Fumidasou! 69 – Yado Tua

_____ Berdasarkan yang sudah kutulis di Fumidasou! 66, aku dan teman-teman mengadakan liburan musim dingin dengan harga yang fantastis terjangkaunya, yaitu berkisar 15.000 yen per orang (atau sekitar 1.9 – 2.0 juta rupiah) selama 3 hari 3 malam. Apa saja yang termasuk di dalamnya? Tentu saja transportasi PP dari Tokyo (Stasiun Shinjuku) hingga tempat ski (Togari Onsen & Ski di Prefektur Nagano), tempat menginap, makan pagi dan malam, serta rental alat-alat ski dan snowboarding. Tak hanya itu, kami juga diperbolehkan untuk memilih menu makanan yang harus dibuat selama kami menginap dan kami pun diantar pulang-pergi dari penginapan ke tempat ski & snowboard secara cuma cuma. Untuk rentang harga 15.000 yen-an, itu termasuk harga yang sangat amat kelewat murah karena normalnya harga segitu hanya dapat liburan musim dingin berupa menginap 2 hari 1 malam saja, bahkan mungkin belum termasuk makan atau alat ski dan snowboardningnya. Nah, bicara soal transportasi, ski, dan snowboardingnya sendiri sudah di postingan-postingan sebelumnya, namun apa nggak penasaran juga tentang tempat menginap dan kembalinya kami ke Tokyo? Nah makanya, cekidot!

Penginapan

Eneng capek euy habis meluncur di salju (source: personal snapshot)
Ayo gantung bajunya di ruang pengering (source: personal snapshot)

_____ Kami menginap di sebuah penginapan tua milik keluarga Futoda. Bangunan tersebut kalau dilihat sekilas dari luar mungkin tidak tampak seperti rumah tua, namun jika kita melangkahkan kaki ke dalamnya, kita serasa berada di dalam rumah Jepang lama yang dinding dan lantainya terbuat dari kayu serta kamar beralaskan tatami (lantai dari bahan rumput igusa). Rumah tersebut cukup besar karena memiliki 10 kamar plus ruang makan, dapur, ruang pengering, 2 kamar mandi di tiap lantai, ruang tamu, ruang resepsionis, serta gudang. Selidik punya selidik, jadi rumah keluarga Futoda tersebut hanya dihuni oleh sang nenek, kakek, ayah, ibu, dan seorang anak perempuannya saat kami menginap. Kok nggak ada orang lain padahal kamarnya banyak? Mungkin karena sebagian besar anak-anak dari nenek dan kakek tersebut sudah pada pindah ke luar kota, maka hanya tersisa 5 orang itu saja. Daripada dibiarkan menganggur, maka diubahlah rumah tersebut menjadi sebuah penginapan.

_____ Dari pintu masuk, kita bisa melihat resepsionis di depannya dan ruang tamu di sebelah kanan. Untuk sisi sebelah kirinya terdapat ruangan terutup untuk mengeringkan alat dan pakaian ski. Jadi, setibanya di penginapan ala Jepang klasik tersebut (yadoya, 宿屋), kami langsung melepas sepatu ski dan jaket kami lalu menggantungnya di ruang pengering yang ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk. Setelah melepas pakaian ski kami, kami mengisi formulir yang disediakan oleh ibu pemilik penginapan. Tentu saja hal yang wajib kami isi sendiri adalah nama, usia, asal (kampus dan negara), serta nomor kartu identitas di Jepang. Sisa pertanyaannya sudah diwakili dengan jawaban dari teman teman yang orang Jepang. Setelah registrasi, kami masuk ke kamar masing masing yang terletak di lantai 3. Jadi, lantai dasar bangunan itu berisi ruang tamu, ruang pengering, ruang mandi onsen, resepsionis, dapur, ruang makan, dan gudang. Untuk lantai 1 berisi kamar-kamar milik pemilik penginapan sedangkan lantai 2 dan 3 berisi kamar-kamar yang disediakan untuk tamu dan toilet. Aku mendapat kamar yang sama dengan Minh, Mizan, dan Fabio. Jadi, sesampainya kami di kamar, kami langsung meletakkan tas kami dan membereskan isinya. Karena kamarnya beralaskan tatami dan ukurannya tidak terlalu besar, maka hanya tersedia kasur lipat saja (futon, 布団) yang disimpan dalam lemari geser (kayak film Doraemon gitu).

“Daripada habis main salju langsung ke kamar, mending kumpul kumpul aja di bawah sambil nunggu makanan!”

Aku
Sekilas video di dalam penginapan tua (source: personal record)

_____ Selama 2 hari menginap, kami mendapat jatah makan pagi dan makan malam karena selama siang hari kami berada di arena ski & snowboard. Makan malam tersedia di ruang makan pada pukul 6 sore, sedangkan makan pagi tersedia di ruang makan pada pukul 8 pagi. Menu makanan kami selama 2 hari menginap cukup bervariasi, mulai dari nasi, ikan, chikuwa, tahu, telur, lobak, salad, sup miso, dan sebagainya. Kohei sebelumnya telah berpesan kepada pemilik penginapan untuk menyediakan makanan yang ramah muslim sehingga semuanya bisa makan dengan tenang. Sebelum waktu makan tiba, orang-orang menunggu di ruang tamu di lantai 1 yang sudah dekat dengan ruang makan. Ketika lampu ruang makan dinyalakan oleh nenek dan nyonya pemilik penginapan, tandanya makanan sudah siap terhidang di atas meja. Kami semua tentu langsung masuk ke dalam ruang makan berhubung perut kami sudah peko peko (istilah Jepang untuk laper buangeet) karena habis berolahraga di luar.

Hina Ningyō yang menghiasi ruang makan (source: personal snapshot)
Suasana ruang makan di penginapan (source: personal snapshot)

_____ Saat masuk ruang makan, kami kaget dengan desain interiornya yang entah bisa dibilang mewah, tapi juga agak anger karena desainnya cukup tua. Tak hanya desain ruangan, perabotan dan dekorasinya pun menambah kesan angkernya, mulai dari tirai panggung, boneka hina ningyō, dan pigura-pigura yang terpasang di dinding. Tapi, namanya orang sedang lapar, ya tentu lebih takut nggak makan daripada hantu khan, jadi kesan angker tersebut bisa kami kesampingkan. Untuk lauk dan sayurnya sendiri sudah terhidang di atas meja sedangkan untuk sup, minuman, dan nasi dapat diambil sepuasnya di rice cooker dan dispenser yang terletak di meja panjang. Untuk saus dan alat makan, semuanya sudah disiapkan di atas meja makan jadi hanya tinggal ambil saja. Karena memang sudah tentu lapar berat, terutama makan malam, tentunya kami mengambil porsinya seenak’e dhewe. Yok ndang mbadok!

Mahasiswa pasti senang kalau ambil nasi sepuasnya (source: personal snapshot)
Menu makan malam di hari pertama (source: personal snapshot)

_____ Suasana ruang makan berlangsung ceria karena ini makan bareng ter-ramai sepanjang sejarah aku di Jepang. Makan malamnya pun enak, nggak salah emang kalau tangan emak-emak yang masak tuh emang rasanya homey banget. Pada makan malam pertama, aku mendapat ikan salmon dengan mayones, asinan lobak, salad kol, apel yang diukir bentuk kelinci, chikuwa, stik kepiting goreng tepung, wortel, dan puree lobak. Semuanya rasanya cukup balance di lidah (nggak terlalu asin, manis, asam, dan pahit) meskipun rasanya kurang kuat jika dibandingkan dengan makanan Indonesia. Seusai makan, kami membereskan semua alat makannya ke dapur. Tadinya kami berniat untuk mencuci alat makannya masing-masing, namun nyonya pemilik penginapan mengatakan bahwa kita cukup taruh saja di meja dalam dapur dan disusun dengan rapi agar nanti nyonya pemilik mencucinya dengan mudah. Hee~ terima kasih bu, jadi nggak enak nih ngerepotin.

Bilang “Itadakimasu!” (source: personal snapshot)
Nyam nyam time! (source: personal snapshot)

_____ Seusai acara makan, kami bergantian untuk masuk ke kamar mandi yang ada di lantai dasar. Memang sih, tiap lantai ada toilet, tapi itu hanya toilet untuk buang air kecil dan buang air besar saja. Untuk mandi, tersedia kamar mandi model Jepang, yaitu kamar mandi dengan aliran air panas dari sumber air panas dan tempat duduk dengan shower. Untuk kamar mandi, tentu antara pria dan wanita disediakan terpisah, namun untuk pria, karena konsep kamar mandinya berbentuk onsen, jadi 1 kamar mandi bisa dimasuki hingga 2-3 orang. Jika kita malu untuk mandi bersama, kita bisa mengunci pintunya dan memberitahu yang lain agar tidak masuk sebelum keluar. Namun jika tak masalah dengan mandi berdua atau bertiga, ya monggo~. Seusai mandi, biasanya kami kumpul kumpul di ruang tamu atau ruang makan untuk sekedar berbincang-bincang, main game HP atau kartu UNO, main piano, atau sekedar rebahan aja. Nyonya pemilik penginapan berpesan agar mematikan lampu dan pemanas ruangan yang ada di ruang tamu kalau sudah lewat jam 10 malam. Oh iya, di ruang tamu juga tersedia mesin penjual minuman otomatis bagi mereka yang mau minum karena tidak ada konbini di sekitar penginapan.

Mengisi waktu luang di penginapan, dari yang aktif sampai yang rebahan (source: personal snapshot)

_____ Saat akan tidur, kita hanya perlu menggelar futon di lantai tatami saja dan siap tidur. Sebelum tidur, tak lupa kita menyalakan pemanas ruangan berbahan bakar kerosin agar ruangan menjadi hangat. Selama menginap, aku menemukan 3 hal misterius di dalam penginapan, yaitu:

(1) Tidak ada kamar 309. Aku, Mizan, Minh, dan Fabio tidur di kamar 308 sedangkan Kohei, Enzo, dan Ezwan tidur di kamar 310 dan diantara kami hanya ada dinding saja, tidak ada kamar ataupun pintu rahasia. Selain itu, jika angka 9 dianggap membawa sial atau semacamnya oleh pemilik penginapan (seperti beberapa gedung yang tidak memiliki lantai 4 kalau di Indonesia dan negara lainnya), apa justifikasinya?
(2) Kenapa penginapan itu begitu sepi dan hanya ada kami saja yang menginap disana, padahal saat itu sedang masa-masanya liburan musim dingin?
(3) Mengapa harganya murah sekali…?
ah sudahlah, berhenti berpikir yang tidak tidak dan lekas tidur karena 3 orang lainnya sudah terlelap.

Peandangan dari jendela kamar (source: Fabio’s gallery)
Kami pamit dulu ya~ paman, bibi, dan nenek pemilik penginapan (source: personal gallery, taken by oji-san)

_____ Pada pagi hari ke-2, saat aku dan Fabio membuka jendela, kami mendapati pemandangan yang indah di luar sana, dengan salju yang sudah menumpuk dan berkilauan terkena sinar mentari. Namun pemandangan indah tersebut harus dibayar dengan angin dingin yang masuk ke dalam ruangan dan sialnya saat itu pemanas ruangan sudah mati karena kehabisan bahan bakar. Brrr….. Pada hari ke-3, kami tidak bisa melihat pemandangan indah itu lagi karena langit berawan dan cuaca sedang bersalju ringan. Tiap paginya, kami makan di ruang makan sebelum berangkat keluar dengan menu yang berbeda dari malam sebelumnya. Pada hari terakhir saat kami akan checkout dari hotel, aku menemukan sebuah kartu pos unik yang ada di meja resepsionis. Aku menanyakan kepada nyonya pemilik penginapan apakah aku boleh memilikinya dan beliau berkata “boleh dong, ambil aja masih banyak ini”. Sebelum kami pergi meninggalkan penginapan di hari terakhir, paman pemilik penginapan mengambil foto kami semua di depan penginapan. Setelahnya, kami berpamitan dengan nyonya dan nenek pemilik karena kami akan naik van milik paman menuju tempat rental ski dan snowboard, tempat dimana kami menunggu bis menuju Tokyo. Sesampainya di tempat rental, kami harus menunggu hingga 6 jam karena bis baru akan tiba pada pukul 3 sore. Selama selang 6 jam itu, mau tidak mau kami harus makan siang dan menunggu di dalam tempat rental. Hmm…. bosen doooong???

Kepulangan

_____ Menunggu 6 jam memang melelahkan, apalagi kondisi di luar tempat rental sedang turun salju sehingga tidak cuma lebih dingin, tapi juga menjadi lebih merepotkan. Kenapa merepotkan, karena saat sedang bersalju baju kita jadi mudah kotor dan basah. Tak hanya perkara estetika, tapi keamanan pun juga akan berkurang karena saat sedang bersalju jalanan akan menjadi lebih licin sehingga kita bisa lebih mudah terpeleset. Jadi, apa yang kami lakukan? Ya mau tidak mau, kami harus menunggu dengan sabar di tempat rental. Untungya, Fabio membawa 1 set papan permainan, mulai dari catur, othello, shogi, dan sebagainya. Jadi, kita bisa menunggu di dalam sambil bermain (a.k.a. berduel). Yang sepertinya antusias bermain board games adalah aku, Enzo, Kohei, Aiko, Fabio, dan Mizan. Pemenangnya akan dibelikan Pocky yang dijual di lantai bawah tempat rental. Kami bermain 2 jenis game saja, yaitu catur dan othello karena hanya 2 itulah yang palng mungkin untuk dimainkan semua orang. Teman-teman lainnya yang sedang tidak bermain ada yang makan, berfoto, ataupun hanya sekedar mengobrol. Kami bermain di dalam tempat rental hingga hujan salju menjadi lebih reda, yaitu sekitar pukul 12 siang.

Double board game duel (source: personal snapshot)

Mengisi waktu luang sambil menunggu bis pulang ke Toyo (source: Rae’s gallery)

_____ Saat hujan salju mereda, beberapa dari kami pergi ke luar. Sebagian ada yang bermain perang salju di area ski, meski tidak memakai perlengkapan ski. Jadi meskipun sepatu auto basah dan baju auto kotor, tapi seru seruan saja main lempar bola salju. Bagaimana dengan yang tidak main seperti aku, Fabio, dan Aiko? Kami memilih untuk berkeliling desa salju itu dengan berjalan kaki selama tidak terlalu jauh dari tempat rental. Kami juga pergi ke toko oleh-oleh yang menjual produk khas tempat itu, yaitu kue manju apel. Rata-rata barang yang dijual di toko tersebut tidak jauh-jauh dari apel dan snack Jepang khas musim dingin. Setelah dari toko oleh-oleh, kami pergi ke sebuah lapangan yang tertutup salju. DIsanalah kami bisa membuat boneka salju yang…yaah kecil sih tapi cukup lucu setidaknya. Setelah puas berkeliling desa, kami kembali ke tempat rental untuk berkumpul kembali dengan teman-teman lainnya. Aku juga bisa sholat berjamaah zuhur dan ashar sekaligus dengan Mizan dan yang lainnya sambil menunggu bis yang akan datang 1,5 jam lagi.

Snow battle royale (source: Rae’s gallery)
Frosty hamlet adventure (source: personal snpashot)
Toko oleh oleh desa (source: personal snapshot)

Frosty hamlet adventure (source: Personal gallery)

_____ Jam 3.05, bis yang ditunggu-tunggu sudah datang. Satu per satu dari kami mulai naik ke dalam bis setelah memasukkan tas dan koper kami ke dalam bagasi. Perjalanan pulang kami berlangsung lebih cepat dan lebih “berkilau” karena kami pulang di saat kondisi cuaca sedang cerah-bersalju ringan sehingga tidak begitu memberikat hambatan yang berarti pada bis kami. Selain itu, kami juga berhenti di 2 rest area yang berbeda dari sebelumnya yang tentu saja lebih ramai dan lebih modern, bahkan tampak seperti outdoor mall. Disana, aku hanya membeli roti-roti manis saja untuk mengganjal perutku sampai tiba di Tsukuba agar tidak keroncongan. Kami tiba di Tokyo, tepatnya Stasiun Shinjuku pada pukul setengah 8 malam dan kemudian sambung-menyambung kereta hingga ke Stasiun Akihabara. Setelahnya, kami naik Tsukuba Express untuk sampai ke Tsukuba

_____ Sesampainya di Tsukuba, aku berpesan kepada Mizan untuk mengambil penanak nasi yang ada di kamarku dan masak nasi terlebih dahulu karena aku akan berbelanja kebutuhan harian dulu sembari mengejar diskon malam. seusai belanja malam tercepat sepanjang sejarahku di Tsukuba, aku akhirnya tiba di asrama dengan selamat pada pukul 11 malam. Kondisi asrama sudah sunyi-senyap, menyisakan aku dan Mizan saja yang masih terjaga karena Ezwan sepertinya sudah tidur setelah makan. Akhirnya, sebagai pengisi perut yang utama, kami masak nasi goreng bersama di tengah malam menggunakan nasi yang baru saja dimasak dengan telur, ikan salmon, dan sayur-mayur yang kubeli di supermarket barusan. Tak lupa, tambahan kimchi sebagai pelengkap di cawan terpisah untuk menambah citarasa dan susu sebagai penyegar. Pada akhirnya, aku keluar uang sekitar 20.000 yen, dimana sekitar 15.000 yennya digunakan untuk paket ski dan 5000 sisanya digunakan untuk membeli makanan tambahan serta transportasi dari Tsukuba ke Stasiun Shinjuku. Masih tergolong harga mahasiswa banget lah~, terima kasih Kohei, Aiko, Yuyu, dan Emi!

Kereta pulang (source: Rae’s gallery)

Nah begitulah epilog dari perjalanan liburan musim dinginku bersama tongkat ski, papan snowboarding, dan penginapan tua… kita bertemu lagi, Tsukuba!

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: