Satu Hasta Dua Langkah

“Uwaaaa~~~”

Jerit seorang anak di halaman ketika terjatuh setelah berjalan 2 langkah. Sang ayah lantas mengangkat si anak dan menepuk-nepuk celananya yang kotor dengan tanah. Sejenak terdiam, kemudian si batita mungil ini berjalan, selangkah dua langkah, kemudian tersendat dan terjatuh di langkah yang ketiga. Tangisan kali ke-2 pun pecah, diikuti dengan ayahnya yang kembali menepuk-nepuk celana bagian paha si kecil. Lanjut, si kecil dibantu berdiri oleh ayahnya dan kembali belajar berjalan. Setapak demi setapak ia jalani, hingga 2 ubin terlampaui sampai akhirnya ia terjatuh kembali dan menangis. Beberapa minggu kemudian, ia bisa berjalan dari ujung ruang tamu hingga tivi, meskipun terkadang terguncang dan terjatuh.

Di belahan dunia yang lain, seorang anak kecil mencoba mengeja apa yang ibunya katakan. “ba~ba~…. mo~mo~… mwa~mwa~…………” brusssshhh~~~ ia menyemburkan ingus ke wajah ibunya.Ibunya lantas mengambil tisu di atas meja dan mengelap wajahnya dan wajah si dedek. “Mama, coba ulangin lagi dek!” kata sang ibu. “Mwo~mwo…. nya~nya~” balasnya yang masih salah dalam mengeja. Beberapa  hari setelahnya ia pun bisa mengeja “Mama” dengan benar, lengkap dengan air liurnya yang muncrat.

Dari tidak bisa, menjadi bisa

Terkadang kita mengeluh ketika terbebani dengan banyak hal, menderita dengan beratnya masalah, merana dengan penatnya cobaan. Ingin belajar bahasa baru… “ah aku udah ketuaan, susah ingetnya, ga bakal masuk masuk ke otak, percuma”. Bertemu dosen untuk minta ACC skripsi,  malah dikasih 2M, iya………………. Mohon Maaf~ . “yaelaah… males banget mesti revisi bagian ini itu, tambah tabel ini gambar itu, formatnya begini cetaknya begitu”.

Anak anak tidak tahu apa itu bersyukur, lantas apakah itu menjadikan mereka kufur? Kita tahu definisi kata “bersyukur”, bahkan mungkin hafal berbagai makna dan penerapannya setelah membaca berbagai buku, kitab, dan cuitan di internet. Tetapi, tampaknya kita sebagai orang yang lebih dewasa kalah dengan mereka yang masih belia dalam hal ini. Tak hanya tentang bersyukur, kita juga kalah dari mereka tentang 1 hal lainnya.

Batas

Bagi mereka, berbicara merupakan hal yang harus diraih, bahkan dikuasai. Melihat dari gendongan ibunya saat ngerumpi bareng tetangga sebelah, si adik pun mengira bahwa suatu saat iapun harus bisa seperti ibunya, berbicara. Sang balita yang belajar berjalan pun demikian, melihat dari tayangan kartun yang tokoh utamanya bisa berjalan, berlari, melompat lompat, maka ia pun berpikiran bahwa ia harus bisa seperti itu, atau bahkan lebih cepat dari itu, secepat angin? secepat kilat? siapa yang tahu. Mereka tidak kenal yang namanya batas bahwa saat ini kaki mereka belum memungkinkan untuk berjalan, lidah mereka belum mampu untuk berucap. Tapi, apakah mereka menyerah?

Sehari, beberapa kali, terguling-guling, terjatuh, bangkit, ulang kembali. Satu jam, berceloteh, tertawa, menangis, berputar lagi. Manusia kecil ini terus mencoba. Mereka sedang membuktikan persamaan yang hasilnya tak hingga. Ya, dari 0 menjadi 1. Pertumbuhannya ∞, tak hingga, karena dari tidak bisa mengatakan sebuah kata menjadi bisa mengucapkan sepatah kata. Dari tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan.

Mari bandingkan, kita mempelajari bahasa baru, namun apakah kita start dari 0 tanpa sebelumnya tahu bahasa lama yang kita pakai? Kita mengerjakan skripsi, sebuah karya suci yang diselesaikan di akhir masa studi, bukan sebuah tulisan yang wajib diselesaikan ketika baru sehari menyandang gelar mahasiswa. Lihat! Kita bahkan memulainya tidak dari 0, kita memulai dari titik ke sekian, dari yang sudah “ada” akan dibuat menjadi “ada+”, dari hal yang kita sudah pegang landasannya. Lantas, kenapa kita bisa merasa tak berdaya dibuatnya.

Boleh jadi, karena kita dikurung dalam penjara hati kita sendiri. Ya, kita dilemahkan oleh batas yang kita buat sendiri. Kita Terlalu Realistis, Anak Kecil Idealis …. mungkin. Kita dikekang oleh rantai yang kita ciptakan beberapa milidetik setelah kita berkata “ahhh aku ga bisa”, “males ih”, “buang buang waktu aja”, dan lainnya. Kalau sudah begini, siapa yang bisa melepas rantainya, siapa yang bisa membuka gembok penjaranya. Apakah kita akan meminjam raga dari adik-adik yang baru berlatih berjalan dan belajar berbicara? Ataukah kita akan belajar bagaimana merakit asa dari mereka?

Yaaah~ hari sudah malam. Mari memutar lagu GReeeeN – 始まりの唄

AAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: