Fumidasou! 70 – Persiapan Pulang

_____ Sudah sekian lama berlalu, tapi rasanya masih halu dengan salju dan main ski. Ya, bagiku liburan musim salju sebelumnya terasa masih seperti kemarin. Tak hanya itu, ketika waktu pulang hanya tinggal menghitung minggu, aku semakin merasa kalau masa-masa yang kulewati sendiri, bersama teman-teman PPI maupun AIMS terasa singkat, bahkan sangat singkat. Melihat dedaunan merah musim gugur, merasakan hijauan dan serangga akhir musim panas seperti terjadi dalam sebulan terakhir meskipun sudah berbulan-bulan lalu jaraknya. Saking cepatnya waktu berlalu, tak terasa bahwa sudah tiba waktunya aku untuk bersiap-siap pulang ke Indonesia. Sebelum pulang, aku terlebih dahulu mengurus sesuatu dan membeli berbagai barang. Apa aja tuh?

Boneka salju yang dibuat di Nagano (source: personal snapshot)
Belum lama main salju, sudah ketemu lagi dengan suasana kering musim dingin di Tsukuba (source: personal snapshot)

_____ Pertama dan yang paling utama adalah perihal akademik. Aku harus menyerahkan tugas tugas akhir untuk tiap mata kuliah, terutama mata kuliah yang tidak memiliki UAS karena bobot tugas akhirnya besar banget (dan tugasnya pun njelimet). Setelah mengumpulkan tugas, hal yang tak kalah pentingnya adalah mengurus pencetakan transkrip. Namun, terjadi masalah besar saat mencetak transkrip, yaitu terjadi kesalahan penginputan data ke dalam sistem sehingga ada nilai yang tidak bisa keluar, yaitu mata kuliah yang seharusnya aku dapat nilai A (dan yang tugas akhirnya paling tebal), tak lain dan tak bukan adalah “Japan and the World”, mata kuliah yang diajarkan oleh Pak Liang Pan. Mata kuliah yang sebenarnya menarik karena membahas sejarah Jepang pasca PD 2 dari segi ekonomi, sosial, maupun politik dan dosennya pun bisa hafal seluruh detail sejarah, termasuk hingga tanggal dan tokoh yang terlibat di dalamnya baik yang inti maupun non-intinya. Namun sayang, nasib dari nilai paper yang kutulis tebal tersebut harus berada di ujung tanduk karena kesalahan memasukkan mata kuliah.

_____ Jadi apa yang kulakukan? Pertama, aku harus mengambil borang penggantian mata kuliah dari pusat akademik di gedung 2B lantai 3. Borang tersebut diisikan mata kuliah yang kita salah mengisi datanya (berikut cap hanko / tanda tangan dari dosen yang mengajar), mata kuliah yang kita ambil secara benar (berikut cap hanko / tanda tangan dari dosen yang mengajar juga), cap dari dosen pembimbing, dan cap dari dekan. Aku harus menyelesaikan permasalahan cap cap mata kuliah tersebut sebelum aku pulang ke Indonesia karena jika tidak, maka transkripku akan terisi mata kuliah dengan nilai yang bolong. Untuk cap dari dosen pengampu mata kuliah, aku tidak mengalami masalah sama sekali karena dosen yang mengajar mata kuliah yang aku salah mengisinya memintaku meletakkan borangnya ke dalam kotak surat di kantor fakultas bahasa dekat daigaku kaikan (balairungnya Tsukuba lah kalo cari padanannya di Indonesia). Pengecapan pun berlangsung singkat karena saat aku meletakannya di pagi hari dalam kotak surat, sorenya sudah di tanda tangani. Hal yang sama juga terjadi dengan mata kuliah yang benar, yaitu Japan and the World. Pak Liang Pan menyuruhku meletakkan borangnya ke dalam kotak surat yang tergantung di pintu kantornya di gedung 1K dan hanya berselang dari pukul 11.00 – 13.00, aku sudah mendapatkan kabar dari bapaknya kalau ia sudah membubuhkan cap di borangnya.

_____ Tantangan terjadi saat aku ingin meminta cap hanko dari dosen pembimbingku dan dekan di borang yang sudah ditandatangani oleh 2 dosen sebelumnya itu. Saat aku meminta dosen pembimbingku, beliau sedang berada di Vietnam untuk sebuah urusan. Waduh, gimana dong? Untunglah beliau bersedia memberikan izin melalui asisten labnya. Jadi saat aku membawa borang tersebut kepada sang asisten, asisten tersebut membubuhkan cap hanko cadangan milik pak dosen. Salut sih, Nomura sensei sudah menyiapkan hal tersebut untuk berjaga jaga karena banyak mahasiswa asing, terutama yang dari Asia Tenggara pasti urusannya dengan beliau. Nah, masalah terbesar terjadi saat mengurus cap hanko dari pak dekan, bukan karena pak dekannya itu sendiri yang galak atau sibuk, melainkan karena sekretarisnya agak jutek dan ribet. Membutuhkan waktu sekitar 1 hari untuk meyakinkan kepada bu sekretarisnya bahwa kejadian tersebut adalah murni kesalahpahaman dan tidak ada unsur kesengajaan atau sesuatu lainnya, namun ia masih bersikeras menolak menyampaikannya kepada pak dekan.

_____ Lalu bagaimana mengurusnya? Untungnya, di kantor administrasi fakultas terdapat ibu pengurus yang baik banget dan berpengalaman dalam mengurus masalah mahasiswa internasional (kami juga sempat ketemuan di acara mochitsuki), jadi aku bercerita kepada beliau tentang masalahku. Beliau kemudian membantu menjelaskan situasinya kepada bu sekretaris dekan dan akhirnya masalah pun selesai. Setelah menjelaskan kepada bu sekretaris, beliau menceritakan padaku kalau ini bukan pertama kalinya terjadi masalah seperti itu. Sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi baik pada mahasiswa internasional yang tinggal sebentar di Tsukuba maupun mahasiswa full time, bahkan ada yang lebih parah lagi kasusnya dibandingkan denganku. Waduh, bisa gitu ya? Keesokan harinya, bu sekretaris menyampaikan borangku kepada pak dekan dan sore harinya aku sudah bisa mengambil borangnya di kotak surat yang ada di depan ruang dekan. Aku pun langsung menyerahkan borang yang sudah diisi penuh tersebut kepada bagian pusat akademik dan beres.

Pintu gerbang Ichinoya yang menghadap ke arah pusat pertanian kampus (source: personal snapshot)
Jalan menuju Masjid Tsukuba, TRIAL supermarket, dll (source: personal snapshot)

_____ Masalah akademik beres, sekarang masalah pribadi, yaitu sepeda. Karena aku akan pulang ke Indonesia, aku tidak mungkin membiarkan sepedaku tergeletak di parkiran asrama begitu saja, lagipula aku juga tidak ada adik kelas yang akan ke Tsukuba dalam waktu dekat. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menjual sepedaku. Aku pun memajang foto sepedaku berikut STNK nya ke forum jual beli (FJB) Tsukuba yang ada di Facebook. Untunglah, tak sampai 1 hari, sudah ada beberapa orang yang menyatakan ingin membeli sepedaku seharga 5000-6000 yen. Setelah menyeleksi calon pembeli yang pas dan menawar dengan harga wajar, akhirnya ada seorang pria dengan nama ala-ala timur tengah yang menyatakan ia bersedia membeli sepedaku. Ia pun bertanya tanya padaku tentang spesifikasi sepedanya dan sebagainya karena ia berniat membelikannya untuk istrinya yang juga tinggal di Jepang. Pada malam keesokan harinya, aku bertemu dengannya di depan halte Ichinoya. Setelah melihat wujud dari sepedanya dan dicoba test drive oleh istrinya, akhirnya kami pun sepakat dan pada malam itulah sepedaku telah berhasil dilelang.

_____ Masalah terakhir adalah masalah oleh oleh dan Jastip. Karena aku hanya diberikan kuota sekian kilo dari pihak maskapai, maka aku harus mempertimbangkan barang bawaan yang akan aku bawa ke Indonesia. Koperku saja saat penuh bisa mencapai bobot 20kg, belum lagi dengan tas tentengku yang bisa mencapai 7kg kalau berdasarkan waktu keberangkatan. Jadi, aku membeli barang-barang yang sekiranya murah, ringan, dan tidak memakan banyak ruang sehingga bisa dimuat di dalam ransel, koper, maupun tas tenteng. Untunglah, temanku yang mahasiswi full time asal Filipina, Jan, berencana membeli kardus baru yang kuat dari Amazon untuk mengirim barang ke temannya di Filipina. Makanya selain aku membeli buku-buku dari Amazon, aku juga memintanya untuk melebihkan 1 kardus untukku agar nanti ketika sampai aku bisa beli darinya. Namun saat kardusnya sampai, ia tak meminta sepesepun dariku dan menganggapnya itu sebagai hadiah perpisahan.

_____ Tak hanya Jan yang memberikan barang padaku, Mizan pun tak kalah baiknya dalam berbagi hal yang jumlahnya berlebih. Saat liburan musim dingin yang lalu (baca Fumidasou! 66), aku menggunakan kartu Suica (semacam kartu Flazz di Jepang untuk naik transportasi umum) pemberian Mizan. Kata Mizan, ia membeli 3 kartu Suica karena saat tahun baru, orang tuanya datang ke Jepang. Karena orang tuanya sudah kembali ke Brunei, jadi salah satu kartunya diberikan ke aku. Karena kartunya tidak ada masa kadaluarsanya, maka au bisa menggunakannya lain waktu, bahkan setelah nanti aku kembali ke Indonesia. Senangnya punya teman-teman yang baik dari berbagai negara.

Suica dari Mizan (source: personal snapshot)
Kartu pos dari ibu pemilik penginapan tua di Nagano (source: personal snapshot)

_____ Tak cuma benda non konsumsi, aku juga membeli banyak makanan untuk diberikan sebagai oleh oleh ke keluarga maupun teman, mulai dari cokelat, biskuit, keripik, hingga teh. Salah satu dari makanan yang kubeli adalah jelly dari konnyaku (蒟蒻), atau suweg. Kenapa membeli makanan tersebut? Karena jelly tersebut merupakan jelly yang tidak mengandung gelatin atau bahan-bahan mencurigakan lainnya. Selain itu, konnyaku sendiri merupakan bahan yang bisa membentuk gel dan sangat rendah kalori sehingga bagus untuk diet (apalagi berat badanku naik 10 kg setelah sekian lama di Jepang). Rasa dari jelly konnyaku ini juga enak sekali karena mengandung buah asli sekian persen hingga 20-an % (tergantung dari rasanya). Untuk kemasannya sendiri ckup mudah dibuka, tinggal sobek dan sedot. Pokoknya recommended banget buat dibawa sebagai oleh-oleh.

_____ Selain jelly konnyaku, hal yang kubeli cukup banyak untuk dibawa sebagai oleh oleh adalah cokelat, mulai dari merk “Bourbon Alfort” hingga “Fujiya : Look 4”. Fujiya Look 4 merupakan cokelat yang unik karena dalam 1 kotak berisi 4 jenis cokelat yang berbeda kadarnya, mulai dari 27% hingga 70%. Selain itu, cokelat-cokelat tersebut merupakan cokelat yang cukup murah dan mudah ditemui di Tsukuba karena hanya dengan merogoh kocek sekitar 60-70-an yen (kira kira 8000 – 9000 rupiah), kita bisa mendapat sekotak coklat yang enak. Karakteristik cokelat Look 4 menurutku mirip dengan cokelat batang dari merk Lotte karena tidak terlalu berminyak seperti merk Meiji ataupun terlalu kering seperti merk Morinaga. Porsi cokelat-cokelat ini juga tidak medit lho, arena untuk look 4, 1 kotak berisi 12 keping (masing masing level 3 keping) dengan total berat bersih sebanyak 52g. Cokelat Bourbon Alfort pun juga tak kalah enak, terlebih yang milk chocolate (warna biru tua) dan warna merah (rasa milk tea). Oh iya, cokelat cokelat tersebut juga tidak mengandung bahan yang mencurigakan lho (meskipun Bourbon Alfort awalnya mencurigakan, namun setelah dikonfirmasi ternyata aman) secara titik kritis kehalalannya.

Salah dua snack yang kubawa dari Jepang sebagai oleh oleh, Konyaku dan cokelat (source: personal snapshot)

Beberapa jenis teh yang kubawa ke Indonesia sebagai oleh-oleh (source: personal snapshot)

_____ Yang tak kalah penting untuk dibawa dari Jepang adalah teh-tehnya yang enak banget. Aku membawa beberapa jenis teh ke Indonesia, mulai dari genmaicha (teh dari beras yang tidak disosoh), ryokucha (teh hijau), hōjicha (teh dari daun teh yang disangrai), hingga teh dari jamur, bunga plum, dan rumput laut. Teh-teh tersebut juga ringan dibawa sehingga tidak akan menjadi beban berat di bagasi. Selain teh, jenis minuman yang bisa dibawa ke Indonesia dari Jepang adalah kopi. Kenapa kopi, bukannya di Indonesia banyak? Emang, dari segi varian, kopi di Indonesia memang sangat banyak jenisnya dibandingkan di Jepang, namun dari segi cara pengolahan mungkin Jepang memiliki cara-cara pengolahan yang tidak lazim ditemui di Indonesia, seperti kopi freeze dry (seperti kopi yang diberikan oleh Riki).

Buku bacaan menarik untuk yang pengen belajar Bahasa Jepang (source: personal snapshot)

_____ Terakhir, aku membawa barang-barang berupa baju yang sebelumnya kudapat dari 0 yen market dan toko barang bekas. Baju-baju yang kubawa tersebut merupakan baju yang tergolong cukup bagus dan memang bukan baju sehari hari, seperti jas, jaket, dll (kalo kaos doang sih mending beli di Indonesia aja). Selain pakaian, benda non konsumsi lainnya yang kubawa adalah buku, yaitu buku novel-komik berbahasa Jepang. Dari buku-buku ini, aku bisa belajar Bahasa Jepang dengan lebih komprehensif dan tentunya masih relevan untuk digunakan, tidak seperti jika hanya belajar dari buku paket semata yang bisa jadi terkesan kaku. Nah sekian rangkuman dari barang-barang yang kusiapkan sebelum pulang, sampai jumpa di postingan selanjutnya.

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: