Fumidasou! 72 – Tadaim’home

_____ Hari terakhirku di Tsukuba telah tiba. Karena sudah mempersiapkan semuanya, baik perlengkapan kepulangan seperti paspor, tiket, dll hingga oleh-oleh dari jauh-jauh hari, maka di hari terakhir setelah perpisahan dengan teman-teman, aku hanya tinggal tidur nyenyak saja di kamar sambil menunggu jam keberangkatan. Aku juga telah mengambil uang deposit dari kantor urusan tempat tinggal di Ichinoya sehari sebelum kepulangan. Sebelum pengambilan uang deposit, petugas pengurus Ichinoya memeriksa kamarku dengan teliti, apakah terjadi kerusakan atau kekotoran yang sifatnya mayor sehari sebelumnya (sesuai yang telah dijadwalkan dari 30 hari sebelum kepulangan). Untuk uang depositnya sendiri, aku mendapat nilai penuh, dari yang kubayarkan di awal sebesar 30.000 yen, kini kembali 22.700 yen (karena sebagaimana yang tertulis di surat perjanjian, 7300 yen nya pasti diambil untuk biaya kebersihan dan perawatan). Maka dari itu, hari terakhirku di asrama sudah tenang, hanya tinggal menikmati malam terakhir dengan nyaman, meski harus tidur tanpa bantal, guling, dan selimut karena sudah dikembalikan ke bagian binatu asrama. Untungnya, aku bisa menggunakan listrik dalam kamar secara penuh di malam terakhir karena sudah tercatat sebagai mahasiswa yang pulang. Pada malam terakhir, untuk pertama kalinya, aku menyalakan penghangat ruangan dengan suhu terhangat dan angin terkencang, tidak seperti pada malam-malam biasanya yang tidur hanya dengan berpelukan pada botol berisi air panas. Tak jomblo lagi nih, hihihi~

_____ Pesawatku sendiri berangkat pada pukul 10.10 dari bandara Narita. Namun, aku diharuskan tiba di Narita pada pukul 08.00 untuk keperluan check-in dan lain sebagainya. Awalnya, aku bingung apakah aku harus naik bis express dari Tsukuba – Narita atau menginap di hotel dekat bandara seperti saran Emmanuel. Nomura Sensei menyarankan kalau aku ingin mengirit biaya, lebih baik berangkat dari asrama saja, naik bis express yang berangkat dari Tsukuba Center pada pukul 6 pagi dan tiba di bandara sesaat sebelum pukul 08.00. Maka dari itu, aku lebih memilih untuk tinggal lebih lama di asrama, menikmati malam terakhirku bersama teman-teman. Sensei juga mengatakan bahwa ia bersedia mengantarkanku hingga terminal Tsukuba Center hingga aku berangkat dengan bis. Makanya, aku tenang-tenang saja tidur di asrama pada malam terakhir, bersama dengan penghangat yang kunyalakan sampai poll itu.

Tiket untuk pulang ke Indonesia (source: personal snapshot)

_____ Pada pukul 11 malam setelah makan malam perpisahan dengan teman-teman dan membeli tali rafia untuk mengikat kardus, aku pergi ke depan asrama Eli dan Vanya karena mereka ingin mengucapkan salam perpisahan padaku. Sesampainya di depan asrama mereka, mereka tampak sedih karena aku pergi dari Tsukuba terlalu cepat. Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, mereka memberiku oleh-oleh kue khas Tsukuba dengan box yang desainnya lucu lucu (kue telur burung hantu lho!). Setelah dari asrama tersebut, aku kembali ke asramaku untuk bersiap siap tidur. Tak lupa, sebelum tidur aku juga menyetel alarm agar bisa bangun pada pukul setengah 5 pagi untuk bersiap siap turun dari kamar. Saat bangun, entah kenapa aku tak merasa lemas atau pegal, mungkin karena efek terbawa suasana akan kembali ke Indonesia, serta suasana ruangan yang tak biasanya sehangat 28 derajat. Aku segera menurunkan koper, kardus, dan tas-tasku ke lantai dasar, tepat di depan pintu keluar. Seusai menurunkan barang bawaan, aku segera ke dapur untuk mengambil wudhu agar bisa sholat subuh segera ketika waktu subuh tiba pada pukul 05.15. Kondisi asrama saat itu sangatlah sepi, serasa tidak ada orang yang sudah bangun.

_____ Seusai sholat, aku mematikan lampu, penghangat ruangan, dan mencabut semua alat elektronik dari stop kontaknya. Tak lupa, aku mengunci pintu terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor pengurus asrama Ichinoya untuk mengembalikan kunci. Setelah mengembalikan kunci, aku kembali ke asrama untuk bersiap siap mengangkat keempat barang bawaan yang berat itu. Namun siapa sangka, ketika aku kembali ke asrama, ternyata ada Mizan, Ezwan, dan Tony yang sudah bangun dan berdiri di belakang pintu kaca asrama. “Kenapa pada bangun pagi-pagi gini? kangen yaa~” tanyaku agak menyindir. “Nanti aku kesepian dong, ngga bisa nitip makanan halal lagi sama kamu wkwk” balas Mizan. “Iya nih, ntar nggak ada yang masak masak lagi dong di dapur, safe flight ya!” lanjut Ezwan. “Sampai ketemu lain kali bro, ntar kalo aku ke rumah saudara yang ada di Jakarta, ketemuan lah” sambung Tony. Wahh, aku terharu, ternyata ketiga orang tersebut bela-belain bangun pagi untuk melepasku pergi dari asrama sekaligus membantu membawa barang-barangku ke halte sambil menunggu Sensei tiba. Tak hanya itu, Tony dan Ezwan juga memberikan oleh-oleh berupa jajanan yang enak banget.

_____ Tepat pukul 05.30, seperti kebiasaan Sensei yang tepat waktu, ia pun tiba di halte bis Ichinoya dengan sangat amat tepat waktu, membawa mobilnya jauh jauh dari Kota Moriya, sebuah kota kecil di sebelah Tsukuba. Mizan, Tony, dan Ezwan kemudian membantuku memasukkan barang barangku ke dalam mobil. Setelah semua masuk, barulah aku dan Sensei berangkat menuju terminal bis Tsukuba Center. Meski sudah hampir jam 6 pagi, langit masih cukup gelap ala malam musim dingin yang panjang. Setibanya kami di Tsukuba Center, aku langsung mengantri di antrian yang sudah ada 5 orang di depanku. Aku tidak perlu lagi membeli karcis bis karena aku sudah membelinya sehari sebelumnya, sesuai dengan anjuran Sensei agar tidak perlu repot-repot mengantri di pagi harinya (untung sudah beli sebelumnya, coba kalo belinya pas pagi hari H nya, iya kalo dapet, kalo ngga?). Bis yang sudah ngetem di terminal sejak 15 menit lalu itu kemudian membuka pintunya dan mempersilahkan para pengantri untuk masuk satu per satu. Mbak kenek kemudian mendata barang-barang mana saja yang akan dimasukkan ke dalam bagasi dan diberi semacam tag, dan mana saja yang dibawa ke dalam bis. Aku pun akhirnya naik bis dengan hanya membawa tas ransel hitamku ke dalam. Sebelum bis berjalan dan antrian masih agak panjang, aku berfoto sebentar dengan Sensei sebagai tanda perpisahan. Sesuai jadwal, akhirnya bis berangkat tepat pada pukul 06.10 pagi. Daag, Tsukuba~

Tiket bis dari Tsukuba menuju Bandara Narita (source: personal snapshot)

_____ Jalanan tampak masih sepi, dengan hanya sedikit mobil saja yang berlalu-lalang sepanjang jalan Tsukuba ke Ushiku. Saat tiba di Ushiku Center, bis kemudian berhenti dan penumpang selanjutnya pun naik. Sejauh itu, penumpang bis hanya memadati separuh isi bis saja, bahkan aku pun bisa duduk sendiri di bangku untuk 2 orang itu. Sawah, ladang, perkotaan, hutan, hingga terminal-terminal pemberhentian sudah terlewati. Kini tiba saatnya bis masuk ke jalan tol untuk terus menuju Bandara Narita. Sepanjang jalan tol, bis sama sekali tidak tersendat oleh kemacetan, benar benar lancar jaya. Aku akhirnya tiba di Bandara Narita pada pukul 07.52. Sesampainya aku di bandara, aku langsung mengambil barang bawaanku dari bagasi bis dan segera masuk bandara. Tak lupa, aku mengabari Sensei bahwa aku sudah tiba di bandara dengan selamat dan akan melakukan proses check-in. Karena terminal keberangkatannya sangat luas, aku jadi memerlukan sekitar 10 menit untuk mencari loket check-in untuk maskapai Malaysia Airlines. Ternyata repot juga mendorong trolley dengan mautan sebesar dan seberat itu seorang diri, karena barang bawaanku bertambah baik ukuran maupun bobotnya dibandingkan saat awal keberangkatan ke Jepang.

_____ Saat melakukan check-in di loket, aku kaget bahwa ternyata bobot barang bawaanku tepat seberat 30 kg, sesuai dengan kuota yang ditetapkan. Mbak petugas check-in maskapai Malaysia Airlines kemudian menyalakan ban berjalannya untuk mengirim koper, kardus, dan tas tentengku ke kargo. Seusai check in, aku pergi ke toilet sambil membawa tas ransel hitamku yang berat itu. Untungnya, tas ranselku tidak ditimbang karena beratnya mencapai hampir 8 kg, sedikit melebihi kuotanya yang sebesar 7 kg (kalau buang jajanan dan minumnya pas 7 kg sih harusnya). Sekembalinya dari toilet menuju tempat check-in, aku menemukan hal yang tampaknya tidak asing di bandara, yaitu gantungan kunci IPB. Siapa itu, pakai gantungan kunci IPB? Aku menyapa seorang pria dengan tas bergantungan kunci IPB yang sedang mengantri di loket Malaysia Airlines. Rupanya, itu adalah mahasiswa IPB yang berada 2 tingkat lebih muda dariku setelah pulang dari sebuah acara conference di Jepang. Tak hanya ia sendiri, namun ada juga 6 orang temannya berikut seorang mahasiswa UNJ yang juga turut menyertai rombongan itu. Seusai mereka check-in, kami bersama-sama masuk ke dalam gate bandara karena penumpang pesawat Malaysia Airlines yang berangkat pukul 10.10 pagi tersebut sudah diperbolehkan untuk masuk.

_____ Sambil berjalan ke dalam gate, kami sempat mengobrol-ngobrol dan bertukar akun media sosial (yang sampai saat ini masih sering aktif ngobrol juga lho!). Rasanya kangen banget ketemu dengan mahasiswa Indonesia di Jepang, bahkan yang satu almamater. Entah ini kebetulan atau takdir, who knows… Setelah masuk ke dalam gate, rupanya jalan masuk menuju dek pesawat sangatlah jauh. Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah toko oleh-oleh khas Jepang yang kelihatannya unik. Kami pun tergoda untuk membeli oleh-oleh di dalamnya, apalagi tokonya ruaaameee banget sampai antriannya pun mengular naga. Seusai mengambil barang yang ingin kami beli, kami memecah antrian agar bisa saling titip di barisan mana yang paling cepat selesai, sebut saja taktik mengantri ala orang Indonesia, tee hee. Yang terpenting, tidak menyerobot antrian khan? Oh iya, di toko oleh oleh tersebut, aku membeli pie apel Hello Kitty yang enaaak dan lembuuut banget, dan yang terpenting bahan-bahannya aman untuk dikonsumsi.

Foto teras bebatuan yang bersalju yang mengingatkanku dengan Tsukuba saat salju pertama (source: Nanaris’ snapshot)

_____ Sesampainya kami di foyer untuk menunggu masuk ke pesawat, kami saling bertukar camilan seperti cokelat. Aku juga ditanyai banyak hal oleh mereka seputar hidup di Jepang. Sepertinya mereka sangat antusias untuk studi ke luar negeri, semangat yaa~ kalian pasti bisa. Kami terus mengobrol hingga pemberitahuan di pelantang memisahkan kami. Karena kursiku jauh berada di bagian depan pesawat sedangkan mereka berada di belakang pesawat, kami pun tidak bisa mengobrol lagi, pun setelah pesawat mendarat karena pesawat selanjutnya yang digunakan dari bandara transit pun berbeda. Aku duduk di bangku yang berada di dekat jendela, namun bukan kursi yang tepat di sebelah jendela. Di sebelahku ada seorang bapak-bapak (sepertinya orang Malaysia) sedangkan di bagian tengahnya kosong. Saat memasukkan tas ke kompartemen, bapak tersebut menyapaku dalam bahasa yang aku tidak tahu (yang jelas bukan Bahasa Melayu seperti yang digunakan Sarah dan Reen, ataupun Bahasa Inggris). Mungkin bapak tersebut mengira aku orang Malaysia juga.

_____ Aku membalas sapaan bapak tersebut dengan menjawab dalam Bahasa Inggris bahwa aku bukan orang Malaysia dan tidak lancar berbahasa Melayu. Bapak tersebut kemudian berbicara dalam Bahasa Melayu yang kedengarannya sedikit agak aneh (tidak seperti temanku yang dari Malaysia dan Brunei, ataupun di kartun Upin & Ipin). Aku akhirnya membalas pembicaraannya dengan Bahasa Melayu yang sedikit ala kadarnya karena aku tidak tahu banyak kosakata Bahasa Melayu (kecuali yang sama persis dengan Bahasa Indonesia, ataupun yang sering dipakai di Upin & Ipin). 1 kata dari bapak tersebut yang masih kuingat sampai sekarang adalah kata “tidun, tidun”. Entah apa artinya itu, apakah ia berusaha mengatakan padaku untuk “tidur, tidur” selama di perjalanan menuju Kuala Lumpur International Airport (KLIA) atau bagaimana, aku tidak tahu. Selama perjalanan kami sempat mengobrol beberapa kali, entah frekuensinya nyambung atau tidak karena sebagian besar Bahasa Melayu yang kami gunakan sama sama broken malay dan hanya sedikit menggunakan Bahasa Inggris. Yang jelas, saat itu aku berusaha mencairkan suasana agar tidak krik krik jangkrik. Yang kuingat tentang bapak tersebut adalah bahwa bapak tersebut sepertinya karyawan suatu perusahaan di Jepang. Hal tersebut tampak dari tulisan kanji-kanji di layar HP nya yang dipegang tegak menghadap wajahnya sehingga aku bisa melihatnya walau secara tak sengaja (kayak bapack-bapack Indonesia kalau megang HP gitu).

_____ Untungnya, aku tidak ngenes-ngenes amat di dalam pesawat karena di kursi tersedia tablet yang berisi lagu, Al-Quran, fil, buku, dan katalog Malaysia Airlines. Tak hanya hiburan elektronik, selama perjalanan pun terdapat coffee break dimana para pramugari dan pramugara mengantarkan kue-kue kecil dan minuman seperti teh, kopi, susu dan jus jeruk. Belum cukup sampai disitu, pihak maskapai juga menyediakan makan siang yang cukup mevvah, berupa nasi, ikan salmon panggang, coleslaw, tamagoyaki, dan rumput laut, Jepang banget deh pokonya menunya. Sebenarnya, saat menghampiri kami, kami ditawarkan beberapa opsi, mulai dari makanan ala barat, makanan ala Jepang, hingga makanan ala Malaysia. Karena masih berada di dekat Jepang, aku memilih makanan Jepang sebagai pelengkap suasana kepulanganku dari Jepang. Pada pukul 5 sore lewat sedikit, pesawat pun akhirnya tiba di bandara KLIA. Aku kaget saat pesawat mendarat di bandara karena sejauh mata memandang, yang ada hanyalah hutan sawit, sawit, dan sawit. Tak hanya itu, ternyata bandara KLIA besarnya bukan main, sama seperti yang sudah diceritakan sensei saat mengantarku pagi harinya.

Transit lamaaa~ banget di KLIA (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di KLIA, aku keluar dari pesawat dan bergerak menuju terminal yang berbeda. Karena saking luasnya, bandara KLIA memiliki kereta dalam bandara yang nggak kalah keren dengan CGK. Meski begitu, jarak antar bandara terminal yang satu dengan terminal lainnya memang terpaut jauh sehingga mau tidak mau ya harus naik kereta, tidak bisa jalan kaki seperti di CGK. Setelah berpindah terminal, aku mencari tempat yang tidak jauh-jauh dari foyer untuk pesawat menuju Jakarta. Untungnya, aku menemukannya tak jauh dari pemberhentian kereta. Siip, masih ada waktu sekitar 5 jam lagi untuk menunggu, saatnya berkeliling dan mencari musholla untuk sholat maghrib beserta isya. Namun, entah kenapa aku tidak bisa menemukan musholla di terminal KLIA tersebut. Aku pun bertanya kepada makcik di meja resepsionis tentang lokasi musholla atau ruang sholat dan ia menunjuk ke arah tepat tidak jauh dari ruang tunggu pesawat. Hah, perasaan aku dari tadi sudah berkeliling daerah sini, kok nggak ketemu ya? Oh, ternyata, selidik punya selidik, musholla di Malaysia lebih akrab disebut dengan Surau, atau Bilik Sholat. Waduh, baru tahu aku ternyata demikian, hehehe…

_____ Seusai sholat, aku duduk menunggu di kursi depan ruang tunggu. Karena tidak tahu mau beli apa di bandara, dan aku sedang menghemat uang, maka aku mengeluarkan bekal yang sudah kusiapkan sebelum berangkat tadi, yaitu mie Samyang Carbonara (yang sudah tersertifikasi tentunya) yang kubeli sebelumnya di warung makanan impor di Amakubo 3. Emang sih, mienya sudah anyep karena dingin dan menjadi kaku akibat disimpan di wadah plastik sekali pakai, tapi daripada boros ya sudahlah, makan saja, toh ada kutambahkan telur ceplok ini di atasnya. Seusai makan, karena kepedasan dan tidak tahu mau beli air minum dimana, maka aku meredam rasa pedasnya dengan memakan kue yang baru saja diberikan oleh Ezwan pada pagi harinya sebelum membantu mengangkat barang bawaanku. Sekejap, langsung kuberitahu Ezwan bahwa kue macaron nya enak sekaliiiiiii, benar benar manis dan lembut di mulut.

_____ Setelah pukul 8, penumpang pesawat Malaysia Airlines menuju Jakarta dipersilahkan masuk ke ruang tunggu. Aku masuk ke dalam ruang tunggu setelah menghabiskan kue yang diberikan Ezwan. Di dalam ruang tunggu, aku hanya bisa mengisi baterai HP ku pada stop kontak yang tersedia di sebelah kursi agar nanti ketika sampai di Jakarta, aku bisa menghubungi orang tuaku untuk menjemput atau pesan Grab Car / Go-Car. Setelah sekitar pukul 9 malam, para penumpang dipersilahkan masuk ke pesawat. Kali ini, pesawatnya berbentuk lebih kecil dibandingkan pesawat sebelumnya dan aku mendapat kursi tepat di sebelah jendela, akhirnya~. Saat pesawat akan lepas landas, pramugari kemudian membawakan set makan malam berupa nasi dengan ayam teriyaki, salad, dan sebagainya. HAH, seriusan dapat makanan lagi? tau gitu nggak usah repot repot masak~ hehehe. Perjalananku berakhir di Jakarta pada pukul setengah 12 malam dan aku akhirnya kembali ke rumah dengan selamat setelah dijemput oleh orang tua.

Halo lagi, Jakarta (source: personal snapshot)

Demikianlah seluruh rangkaian ceritaku di Jepang mulai dari kedatangan hingga kepulangan. Silahkan baca kembali dari edisi Fumidasou! 1-72. Terima kasih sudah membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: