Fumidasou! 64 – Mochi

_____ Sekian saat setelah tahun baru, aku menemukan poster berisi kegiatan mochitsuki di Global Village Community Center, Universitas Tsukuba. Mochitsuki merupakan acara yang lazim dilakukan oleh masyarakat Jepang pada saat tahun baru tiba. Namun, karena di poster ini acaranya ditujukan untuk mahasiswa asing, maka diadakanlah acara mochitsuki tersebut bukan tepat pada saat tahun baru melainkan pada sekian waktu setelahnya, yang penting vibe nya masih dapat, yaitu pas musim dingin. Karena acara ini memiliki kuota hanya sekitar 60 orang, maka aku cepat-cepat mendaftar agar tidak kehabisan kuota. Eh bentar-bentar, mochitsuki itu apaan ya?

_____ Jadi, mochitsuki itu adalah kegiatan membuat mochi secara tradisional, yaitu dengan memukul mukulkan palu (umumnya terbuat dari kayu, kine, 杵) ke adonan tepung beras mochi yang sudah diuleni. Kegiatan memukul-mukul dilaukan secara cepat dan terkadang ditambahkan sedikit atraksi untuk menarik pengunjung. Mochi yang baru jadi fresh from the hammer kemudian dibentuk dan ditambahkan topping sesuai kebutuhan seperti kinako (bubuk kedelai sangrai), tsubuan (pasta kacang merah kasar), koshian (pasta kacang merah halus), dan sebagainya. Kenapa mochitsuki menjadi “sesuatu” banget di Jepang, yaitu karena kegiatan ini biasanya berlangsung secara komunal, meriah, dan dilakukan hanya setahun sekali sehingga menjadikannya sebagai sebagai sebuah perayaan. Mochi sendiri menjadi simbol sebuah harapan baru di tahun yang baru bagi masyarakat Jepang.

_____ Singkat cerita, tibalah hari H acara mochitsuki yang ditunggu-tunggu. Acaranya dibuka pada pukul setengah 7 malam dan dimulai pada pukul 7 mlaam hingga selesai. Acaranya sendiri diadakan di aula lantai 2 Global Village Community Center Tsukuba, salah satu dari 5 komplek asrama di Universitas Tsukuba yang paling elit. Malam itu, aku mengayuh sepedaku keluar dari asrama menuju Global Village melewati kampus utama, kampus bagian selatan, dan komplek asrama Hirasuna. Karena udara sedang dingin-dinginnya dan sempat turun salju sedikit saat pulang part-time, hanya bisa mengayuh pelan-pelan saja agar tidak tergelincir. Sesampainya di Global Village Community Center, aku langsung memarkir dan mengunci sepedaku di depannya, sebaris dengan sepeda lainnya. Aku pun masuk dan melapor ke bagian informasi sambil menunjukkan bukti pendaftaran yang ada di email. Resepsionis di bagian informasi kemudian mengizinkanku masuk dan memberikanku stiker nama untuk diletakkan di dada. Ia juga mengatakan bahwa aku boleh mengambil boneka kayu lama yang ada di lantai atas, tempat diadakannya acara mochitsuki.

Ciluk… Ba~ (source: personal gallery, taken by Kak Rani)

_____ Saat naik ke lantai 2, aku melihat wajah yang tak asing, tentu saja siapa lagi kalau bukan orang PPI Ibaraki yang berkuliah di Tsukuba. Di lantai 2, aku bertemu dengan Kak Rani, mahasiswi pascasarjana di fakultas ilmu kesehatan Tsukuba bersama temannya dari Vietnam, Nguyen. Jadi, Kak Rani dan Nguyen juga datang ke acara tersebut karena melihat posternya beberapa hari sebelumnya, dan berhubung tertarik dengan acara kebudayaan serta belum pernah melihat orang “mentung mochi”, makanya mereka datang ke acara setelah kuliah. Berhubung yang kukenal di tempat itu hanyalah Kak Rani seorang, maka aku duduk dekat Kak Rani dan Nguyen saat acara akan dimulai. Selain biar bisa lebih enak saat mengobrol dengan orang yang dikenal, aku juga bisa meminta Kak Rani atau Nguyen untuk merekam menggunakan kamera yang kubawa. Setelah pukul 7 malam tiba, seluruh peserta dipersilahkan untuk duduk oleh pembawa acara dan menjaga jarak dengan karpet merah yang sudah digelar sebagai penanda panggung.

_____ Acara dimulai dengan adanya sambutan dari perwakilan divisi kebudayaan Universitas Tsukuba. Setelah itu, dilanjutkan dengan penjelasan seputar mochi, mochitsuki, dan tahun baru di Jepang oleh mbak MC. Seusai menjelaskan seputar apa itu mochi, terbuat dari apakah mochi itu, bagaimana mochi dibuat, dan bagaimana orang Jepang pada umumnya merayakan tahun baru, barulah para “Master Mochitsuki” dipanggil ke karpet merah. Mereka adalah pembuat mochi tradisional yang bertempat di daerah Tsukuba. Mereka datang ke karpet merah dengan membawa beberapa peralatan seperti palu kayu (杵, kine), sebuah baskom kecil untuk menampung air, dan lesung kayu untuk tempat memukul mochi (碓, usu). Mereka juga sudah membawa adonan tepung beras yang sebelumnya sudah dikukus menggunakan seiro (蒸篭) sehingga saat tiba hanya tinggal mementung mochinya (yakali masak dari 0, lama kalee). Setelahnya, pembuatan mochi pun dimulai. MC memberikan aba aba kepada penonton untuk berteriak 「YOSSHA!!!」, sebuah teriakan penyemangat pada acara-acara di Jepang untuk memeriahkan suasana.

Tahapan membuat mochi (1) Penjelasan; (2) Siap siap; (3) palu dan lesung sudah dibasahi; (4) mulai mengadon; (5) pengistirahatan adonan sementara; (6) memeriksa kekenyalan adonan; (7) selesai (source: personal snapshot)

Ada yang mau coba maju buat mentung mochi? (source: personal snapshot)

_____ Kenapa mochi bisa memadat dan mengenyal, padahal dipukul pukul? Hal tersebut terjadi karena adonanantara air dan tepung beras mochi yang sudah dikukus dalam seiro merupakan fluida non-newtonian tipe dilatan yang bertambah viskositasnya ketika diberikan stress berupa pukulan. Semakin diberikan stress berupa pukulan, maka adonan akan semakin kenyal. Hal yang sama juga terjadi pada larutan pati yang lain yang makin mengental ketika kita makin “niat” ngaduknya. Salah seorang master mochitsuki juga menambahkan air ke dalam adonan setiap kali pukulan dilayangkan untuk menambah kapasitas pati membentuk pasta kenyal. Setelah didapat kekenyalan yang pas, master mochitsuki menghentikan pukulan dan penambahan airnya. Mochi tersebut kemudian dibelah belah dan diberikan beberapa topping seperti bubuk kinako, pasta kacang merah, maupun tare.

_____ Setelah master mochitsuki selesai membuat mochi batch pertama, mereka kemudian menawarkan para penonton untuk maju ke depan dan mencoba membuat mochi bersama. Karena dalam 5 detik belum ada yang mengangkat tangan, aku pun mengangkat tanganku untu mencoba memukul-mukul mochi. Aku kemudian maju ke depan dan diberi pilihan antara 3 palu, dari yang ringan, sedang hingga berat. Aku memilih yang ringan saja, biarin memukul lebih lama yang penting tanganku kuat mengangkatnya, hehehe. Setelah memilih palu, master mochitsuki mengeluarkan mochi baru untuk batch 2 pemukulan. Yoooshh~ mari kita pukul pukulin!

_____ Aku mulai dengan ayunan palu yang pertama ke mochi. Para penonton kemudian mulai menyorakkan yel yel yossha tiap pukulan dilayangkan. Master mochitsuki yang 1 bertepuk tangan sambil memandu sorak sedangkan yang 1 nya memberikan air ke adonan mochi. Awal awal pukulan palu ke mochi terasa sangat lunak, hingga pukulan ke sekian, adonan mulai mengenyal dan aku mulai merasakan energi pantulan dari mochinya. Setelah dirasa cukup kenyal, adonan mochiku pun diangkat oleh master mochitsuki. Setelah diangkat, adonanku kemudian dicetak bulat bulan dan diberikan topping. Sebagai perbandingan, rasanya mochi buatan master mochitsuki lebih kenyal dan lembut di mulut sedangkan mochi hasil pukulanku tidak sekenyal punya master dan masih terasa tekstur kasar dari beras mochinya. Yaah namanya juga masih newbie~

Coba ah, siapa tau jadi ~ (source: personal gallery, taken by Kak Rani)

_____ Seusai memakan mochi buatanku, para peserta dipersilahkan untuk mencicipi makanan khas tahun baru yang sudah dihidangkan pada meja di belakang barisan penonton. Selain itu, master mochitsuki juga sedang mengukus beberapa adonan mochi lagi untuk penonton yang mau memukul mukul mochi selanjutnya. Karena sudah mencicipin mochi original buatan master mochitsuki dan milikku, aku, Kak Rani, dan Nguyen memilih untuk berfoto foto saja sebelum adonan mochi selanjutnya tanak dan kak Rani juga ingin memukul mochi di babak selanjutnya katanya. Karena ruangan ala Jepangnya sudah dihias sedemikian rupa, kami pun berfoto ria di dalam ruangan tersebut. Di ruangan tersebut juga terdapat baju jinbei (甚平) seperti para master mochitsuki yang bisa dipinjam oleh pengunjung. Ya sudah, mari kita berfoto saja kakak-kakak sambil menunggu giliran Kak Rani dan Nguyen. Semangat kak!

Makan osechi yuk! (source: personal gallery)
Siap mentung mochi lagi, kalau masih ada… (source: personal gallery, taken by Kak Rani)

_____ Seusai giliran beberapa orang yang memukul mochi, acara pun selesai pada pukul setengah 10 malam. Sebelum pulang, aku tak lupa mengambil boneka kayu yang dipajang di meja sesuai dengan arahan resepsionis. Setelahnya, aku pergi ke supermarket untuk berbelanja diskonan dan kemudian kembali ke asrama. Lumayan, aku mendapat beberapa mochi untuk dimakan keesokan harinya. Yang penasaran bagaimana adegan pukul-memukul mochi bisa melihat video dibawah!

Para master mochitsuki sedang membuat mochi dengan baik dan benar (source: personal record)

Kalau masih amatir sih beda ya mentung mochinya (source: personal gallery, taken by Kak Rani)

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: