan yang ada. 1 kamar berisi lemari pakaian, baju ganti untuk tidur, kamar mandi super canggih, TV, kulkas, pemanas air, AC, pelembab ruangan, kasur dengan selimut 2 lapis, bahkan tersedia juga hair dryer dan setrika (ini hotel apa kosan sih). Tak luput juga terdapat barang standar yaitu sandal kamar, peralatan mandi, dan sebungkus teh, kopi, dan gula speerti hotel di Indonesia. Seusai berberes isi tas, aku mendapat pesan LINE dari teman teman untuk berkumpul di lobby.. Wah ada apa ya? oke aku kesana deh!

_____ Setelah berkumpul di Lobby, ternyata beberapa anak mengajak untuk berkeliling kota sedikit. Oke lah, beberapa dari kami pun menyanggupi untuk berjalan mengitari kota. Kami pun berjalan menuju stasiun, kemudian ke arah gedung gedung yang ada di depannya hingga mencapai sebuah sungai. Suasana kota sudah sangat sepi dan hanya terdapat sedikit mobil saja yang melintas selama kami berjalan-jalan. Bentuk kota ini mirip seperti Jakarta Barat (tepatnya daerah grogol) kalau malam dengan gedung gedung kotak merapat ala tahun 80-90 an. Sesampainya di dekat sungai, kami nongkrong sebentar di 7 Eleven untuk membeli makanan dan beberapa minuman kaleng seperti jus dan soda. Udara memang sedang dingin hingga 5 derajat, namun karena kami membeli makanan hangat dan minuman hangat, hal tersebut tampaknya tidak terlalu masalah. Kemudian kami kembali lagi ke arah hotel melewati stasiun dan disana kami melihat kelompok pengamen. Ada pengamen juga ya~

Mizan & Stasiun Utsunomiya (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di hotel, kami langsung kembali ke kamar masing masing karena sudah hampir pukul 11 sedangkan besok kami harus berangkat cukup pagi. Aku pun segera mandi dan sholat isya di kamar, kemudian membuat teh. Penghangat ruangan kusetel hingga 24 derajat agar sesuai dengan suhu normal bagi orang Indonesia. Maklum, di dalam asrama aku hampir tidak pernah menyalakan penghangat ruangan agar mengirit biaya listrik. Aku pun menonton TV sebentar, namun seluruh channel TV nya adalah TV Jepang yang aku sama sekali tidak mengerti. Baiklah…. sepertinya aku harus tidur~

_____ Keesokan paginya, aku bangun pukul 5 pagi dan beres beres isi tas. Waktu subuh dimulai pada pukul setengah 6 pagi sehingga aku pun mandi dahulu sebelum sholat. Seusai sholat dan beres beres, aku meninggalkan kamar pada pukul 6 pagi untuk sarapan di ruang makan yang terletak di sebelah lobby sesuai anjuran Sensei. Disana, tentu sudah ada orang yang paling tepat waktu, yak, Sensei sendiri yang sedang mengantri di belakang belasan orang. “Waw, antirannya rapi sekali” pikirku. Semua orang berbaris dalam 1 barisan yang mengular naga untuk masuk ke ruang makan sambil menunggu ruangan tersebut dibuka. Sensei kemudian bertanya padaku, “Yang lain udah bangun belom mal?”. “Waduh…. harusnya udah kali sensei, kan harus sholat subuh atau mandi dulu mereka” jawabku enteng. Kemudian datanglah ke dalam antrian 2 orang Thailand, Gaew dan Nana yang tampak sudah segar bugar setelah mandi. Ketika pintu ruang makan dibuka pada pukul 06.15, kami pun masuk 1 per 1, dimulai dari bapak-bapak yang tampaknya karyawan kantor yang berbaris paling depan.

_____ Jadi, konsep sarapan kali ini adalah prasmanan. Setiap orang bebas mengambil nasi dan sup miso yang ada, namun untuk tamagoyaki, karaage, caesar salad,, dan lainnya sudah ada petugas yang memorsikannya. Terdapat pula roti tawar dan soba dingin sebagai sarapan di ujung lainnya yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak makan nasi. Mewah sekali ya…. kami pun segera mengambil bagian secukupnya. Saat mulai mengambil, teman teman yang lain pun tiba. Aku, Gaew, dan Nana melambaikan tangan dan memanggil mereka untuk kemari. Setelah mengantri, kami pun bisa mengambil meja agar kami bisa makan bersama sama. 1 meja yang berisi 4 kursi itu diisi olehku, Shauna, Gaew, dan Nana. Kami pun kemudian mulai sarapan. Itadakimasu~

Stasiun Utsunomiya di pagi hari (source: personal snapshot)

_____ Seusai makan, Shauna bertanya, “enak banget deh makanannya. Boleh nggak ya dibungkus buat makan siang nanti takutnya pada mahal di lokasi?”. “Wah aku nggak tau tuh. Boleh kali kalo masih banyak” kata kami ber 3. Shauna pun kemudian mengeluarkan kotak bekalnya dan berniat untuk kembali ke prasmanan untuk mengambil makanan lagi sebagai bekal. “Ehh~ chotto matte. Tunggu shaun, barengan aja sama aku” kataku sambil menahan Shauna di meja agar mengambil makanan bareng untuk digunakan sebagai bekal. Aku segera berlari menuju lift dan masuk kamar untuk mengambil kotak bekal lalu kembali lagi ke ruang makan, tepatnya ke meja kami ber-4. Kami pun mendapat ide yang lebih baik, “Gimana kalau kita bawa piring aja lalu pas di meja baru dimasukin kotak bekal hehehe.. Biar ngga ketauan mupeng gitu”. Akhirnya aku dan Shauna berjalan menuju prasmanan dan mengambil nasi serta lauk yang diinginkan untuk dimasukkan ke kotak bekal. Tak lupa, kami juga membawa kecap asin dan furikake (abon khas Jepang yang biasanya terdiri dari ikan dan telur) sachet ke meja kami. Setelahnya, kami perlahan lahan memasukkan makanan tersebut ke kotak bekal kami dan meletakkan piring yang sudah bersih kembali ke atas meja dengan memasang wajah polos fu fu fu. IRIT IRIT CLUB, LET’S UNITE!

Kemanakah kereta yang akan membawa kami? (source: personal snapshot)

_____Seusai makan, kami meletakkan piring dan peralatan makan kotor ke tempat yang sudah disediakan. Yossh.. sudah kenyang dan dapat “jarahan”, saatnya kembali ke kamar dan membawa tas besar bersamaku menuju lobby. Kami berkumpul di lobby pada pukul 7 pagi, sesuai dengan arahan sensei dan bersiap sap untuk checkout. Seusai checkout, kami berjalan menuju Stasiun Utsunomiya dan bersiap untuk naik kereta selanjutnya menuju salah satu tempat yang paling bersejarah di Jepang. Dimana itu? Mari nantikan di postingan selanjutnya!!!

*Beberapa dari foto dalam slideshow diatas merupakan dokumentasi milik anak AIMS Fall 2018

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: