Fumidasou! 58 – Kali Pertama ke Tokyo

_____ Libur saat natal? NO. Libur sehari setelahnya? YES. Begitulah kejadian yang aku alami selama berada di Jepang. Jadi, libur nasional bukan jatuh pada tanggal 25 Desember, melainkan pada 26 Desember karena hari itu merupakan hari ulang tahun kaisar. Karena sedang libur, maka aku mengajak Taiga sang virtuoso pemain flute untuk menemaniku berkeliling di daerah rumahnya di Saitama. Tetapi karena Taiga bilang di daerah rumahnya tidak ada apa apa, hanya sebatas kota “tidur” alias kota untuk singgah dan menetap bagi yang kerja di Tokyo, maka ia pun menyarankan untuk pergi ke Tokyo bersamanya sambil dikenalkan tempat-tempat yang bagus di Tokyo. “Waah leh uga tuh!” pikirku. Kami pun akhirnya berencana untu ke Tokyo saja, mengunjungi beberapa tempat yang sekiranya cukup untuk dikunjungi dalam sehari. Maklum, aku sama sekali belum pernah ke Tokyo secara “benar“, alias bukan cuma sekedar numpang lewat atau transit aja. Makanya aku ngebet pengen tau suasana kota besar di Jepang itu seperti apa sebelum aku kembali pulang ke Indonesia.

“Apalagi Tokyo bukan hanya sekedar kota besar, tapi kota yang SUPER BESAR”

Aku

_____ Hari itu langit berwarna kelabu dan sedikit gerimis, dengan suhu udara yang sedikit lebih hangat dari biasanya yaitu sekitar 7-9 derajat. Karena aku sama sekali belum pernah ke Tokyo, maka Taiga pun mengajakku pergi ke sana dengan Tsukuba Express. Tsukuba Express-tte nani? Tsukuba Express teh naon? Itu loh, kereta yang menghubungkan langsung dari Kota Tsukuba hingga ke pusat Tokyo dalam sekali jalan, yang bisa dinaiki dari Tsukuba Center. Karena ada Tsukuba Express inilah, perjalanan orang PP dari Tsukuba-Tokyo menjadi lebih mudah dan cepat, termasuk perjalananku kali ini dengan Taiga. Kami berencana berangkat dari Stasiun Tsukuba yang berada di Tsukuba Center (bagian bawah tanah) pada pukul 10 pagi. Karena sedang senggang dan emang lagi pengen jalan-jalan, Taiga rela jauh jauh menjemputku dari Stasiun Terakhir Tsukuba Express, yakni Stasiun Tsukuba. Aku pun datang tepat waktu sesuai dengan waktu yang dijanjikan, yaitu pukul 09.45 di depan konbini Family Mart di stasiun.Taiga pun tak lama muncul dari balik gate masuk ke peron, pertanda bahwa kereta yang ia naiki sudah sampai.

_____ Di dalam Stasiun Tsukuba, kami merencanakan akan pergi ke mana saja. Taiga menawarkan 2 rencana padaku, yaitu Tokyo tradisional atau Tokyo modern. “hmmm. pilihan yang sulit” pikirku. Aku pun menjawab sambil bertanya kepo, “gimana kalau fifty-fifty aja biar ngerasain keduanya. Enaknya turun dimana ya naik Tsukuba Expressnya?”. “Setengah yah, yaudah gimana kalau siangnya tradisional trus baru malemnya yang rada modern? Kita turun di Asakusa dulu berarti”. jawabnya. Oke kalau begitu, kami pun memutuskan untuk pergi ke Asakusa sebagai tujuan pertama kami. Kami melihat ke peta yang tertera di atas mesin tiket dan harga tiket menuju Stasiun Asakusa adalah 1030 yen untuk orang dewasa (134.000 rupiah, kurs 1 yen = 130 rupiah) dan separuh harga untuk anak-anak. Waw, ongkosnya lumayan mahal ya ternyata kalau dirupiahkan, untung aku masih ada sisa uang dari mengajar di SMAN 1 Tsuchiura waktu itu (lihat Fumidasou! 37). Untuk naik keretanya, kita bisa memakai tiket sekali jalan yang dibeli di mesin tiket, menggunakan kartu prabayar yang kompatibel (PASMO, SUICA, dll), ataupun menggunakan ApplePay yang sudah terintegrasi dengan PASMO & SUICA. Karena aku tidak punya kartu prabayar tersebut, jadi aku membeli tiket di mesin tiket. Karena Taiga sudah memiliki ApplePay yang terintegrasi dengan SUICA di IPhone nya, maka ia pun tinggal tap dan cuss~ masuk.

Floor plans Stasiun Tsukuba ( source: mir.co.jp )

_____ Bicara soal Tsukuba Express, layanan kereta ini memang menakjubkan, mulai dari stasiunnya hingga keretanya sendiri. Stasiunnya dirancang untuk ramah disabilitas karena dilengkapi dengan pattern block yang terawat dan terpasang rapi di dalam stasiun maupun luar stasiun. Tak hanya itu, terdapat eskalator dan lift untuk penyandang disabilitas. Mesin tiketnya pun juga dirancang agar ramah disabilitas dan anak-anak dengan menyesuaikan tinggi rata-rata orang Jepang dan menghadap condong ke bawah sehingga pengguna kursi roda dan anak anak masih bisa memencet tombol mesin dengan mudah. Toiletnya pun bersih terawat serta terdapat toilet untuk penyandang disabilitas yang lega banget agar dapat melakukan aktivitas di toilet dengan aman dan nyaman. Sepertinya MRT Jakarta juga dikabarkan akan memiliki fasilitas yang serupa, atau paling tidak mendekati dengan standar stasiun kereta Jepang. Salut deh~

_____ Setelah masuk ke dalam gate, aku melihat di papan mading bahwa kereta Tsukuba Express ini terbagi menjadi 4 jenis yaitu Rapid, Commuter-rapid, Semi-rapid, dan Local. Kereta jenis rapid dirancang untuk berhenti pada hanya 9 stasiun saja (stasiun awal dan akhir serta stasiun yang bisa nyambung ke stasiun lainnya), jenis commuter-rapid yang berhenti pada 12 stasiun, semi-rapid yang berhenti pada 16 stasiun, dan local yang berhenti pada seluruh stasiun (20 stasiun). Jadi, kalau kita ingin cepat sampai tujuan dari awal sampai akhir (Tsukuba-Akihabara), kita bisa naik kereta Tsukuba Express yang tipe rapid. Cara membedakannya bagaimana? Entahlah, mungkin kita bisa melihat warna garis pada kereta yang datang, seperti rapid yang berwarna merah, commuter-rapid yang berwarna kuning, semi-rapid yang berwarna biru, dan local yang berwarna abu-abu (gak tau pasti ini benar apa tidak). Cara yang paling akuratnya ya~ melihat jadwal di websitenya ( mir.co.jp ) dan papan pengumuman atau tanya langsung ke petugas stasiun (駅員, Eki-in).

_____ Saat masuk ke peron, aku melihat bahwa keretanya sudah datang, sepertinya kereta jenis local. Kami berdua pun kemudian masuk ke dalam kereta dan segera duduk karena kereta hari itu tidak begitu ramai sehingga bisa dengan mudah mendapatkan tempat duduk. Hal bagus lainnya yang aku temukan hingga duduk di kereta adalah bahwa diantara peron dengan rel kereta terdapat pembatas yang bisa membuka-tutup secara otomatis ketika kereta datang dan pintu masuk kereta pun berhenti tepat di depan pintu pembatasnya. Selain itu, jarak antara peron dengan lantai kereta dibuat seminim mungin hingga tidak sampai berjarak 1 kaki (bahkan nggak sampai 1 jengkal) dan dibuat sejajar dengan tinggi peron, sesuai dengan fitur yang ditawarkan Tsukuba Express berupa Non-Step agar penyandang disabilitas bisa menaiki kereta tanpa hambatan. Tak cukup sampai disitu, kursi dalam kereta pun empuk dan memiliki penghangat, pas banget untuk musim dingin ini agar punggung dan (maaf) pantat kita terasa hangat dan tidak kram setelah berjalan dari luar stasiun. Wiih banget gak sih~

Rute stasiun yang dilalui Tsukuba Express ( source: mir.co.jp )

_____ Kami naik kereta yang berangkat pada pukul 10.20 dan diperkirakan tiba di Stasiun Asakusa pada pukul 11.13. Sepanjang perjalanan, aku melihat banyak sekali sungai bersih yang mengalir dengan tenang dan padang rumput yang menguning di tengah musim dingin. Di kereta ini tidak ada TV iklan seperti di KRL Jabodetabek, jadi suasana dalam kereta cukup tenang, belum lagi orang-orang di gerbongku jarang sekali berbicara satu sama lain dan sekalinya bicara juga sekedar bicara ringan atau bisik-bisik. Aku bertanya pada Taiga apakah di dalam kereta Jepang biasa tenang seperti ini dan ia menjawab YA. Selain dilarang bersuara keras, di dalam kereta jarak pendek seperti ini kita juga dilarang makan dan minum, berbeda dengan shinkansen yang memang memperbolehkan makan dan minum dalam kereta. Beberapa stasiun yang kami lewati tampak besar dan ramai, seperti Stasiun Moriya dan Nagareyama, dan semakin ramai di stasiuin yang semakin dekat dengan pusat Kota Tokyo (mulai dari Stasiun Kita-Senju). Oh iya, kereta Tsukuba Express ini bergerak dengan kecepatan rata rata 130 km/jam lho, jadi jarak yang terbentang sejauh 58.3 km antara Tsukuba-Akihabara bisa ditempuh dalam waktu yang singkat. Meski demikian, Tsukuba Express ini bukan sama sekali mulus tanpa celah lho karena Tsukuba Express ini juga pernah terlibat skandal terkait waktu, yaitu BERANGKAT 20 DETIK LEBIH AWAL hingga viral di berbagai berita dan jajaran karyawan Tsukuba Express mengumumkan permintaan maafnya. Yaelah terlalu awal 20 detik sampe jadi masalah besar, emang orang Jepang sangat peka dengan masalah waktu ya~

_____ Setelah sampai di Asakusa, kami pun keluar dari kereta dan menaiki tangga yang ada menuju stasiun yang lebih besar, yaitu Stasiun Asakusa yang besarnya berlantai lantai dan luas banget. Stasiun ini merupakan stasiun dengan banyak percabangan dan titik transit, tidak hanya Tsukuba Stasion saja melainkan berbagai jenis kereta yang beroperasi di, ke, dan dari Tokyo. Desain stasiunnya tampak retro sekali dengan tembok keramik dan poster-poster yang menempel di dindingnya. Karena sudah masuk waktu zuhur, aku meminta izin pada Taiga untuk sholat terlebih dahulu dan Ia pun oke wae. Karena stasiun itu sangat ramai, maka aku sampai bingung harus sholat dimana agar tidak menghalangi jalan orang lain. Akhirnya, aku menemukan suatu ide, yaitu sholat di toilet disabilitas. Hah kenapa disana? Karena 1 bilik toilet disabilitas ukurannya seluas setengah dari seluruh area toilet pria (mungkin sekitar 20-25 msq) dan 1 blik toilet disabilitas hanya bisa dimasuki oleh 1 orang sehingga bersifat sangat pribadi. Toilet disabilitas juga memiliki area kering dan area basah sehingga InsyaAllah bebas dari kotoran dan najis (di area keringnya). Sebelumnya, aku sudah meminta izin dengan pak satpam yang ada di pos keamanan dalam stasiun dan beliau mengizinkan jika toiletnya dipakai selama 10-15 menitan untuk sholat jamak zuhur dan ashar.

Floor plans Stasiun Asakusa yang terhubung dengan Tsukuba Express ( source: mir.co.jp )

_____ Seusai sholat, barulah kami makan siang di konbini Family Mart yang ada di depan stasiun bersama. Untungnya, aku membawa bekal sendiri sehingga aman secara religi dan ekonomi, xixixi. Aku membawa bekal ayam suwir saus kecap sedangkan Taiga membeli onigiri karena ia masih malu malu untuk meminta makananku (padahal kalau mau nyomot mah comot aja). Seusai makan, barulah kami menuju daerah terkenal yang disebut Asakusa. Daerah ini berada di kecamatan Taitō (台東区), salah satu kecamatan yang paling ramai di Tokyo. Asakusa sendiri terkenal dengan kuil Buddhanya yang bernama Sensōji (浅草寺) dan kuil Shinto yang bernama Asakusa Jinja (浅草神社) berikut daerah pertokoan yang ada di sekitarnya. Mula mula, ia menunjukkanku ke arah pertokoan dekat Don Quijote yang terkenal dengan pusat oleh-oleh barang khas Jepang. Disana aku baru tahu kalau di Tokyo pun juga ada becak, namun becaknya tidak ditarik dengan kuda ataupun sepeda melainkan dengan tenaga manusia sendiri hingga disebut jinrikisha (人力車) atau secara harfiah berarti kendaraan tenaga manusia. Kuat juga ya yang narik, pasti mahal tuh tarifnya!

Abang becaknya baru selesai narik tuh (source: personal snapshot)
Parkiran sepeda dan motor yang tertata rapi di daerah ramai (source: personal snapshot)

_____ Setelahnya aku diajak untuk pergi ke kuil yang terkenal itu. Jalan menuju kuilnya ramai sekali, baik dengan warga sekitar, turis lokal, hingga turis asing yang bertebaran di area ini. Jarak antara pertokoan hingga Sensōji rupanya panjang juga, terasa dari banyaknya langkah yang kulalui. Sebelum memasuki Sensōji, terdapat pusat pertokoan bernama Nakamise yang lebih spesifik menjual hal-hal khas Jepang, mulai dari pakaian, hiasan, hingga makanan. Kata Taiga, sebaiknya mulai disana harus hati-hati karena akan lebih ramai lagi dengan pengunjung dan penjual, dan mungkin saja juga ada penjahat disana. Oke, aku pun akan berhati hati, tak hanya dengan manusia, tetapi juga dengan lingkungan dimana cuaca sedang gerimis tipis meski suhu makin menghangat (9-10 derajat). Sepanjang perjalanan, kami jarang sekali melihat sepeda motor apalagi mobil, dan sekalinya ada berjalannya pun sangat pelan. Jalanan ini tampak memang didesain khusus untuk pejalan kaki agar nyaman berjalan ya.

Mesin gacha, cinderamata, dan makanan khas Jepang sangat banyak di daerah ini (source: personal snapshot)
Jalan yang didedikasikan khusus untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. Motor kalau mau lewat harus ultra pelan (source: personal snapshot)

_____ Mulai memasuki Nakamise, manusianya pun semakin banyak. Dalam hati aku bertanya tanya, “seterkenal itukah tempat ini sampai ramenya bukan main”. Di sepanjang Nakamise terdapat banyak toko toko kecil yang menjual barang khas Jepang, lengkap dengan penjualnya yang berbicara sambil mempromosikan barang yang ia jual. Beberapa pengunjung tentu tertarik dengan barang yang dijajakan disini, maklum, penampilannya unik unik dan menarik, terlebih bagi mereka yang suka menonton drama atau anime atau membaca manga pasti pernah melihat beberapa barang yang dijual disini tayang di layar kacanya atau lembar bukunya. Semakin dekat dengan kuil, aku dan Taiga pun makin berhimpitan dengan orang orang dan langkah kami makin melambat. Kira kira perjalanan kami di sekitar sini saja sudah memakan waktu hampir setengah jam. Pokoknya benar benar ramai kayak pasar.

Mulai memasuki daerah Nakamise (source: personal snapshot)
Bagian tengah Nakamise menuju kuil Sensōji (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya kami di wilayah sensoji,, kami melihat pagoda kuil yang megah, lengkap dengan lampion raksasa di tengah dan beberapa patung. “Wah pantesan rame banget, emang tempatnya epik dan bersejarah sih” gumamku. Beberapa orang tampak berfoto di gerbang pagodanya, tepatnya di abwah lampion raksasanya. Kami pun berjalan lurus terus hingga bagian dalam kuil dan menemukan wilayah pembakaran dupa. Disana, aku melihat banyak orang sedang mengipas ngipas asap dupa ke wajahnya. Kata Taiga, itu dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan penolak bala gitu. “Kamu mau ke situ?” tanyanya. “Hee~ masa sih…. Aku nggak deh. Aku nggak kuat bau asap soalnya” Jawabku. Memang, aku benci dengan bau bau asap, baik itu bau asap dupa, bau asap obat nyamuk bakar, bau asap rokok, asap kendaraan bermotor, bahkan asap bakar bakar sate saja aku ngga suka. Alasannya sederhana, aku nggak mau megotori wajah, hidung, dan paru-paruku dengan asap.

Mulai masuk ke wilayah Sensōji (source: personal snapshot)
Bagian dalam Sensōji untuk berdoa yang ramai (source: personal snapshot)

_____ Saat di bagian kuil utama, aku melihat biksu dan banyak orang yang berdoa, atau sekedar befoto foto di dalam kuil yang megah itu. Kulihat beberapa orang memasukkan koin ke dalam kotak yang berada di tengah kuil. Kata Taiga, hal itu memang sudah adabnya di kuil Buddha (お寺, O Tera), bahwa orang berdoa setelah melempar koin ke dalam kotak yang disediakan. Katanya juga, Koin terbaik untuk dimasukkan / dilempar ke dalam kotak adalah koin 5 yen. “Kenapa begitu?” tanyaku penasaran. “Soalnya di Bahasa Jepang, 5 yen dibaca Go En (五円), yang cara bacanya sama dengan Go En (ご縁) yang berarti keberuntungan dan hubungan baik” Jawabnya. Ia punmengeluarkan 2 koin 5 yen dari dompetnya, 1 untuk dirinya dan 1 untukku. Taiga kemudian melemparkan koin tersebut, memejamkan mata, menyatukan telapak tangan di depan wajah, dan membaca doa entah apa doanya. Karena aku tidak percaya yang begituan, maka kusimpan saja uang 5 yennya itu ke dalam kantong jaketku. Seusai berdoa, ia bertanya padaku, “tadi doa apaan? kepo dong, pasti yang aneh aneh ya!”. “Ah enggak kok hehehe” Jawabku sambil memasang wajah tertawa datar karena emang nggak memasukkan koin dan nggak ingin berbohong dan menyakiti perasaannya. Tapi, hal seperti mengibaskan asap dupa dan melempar koin untuk berdoa jatohnya syirik nggak sih?

Kaminarimon bersama Taiga (source: personal snapshot)

_____ Setelah keluar dari kuil utama dan melihat lihat lingkungan sekitar, kami keluar dan menyusuri Nakamise. Taiga pun membelikanku sebuah taiyaki (kue berbentuk ikan) berisi kacang merah yang baru saja dipanggang. “Uwwhhh panas, tapi enak banget” kataku sambil menghembus kepanasan. “Iyakan enak, apalagi kalo baru mateng gini. Pelan pelan dong makannya” lanjutnya. Kami berjalan menuju bagian luar Nakamise dimana terdapat gerbang besar bernama Kaminari-mon (雷門) yang secara harfiah berarti gerbang petir. Gerbangnya memang besar dan antik, pantas menjadi spot foto di daerah ini meskipun harus berjibaku dengan banyak orang yang iingin berfoto juga. Karena ada sekelompok orang yang sedang berdiri di tengah dan tampak ingin meminta diambilkan fotonya, Taiga pun langsung beraksi untuk menawarkan jasa memotret kelompok tersebut. Seusai memotret, gantianlah anggota kelompok tersebut yang memotret kami berdua. Ini sih namanya emang win-win solution yak! solutif sekali anda pak…

[FREE TEMPLATE] Kertas kosong dengan cap dari Tomioka untuk tulis nama teman di depan monumen Kaminarimon (source: personal snapshot)

_____ Setelah puas menjelajahi Asakusa, Taiga berencana mengajakku menuju menara tertinggi di Tokyo yang menjadi salah satu menara tertinggi di dunia dengan ketinggian mencapai lebih dari 600 m. Wihh, tinggi amat ya, pusing nggak ya pas naik? Ngapain aja disana? Simak ceritanya di postingan selanjutnya.

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: