Fumidasou! 56 – Daruma

_____ Setelah mengdengar penjelasan dari pak pemandu, kami diberikan waktu oleh Nomura Sensei untuk berkeliling dan mempelajari sendiri produksi sutra di pabrik ini, baik mekanisme, sejarah, ataupun tentang sutranya itu sendiri. Aku berkelompok dengan Gaew, mahasiswi asal Thailand jurusan pertanian yang pastinya lebih kenal dengan serangga dan ulat dibandingkan aku. Pertama-tama, kami mengunjungi musium pabrik yang terletak di sisi gudang yang berlawanan dari gudang tempat nenek pemintal benang. Di dalam musium, terdapat siaran berupa sejarah musium dalam Bahasa Jepang (tapi ada takarir Bahasa Inggrisnya kok) yang menjelaskan alasan kenapa pabrik ini didirikan, sejarah perkembangannya, hingga penutupannya dan mendapat gelar kehormatan sebagai cagar budaya dari UNESCO. Penontonnya kebanyakan anak-anak yang didampingi orang tuanya, tapi kami cuek saja karena toh kita juga sama-sama sedang belajar ya kan. Dari situlah kami mengetahui bahwa pakan ulat terbaik akan menghasilkan sutra terbaik pula, dan salah satu pakan terbaiknya adalah daun mulberry atau biasa disebut “kuwa (桑)” dalam Bahasa Jepang.

Miniatur bangunan pabrik benang sutra Tomioka (source: Gaew’s gallery)

Maket bangunan desa dan purwarupa bangunan desa masa depan (source: my gallery & Gaew’s)

Sertifikat penghargaan UNESCO (source: personal snapshot)

_____ Setelah siaran selesai, kami berkeliling musium dan melihat banyak sekali miniatur bangunan serta maket beberapa tempat. Yang pertama adalah miniatur bangunan pabrik ketika masih awal berdiri ketika pabrik hanya berisi kantor, gudang, dan tempat produksi saja (sebelum ruang produksi ditambah pada bangunan terpisah). Setelah pabrik berkembang, barulah muncul bangunan-bangunan lainnya seperti puskesmas, ruang rapat (yang selanjutnya jadi rumah manajer pabrik), rumah monsieur Brunat sebagai pakar dari Perancis, dan sebagainya. Di antara maket-maket tersebut juga terdapat maket beberapa bangunan yang ada di Kota Tomioka ini, seperti Stasiun Tomioka (sebelum renovasi), rumah penduduk desa, hingga terdapat rancangan rumah beserta cellar bagi penduduk desa. Di sisi yang lain, dipajang pula sertifikat penghargaan dari UNESCO untuk pabrik ini. Walaupun bangunan musium ini merupakan bekas pabrik yang didirikan pada tahun 1872 dan tidak dicat/disemen temboknya (dibiarkan bertembok batu bata saja).

Siklus hidup ulat sutra dan transfer massa produksi benang sutra dari daun mulberry (桑) (source: personal snapshot)

_____ Kemudian terdapat pameran berupa siklus hidup ulat sutra yang diternakkan di pabrik tersebut. Sama seperti yang kita pelajari sewaktu SD, siklus hidup ulat dimulai dari telur, kemudian berkembang menjadi larva (ulat), kemudian kepompong, dan diakhiri dengan kupu kupu. Pada grafik lingkaran diatas, terdapat contoh fase makhluknya juga yang dibagi menjadi 10 fase yang lebih mendetail. Dan disebelahnya terdapat diagram alir massa yang dibutuhkan untuk membuat 1 helai kain sutra seberat 700g. Rupanya, untuk membuat kain sutra tersebut kita membutuhkan daun kuwa hingga sebanyak 98 kg. Yaampun, banyak juga ya! Makanya, hemat-hematlah pakaian kalian!

Bangunan yang ada di daerah pabrik: (1) Rumah kepala pabrik; (2) gudang lama dan kantor baru; (3) spot foto di belakang gudang lama; (4) balairung pabrik; (5) ruang produksi tampak samping; (6) rumah monsieur Brunat; (7) puskesmas pabrik (source: my gallery & Nanaris’)

_____ Seusai belajar hal hal baru di musium, kami berjalan keluar menuju beberapa bangunan yang ditunjukkan dalam maket / miniatur. Sejauh ini kami menemukan seperti slideshow gambar diatas. Secara keseluruhan, bangunan tersebut tergolong terawat dengan baik, hanya saja rumah ala Jepang milik mantan kepala pabrik karena jendelanya tampak berdebu. Sayangnya kita tidak bisa sembarangan masuk ke bangunan tersebut karena tidak dibuka untuk umum. Jadi kami hanya bisa berfoto dan berkeliling dari luar saja

Mengintip bekas rumah pemilik pabrik benang sutra Tomioka (source: personal snapshot)
Penampakan gudang tua pabrik (source: personal snapshot)
Karung berisi gumpalan sutra (source: personal snapshot)

_____ Setelah berkeliling wilayah, kami naik ke tangga menuju bagian atas gudang. Disana terdapat display sisa sisa bagaimana penyimpanan pada zaman dahulu dilakukan. Gudang dibuat beratap tinggi dan memiliki ventilasi yang bagus untuk menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Terdapat pula karung-karung berisi sutra (gatau ini replika apa asli ya) yang terletak di beberapa sudut ruangan dan kereta dorong. Karena gela dan sepi, kami merasa tempat ini cocok banget buat tempat uji nyali. Tapi apakah hantu Jepang akan bergentayangan di tempat ini? Hiii~ serem ih, yuk keluar!!!

_____ Setelah keluar, kami menuju tempat dimana teman-teman yang lain sedang berkumpul. Mereka berkumpul di depan balairung pabrik yang terletak di dekat tebing. Ternyata, pabrik ini didirikan di tebing tepi sungai dan dari tebing berpagar ini kami bisa melihat ke seberang sungai. Ternyata pemandangannya bagus juga karena kami bisa melihat kota dari kejauhan yang berbalut rerumputan yang berwarna hijau kekuningan. Sambil menikmati segarnya angin musim dingin yang diterangi mentari, kami memandangi pemandangan yang indah ini. Setelah waktu menunjukkan pukul 14.45, kami berkumpul ke bagian depan pabrik untuk bertemu dengan Sensei.

Menghadap sungai di seberang pabrik (source: personal snapshot)

_____ Setelah berkumpul di depan, kami diminta untuk berfoto bersama pak pemandu dan juga ikon kota ini, yaitu gadis pemintal benang “Otomi-chan”. Di tiap kota di Jepang umumnya ada emblem unik tertentu berikut maskot yang ikoni khas kota masing-masing. Karena kota ini terkenal dengan pemintal benang sutranya, tentu saja ikonnya seorang pemintal benang. Prefektur Gunma sendiri, karena memiliki nama “kuda” di dalam kanji prefekturnya, maka maskotnya pun kuda. Nah, berhubung Otomi-chan sudah siap untuk berfoto, mari kita berfoto bersama.

Badut gadis pemintal benang Otomi-chan (source: Nanaris’ gallery)
Berfoto bersama pak pemandu dan Otomi-chan (source: personal snapshot)

_____ Seusai berfoto, kami pun pamit kepada Otomi-chan dan pak pemandu untuk keluar dari pabrik. Kami berjalan keluar dari pabrik pada pukul 15.00 kurang sedikit. Selama perjalanan kembali ke stasiun pun jalanan masih tetap sepi. Namun karena kami melalui jalan yang berbeda dari sebelumnya, kami menemukan lahan kosong berisi lampion-lampion buatan warga. Sayang, hari belum gelap sehingga lampion-lapion tersebut tidak dinyalakan. Tak lama kemudian kami pun tiba di Stasiun Tomioka. Karena terdapat patung ikon kota Otomi-chan, aku pun juga memotretnya sebagai kenang-kenangan.

Pameran lampion di lahan kosong kota (source: personal snapshot)
Patung ikon kota: Otomi-chan (source: personal snapshot)

_____ Namun, karena kereta selanjutnya baru ada pukul 16.22 dan sekarang masih pukul 15.30, maka kami menunggu di dalam ruang tunggu. Mumpung sedang menunggu, aku juga tak lupa untuk mengecas HP yang sudah tinggal setengah baterainya. Ruang tunggu yang kami singgahi cukup nyaman karena sangat bersih dan rapi, lengkap dengan sofa empuknya dan mesin penjual otomatis di pojokan. Beberapa orang tampak sudah lelah karena saking banyaknya berjalan hari ini, mulai dari hotel, stasiun, hingga Kota Tomioka pun banyak berjalan. Aku sepertinya masih punya cukup energi karena sudah makan cukup banyak tadi pagi dan akupun juga sudah terbiasa untuk berjalan menembus udara musim dingin Jepang (akibat irit duit naik bis). Setelah mengecas HP hingga seian persen, kereta menuju Takasaki pun datang. Kami semua pun segera masuk dan beberapa diantaranya langsung terlihat sudah tepar.

Stasiun Tomioka di sore hari (source: Nanaris’ gallery)
Semuanya sudah lelah (source: personal snapshot)

_____ Semuanya tampak sudah tepar kecuali Aku, Kohei, dan Nomura Sensei. Karena aku duduk dekat Sensei, aku pun bertanya padanya apakah memang kalau musim dingin sekering ini suasana musim dingin di Jepang. Sensei pun menjawab, “iya benar. Karena udara musim dingin di Jepang selain dingin juga kering, terlebih bagian yang menghadap laut pasifik. Makanya hampir tidak bisa menanam apa apa. Paling yang masih bisa tumbuh cuma daikon (lobak putih)” . “Terus makan nasinya gimana sensei? apa ganti makan daikon dan yang lain kayak ubi?” tanyaku lanjut. “Makan nasi sih tetap. kan setahun Jepang itu bisa panen beras sampai 6x panen dengan produktivitas tinggi juga. Tapi itu biasanya nasi yang dipanen di musim gugur.” jawabnya. Hee~, aku pun terkagum kagum.

_____ “Eh tapi Jepang juga punya masalah lain karena produktivitasnya yang kelewat tinggi itu.” sambungnya. Aku pun bertanya karena penasaran, “lho kenapa bermasalah kalau produktivitasnya tinggi sensei? bukannya malah enak supply beras selalu terjaga?”. Sensei pun menambahkan, “kalau lebih sedikit sih nggak apa apa, masalahnya ini kelebihannya banyak banget. Apalagi anak muda zaman sekarang konsumsi nasinya mulai jarang karena lebih sering makan roti. Alhasil berasnya banyak yang membusuk di gudang bulog”. Aku pun bereaksi setelah mendengar jawaban epik tersebut, “heee…. bisa begitu ya sensei. Kenapa nggak diekspor aja ya sensei?”. Sensei pun menjawab, “kan kamu tahu kalau beras jepang itu butir bulat, pulen, dan lengket. Emang berapa banyak negara yang bisa makan beras yang lengket begitu? Paling cuma sedikit demandnya. Selain itu, beras Jepang juga lebih mahal kan dibandingkan beras negara lain.” Heee~ iya juga ya.

Kereta api zaman baheula (source: personal snapshot)

_____ Sebelum sampai di Stasiun Takasaki, Sensei, aku, dan Kohei membangunkan teman-teman yang tertidur agar melek dulu. Sesampainya di Stasiun Takasaki pada pukul 5 sore tepat, kami diberikan waktu oleh Sensei hingga pukul setengah 6 sore untuk berjalan-jalan di stasiun, membeli oleh-oleh, ataupun makan. Beberapa orang seperti geng Brunei dan Filipina sudah ngelayap duluan sedangkan di tempat masih tersisa Fedi, Nana, Reen, Rae, Camille, dan Kohei. Fedi, Nana, Reen, dan Rae berniat pergi membeli makan, sedangkan Kohei dan Camille berencana mencari oleh oleh berdua. Karena itu, aku dan Gaew berencana membeli oleh-oleh bersama karena kami sama-sama punya kendala yang sama dalam memilih makanan yaitu BAHAN HEWANI. Sebelum pergi, aku memberikan roti yang kubeli semalam sebelumnya di supermarket kepada Gaew untuk dijadikan makan malam karena ia hanya bisa makan yang seukuran kepalan tangan untuk makan malam.

_____ Di toko oleh-oleh, kami membeli makanan yang memiliki kandungan se-nabati mungkin, dan untungnya ketemu lho, yaitu kue berbentuk daruma, khas kota Takasaki. Omong-omong soal daruma, daruma adalah lambang Kota Takasaki karena kota inilah tempat kelahiran figurin berwajah manusia warna merah berbentuk semi bundar tersebut. Daruma juga memiliki makna tersendiri, yaitu seberapapun terjatuh, kita harus tetap tegak berdiri. Mengapa demikian? Karena saat daruma digulingkan, ia pun segera membalik ke bentuk semula, menghadap depan kembali, dan itulah semangat yang harus ditanamnkan ke dalam tiap individu (kata kata motivasi dari kemasan oleh-oleh). Seusai waktu yang ditentukan tiba, kami segera menuju peron shinkansen untuk naik shinkansen menuju Tokyo. よ~帰るぞ~

Daruma, simbol dari semangat yang pantang tergelincir (source: personal gallery, taken by Gaew)

_____ Kereta shinkansen yang akan kita naiki berangkat pada pukul 17.42. Kereta kali ini cukup spesial karena memiliki 2 tingkat. Hah, 2 tingkat? Iya, jadi ada shinkansen yang memiliki 2 tingkat, ada yang memiliki gerbong tidur, dan ada juga tipe tipe lainnya. Karena untuk kereta yang ini Nomura Sensei tidak membelil kursi pesanan, maka kami naik seadanya aja, disaat ada kursi kosong, disitulah kami embat, hahaha. Untungnya, aku mendapat kursi di lantai 2 sehingga bisa melihat pemandangan dari sudut elevasi yang lebih luas. Kereta yang kami naiki tiba di Stasiun Tokyo pada pukul 18.40 petang. Disanalah kami berpisah dengan Nomura Sensei karena Nomura Sensei telah dijemput oleh istrinya. Kami semua kaget karena rupanya istri Nomura sensei tidak disangka-sangka sangat cantik, dan ternyata orang asing (orang Thailand). Setelah membelikan tiket bis, Nomura Sensei pun pergi meninggalkan kami untuk pulang bersama istrinya. Kami akhirnya mengantri di antrian masuk bis menuju Tsukuba.

Shinkansen dari Stasiun Takasaki menuju Stasiun Tokyo (source: personal gallery)

_____ Antrian masuk bis ternyata sangat panjang, sehingga kami baru bisa masuk pada hampir pukul 8 malam. Aku duduk di depan bersama Enzo, sedangkan yang lain duduk di belakang, baik sendiri, bercampur dengan orang lain, maupun berpasangan dengan sesama teman AIMS. Tak disangka, perjalanan kami usai begitu cepat. Meski begitu, kami sangat menikmatinya, baik kenangan maupun lelahnya. Untungnya, aku sudah menyiapkan makan malam berupa bekal yang kusiapkan dari hotel pada pagi harinya. Aku menawari Enzo sebagian makananku, namun ia hanya mengambil yang roti saja, masih agak kenyang katanya setelah makan di Stasiun Takasaki tadi. Ok, baiklah kalau begitu. Perjalanan kami berakhir pada pukul 9 malam di halte bis kampus pusat, sama dengan halte bis keberangkatan. Setelahnya, aku membuka kunci sepedaku dan mengayuh secepat mungkin menuju asrama. Sesampainya di asrama, aku langsung mencuci kotak makanku dan mandi, kemudian sholat isya yang dijamak dengan maghrib. Karena sudah sangat lelah, aku pun tertidur tanpa sempat bermain HP lebih lama lagi. Inilah cerita akhir dari field trip kali ini, lain kali kemana lagi ya??? sudah ah tidur dulu, lelahnya~本日お疲れ様でした。

Tokyo skytree dan keheningan malam dari balik jendela bis (source: Nanaris’ gallery)

*Beberapa dari foto dalam slideshow diatas merupakan dokumentasi milik anak AIMS Fall 2018

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: