Fumidasou! 62 – Tembok Kebenaran

_____ Ahhh, akhir pekan yang cerah di musim dingin yang dingin. Semakin hari, aku semakin dekat dengan beberapa teman AIMS yang orang Jepang, terutama Riki dan Kento. Beberapa hari sebelumnya, Aku, Kento, dan Riki sudah merencanakan untuk bersepeda bersama ke sebuah tempat yang cukup bersejarah. yang bernama Kabupaten Tembok Kebenaran. Serius namanya begitu? Ya nggak lah. Nama kabupatennya adalah Makabe (真壁) yang secara harfiah berarti tembok kebenaran. Makabe terletak di bawah administrasi Kota Sakuragawa. Kota tersebut merupakan kota kecil yang terletak tak jauh dari Tsukuba sehingga bisa diakses dengan bersepeda. Namun, di hari yang direncanakan itu, ada juga event penting, yaitu perpisahan dengan Nanaris dan Gaew, mahasiswi asal Thailand yang akan pulang ke negaranya pada keesokan harinya. Jadi mau tak mau, kita harus bisa ke Makabe untuk berjalan jalan dan sampai Tsukuba sebelum maghrib agar bisa ikut acara perpisahannya.

_____ Sebelum berangkat, Kento dan Riki bertanya apakah aku bisa mengajak anak AIMS ataupun teman asrama yang lain. Aku pun sudah mengajak teman temanku seperti Enzo, Bosh, dan Mizan, tapi sayangnya mereka sedang pegel-pegel untuk bersepeda jauh jauh, apalagi di tengah udara dingin. Alhasil, aku mengajak Fabio, teman seasramaku yang dari Brazil untuk ikut bersama. Mumpung Fabio sedang gabut dan ia emang lebih berjiwa petualang, maka ia pun mau untuk ikut bersama kami. Pada pukul 8 pagi, aku dan Fabio mulai keluar asrama untuk bertemu dengan Kento dan Riki di Ishi no Hiroba (lapangan tengah Universitas Tsukuba yang ada patungnya itu, baca Fumidasou! 7). Aku pun sebelum berangkat tentu sudah membuat bekal makan siang untuk berjaga jaga jika nanti di Makabe tidak menemukan makanan yang relatif aman.

_____ Saat bertemu Kento dan Riki, aku memperkenalkan Fabio kepada mereka. Bisa dibilang, Fabio ini berdarah campuran Brazil dan Jepang karena terselip nama Tanaka di belakangnya. Riki dan Kento pun kaget karena baru pertama kali mendengar dan melihat Fabio serta nama Jepangnya. Memang sih, Fabio sama sekali tidak tampak seperti orang Jepang dan lebih tampak bulenya, tapi katanya kakaknya lebih Jepang banget. Setelah saling berkenalan dan ngobrol-ngobrol “ganteng” kami pun mengayuh sepeda kami menyusuri jalan ke arah kuil Ichinoyasaka untuk mencapai Rin-Rin Road menuju Makabe. Beruntung, menurut peta, Kota Makabe dilalui oleh jalan Rin Rin Road sehingga bisa lebih mudah tercapai dengan sepeda tanpa repot-repot banyak belok ataupun tersasar di jalan raya. Tak lama setelah melewati komplek perumahan dan kuil Ichinoyasaka, kami sampai di jalan tengah pematang sawah. Untunglah jalanan sepi sekali, mulai dari perumahan, jalan tengah sawah, hingga jalan raya yang melintang membelah sawah di depan kami. Bahkan, anjing yang biasa menggonggong saat kami melewati perumnas Ichinoyasaka pun tidak ada.

Ready to go? (source: personal snapshot)

_____ Setelah melewati persawahan, tibalah kami di Rin Rin Road, sebuah jalan sepeda yang membelah melintasi 4 kota yang dulunya merupakan bekas rel kereta. Kami pun hanya tinggal menyusuri jalan bekas rel kereta yang sudah diaspal mulus tersebut. Di tengah perjalanan, tibalah kami di reruntuhan benteng yang ada di Tsukuba (lihat Fumidasou! 22). “Mumpung sedang bersama-sama, kenapa tidak menyempatkan diri untuk mengambil foto di benteng tersebut, toh tidak akan lama ini,” pikirku. Aku memanggil mereka ber-3 untuk menghentikan kayuhan sepedanya dan masuk ke dalam reruntuhan benteng di balik gundukan rumput tersebut. Rupanya mereka juga tidak tahu kalau ada tempat seperti benteng tersebut. Makanya, pas banget dong kalau aku mengajak mereka masuk ke dalam untuk berfoto ria, toh gratis ini kan!

_____ Di dalam benteng, kami hendak berfoto dalam berbagai pose. Langit biru yang sangat terang ini memang menjadi latar terbaik dalam berfoto. Mula-mula kami ingin berfoto sambil melompat-lompat di atas rumput yang menguning itu. Selanjutnya, aku ingin berfoto dengan semuanya. Makanya aku memasang tripod pada kameraku, berikut dengan menyetel timernya. Eh… tapi, saat aku duduk bersama mereka di gundukan, aku terperosok ke bawah karena celanaku sangat licin untuk dipakai duduk di rerumputan tersebut. Makanya terambillah foto yang “agak aneh” seperti slideshow di bawah. Tapi biarlah, momen lucu kan memang perlu ada untuk dikenang, bukan? Untunglah foto setelahnya berakhir baik-baik saja.

Kento & Fabio menjelajahi reruntuhan (source: Riki’s gallery)
Power Ranger beraksi (source: Riki’s gallery)
Quad under the sun (source: personal gallery)

Beberapa saat sebelum terpeleset (source: personal gallery)

_____ Usai berfoto di reruntuhan kastil, kami kembali memacu sepeda kami menyusuri Rin Rin Road. Angin dingin mulai menerpa kami karena sepanjang Rin Rin Road hampir tidak ada pohon yang sedang lebat daunnya. Yang ada hanyalah pohon sakura yang gugur serta beberapa semak yang tumbuh dengan rendah. Maka dari itu, jelas saja kalau sepanjang perjalanan kami harus menerobos angin dingin. Kami pun tiba di pinggir Kota Makabe pada pukul setengah 12. Di pinggiran kota itu, kami menepi dari Rin Rin Road menuju sebuah restoran ala Jepang untuk makan siang. Untungnya, aku sudah membawa bekal sehingga tidak perlu pusing mau makan apa sehingga hanya perlu ikut masuk ke dalam restoran untuk menemani mereka makan. Kami makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan hingga pukul 12 siang. Kento dan Riki memesan ramen sedangkan Fabio memesan nikujaga, masakan daging dengan kentang. Seusai makan, kami kembali mengayuh sepeda kami menju pusat Kota Makabe (atau lebih tepatnya disebut Kabupaten Makabe karena lambangnya 真壁 – 町, Makabe Chō )

_____ Sesampanya kami di perpustakaan sejarah Makabe, kami langsung masuk menuju pusat informasinya untuk bertanya tanya seputar kunjungan. Beruntung hari itu perpustakaan sedang sangat sepi sekali sehingga kami tidak perlu mengantri untuk masuk. Kami juga tidak dikenakan biaya tiket untuk masuk alias GRATIS. Sebelum masuk, aku sholat zuhur sekaligus menjamak dengan ashar di ruang informasi. Seusai sholat, barulah kami masuk bersama ke dalam bagian musium. Eh bentar, kok musium, bukannya tadi perpustakaan? Iya, jadi perpustakaan sejarah Makabe memiliki beberapa bagian, mulai dari ruang pusat informasi, taman ala Jepang di bagian tengah, perpustakaan di arah barat laut dari pintu masuk, dan muisum di arah timur laut. Meskipun dari luar secara sekilas perpustakaannya tidak tampak besar, namun saat masuk ke dalamnya entah mengapa terasa luas. Kami pun masuk ke dalam musium yang gelap itu dipandu dengan penjaga musium hingga bagian depan, yaitu bagian seputar Kabupaten Makabe (町)

Bersepeda menuju Kabupaten Makabe dari Rin Rin Road (source: Riki’s gallery)
Perpustakaan sejarah Kabupaten Makabe tampak depan (source: google maps)
Rute ke perpustakaan Makabe dari Ichinoya (source: google maps)

_____ Interior musium dibuat gelap dengan warna dominan hitam, mungkin agar bisa meng-highlight artefak yang ada yang dominan berwarna terang dan diberikan tulisan serta keterangan berwarna putih. Di bagian awal, kami bisa melihat bagaimana sejarah Kabupaten Makabe, mulai dari tahun 1500 bahkan sebelum itu. Tak hanya sejarah Kabupaten Makabe, terdapat pula timeline perkembangan kota di sekitarnya seperti Tsukuba dan Sakuragawa berikut dengan Rin Rin Road tersebut. Jadi memang Rin Rin Road dulunya dibuat sebagai sarana transportasi kereta antar kota yang ada di Prefektur Ibaraki, namun karena semakin sedikit pengguna layanan keretanya, maka kereta pun berhenti beroperasi. Karena sayang jika relnya dibiarkan menganggur, maka dibuatlah jalanan beraspal khusus pesepeda dan pejalan kaki tepat diatas relnya sehingga tak perlu lagi rangka untuk penyangga aspalnya.

Bagian depan perpustakaan Makabe (source: personal snapshot)
Sejarah Makabe (source: personal snapshot)

_____ Berlanjut ke sisi yang penuh sejarah, Rekishi (歴史), di bagian ini kita bisa melihat beberapa benda-benda peninggalan orang di masa lampau, mulai dari alat makan, alat bercocok tanam, hingga alat berburu. Beberapa peninggalan terbanyak yang dipajang di tempat ini adalah peralatan rumah tangga, mulai dari ceret, piring, sumpit, kendi, mangkuk, gelas, dan sebagainya. Oh iya, bicara soal mangkok, sebaiknya di Jepang kita jangan sekali-kali menyebut kata “mangkok” di muka umum, karena kata “mangkok” dalam Bahasa Indonesia punya cara pengucapan yang sama dengan (maaf) alat kelamin wanita dalam Bahasa Jepang. Untuk lebih amannya, kita bisa mengatakan “cawan” saja dalam menyebut benda tersebut. Kata “cawan” dalam Bahasa Jepang berarti gelas / wadah untuk minum teh sehingga secara definisi, yaaah~ masih bisa diterima antar 2 negara lah ya. Peralatan lain yang bisa kita temui disini adalah peralatan bercocok tanam seperti cangkul, arit, garu, maupun kapak.

Menuju bagian penuh artefak sejarah (source: personal snapshot)
Peralatan tanah liat (source: personal snapshot)

_____ Bagian terakhir adalah bagian “harta berharga”, Takara (宝). Di bagian ini kita bisa melihat artefak yang berharga seperti benda pusaka hingga senjata, terutama senjata legendaris (pasti yang hobi nonton anime, drama, atau main game bertema samurai atau ninja tau yang begini nih). Kita dapat menemukan beberapa jenis pedang, tameng, serta baju zirah yang digunakan pada zaman dahulu kala, terutama zaman samurai sebelum revolusi Meiji dimulai. Di bagian ini juga terdapat miniatur Kabupaten Makabe yang skalanya lumayan besar sehingga bentuk rumah-rumahnya terlihat jelas (hingga dipakai buat foto oleh Riki). Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik karena kita bisa melihat bentuk asli dari senjata yang biasa kita lihat dalam tayangan atau mainkan dalam game. Senjata yang dipajang dimulai dari pedang, tombak, panah, belati (kunai), dll. Fabio tampaknya sangat tertarik dengan bagian ini karena ia memang lumayan suka dengan ninja-ninjaan.

Menuju bagian penuh dengan barang berharga (source: personal snapshot)
Riki jadi Titan (source: personal snapshot)
Tameng pelindung badan pada zaman dahulu (source: personal snapshot)

_____ Setelah puas melihat lihat, kami kemudian keluar dari musium tersebut dan berjalan menuju bagian perpustakaan yang ada di seberangnya. Perpustakaannya cukup kecil, namun menyimpan banyak koleksi buku seputar sejarah, baik buku komik sejarah untuk anak anak hingga literatur tebal untuk para sejarawan. Sekedar informasi, perpustakaan Makabe ini buka dari jam 10.00 – 18.00 pada hari kerja (Senin – Jumat) dan pukul 09.00 – 17.00 pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Kita juga dapat meminjam arsip dan buku di perpustakaannya loh, hingga 10 buku (dengan beberapa catatan untuk buku dan arsip tertentu). Karena jam masih menunjukkan pukul 2 siang, rasanya mubazir kalau kita langsung pulang ke Tsukuba karena acara perpisahan untuk teman-teman Thailand baru dimulai pukul 7 malam. Makanya, mending kita ngacir dulu aja sampai rada sorean, kemana tuh? Yuk baca postingan selanjutnya.

Untuk info lebih lengkap emngenai Perpustakaan Makabe bisa membuka tautan:
https://www.city.sakuragawa.lg.jp/page/page001882.html

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: