Tiga Pemuda Keliling Jawa 3 – Sepur

_____ Hari ke-3 telah tiba, saatnya kami memulai petualangan mengelilingi pulau Jawa. Kami berencana memulainya dengan pergi ke Yogyakarta menggunakan kereta sebagai moda transportasi yang terjangkau dan terpercaya (Thanks a bunch, PT.KAI). Pagi itu, kami menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan selama beberapa hari perjalanan. Aku sendiri sebenarnya sudah menyiapkan kebutuhan itu seminggu sebelumnya, jadi tidak ada masalah (paling hanya nambahain camilan aja ke dalam ransel). Bagaimana dengan Riki dan Kento? Mereka berdua sudah menyiapkan amunisi berupa pakaian yang jumlahnya benar benar secukupnya (3 pasang saja). Hee~ maji? Ya, beneran, mereka benar-benar hanya membawa barang secukupnya, bahkan tas yang mereka bawa untuk berpergian saja berukuran minim layaknya siswa SMA (bukan ransel orang kuliahan, kantoran, apalagi backpacker). Mereka bilang, katanya nanti akan mencuci saja di hotel… Seriusan!!!

_____ Kami berangkat dari rumah pukul 9 pagi agar sampai di Stasiun Senen sebelum waktu zuhur tiba. Untuk barang barang yang tidak mereka perlukan, mereka meninggalkannya di kamarku agar ranselnya lebih ringan dan bisa memuat oleh-oleh jika seandainya mereka membelinya. Untuk makan siangnya sendiri, kami sudah membawa bekal berupa mie goreng (bukan mie instan loh ya) yang komplit dengan telur, ayam, dan sayur yang telah dibuat oleh ibu. Agar tidak merepotkan kami, ibu mengemasnya dalam kemasan sekali pakai bekas pasta dari sebuah restoran pizza ternama di Indonesia yang tentunya sudah dibersihkan terlebih dahulu (kan labelnya golongan 5 alias PP, jadi boleh dipakai ulang). Singkat cerita, kami tiba di Stasiun Senen beberapa menit setelah adzan zuhur selesai. Jalanan sepertinya cukup macet saat mendekati stasiun karena dipadati oleh orang-orang yang berbelanja di akhir pekan. Oh iya, tak lupa bapak juga ikut bersama kami, karena selain mengantar kami, ia juga akan pergi ke rumah temannya yang terletak searah dengan Stasiun Senen.

_____ Setibanya di stasiun, kami meletakkan barang bawaan kami di bangku ruang tunggu yang kosong. Setelahnya, Kami langsung mencetak karcis pada mesin cetak yang ada di deretan gerai stasiuin. Criit… criit… criit….. 3 lembar boarding pass telah tercetak. Seusai mencetak karcis, aku dan Riki berbelanja ke minimarket lawson yang ada di stasiun untuk membeli beberapa minuman dan camilan sedangkan Kento dan bapak menjaga lapak tempat duduk kami agar tidak diembat orang. Setelah aku dan Riki kembali ke bangku ruang tunggu, kami makan mie yang sudah mulai mendingin tersebut. Rasanya masih cukup enak meski tak seenak seperti saat masih hangat, tapi lumayan lah daripada merogoh kocek untuk beli makanan di stasiun. Seusai makan, kami membuang kotak makan tersebut beserta sumpit kayunya. Setelah makan, kami berpamitan dengan bapak yang akan pergi ke rumah temannya pada pukul 12 siang. Waktunya menunggu lagi hingga gerbang dibuka, yeay.

Traveler pro tip #1: Bawa kotak makan sekali pakai beserta sumpit kayu yang berlebih dari pembelian makanan di restoran untuk kotak bekal selama perjalanan. Pastikan plastik kotak makannya berjenis yang bisa dipakai ulang dan sumpit kayunya tidak berjamur selama disimpan sekian lama.

Aku
Suasana keramaian di Stasiun Senen (source: Kento’s gallery)

_____ Teng teng... akhirnya waktu pembukaan gerbang untuk kereta menuju Jogja telah tiba. Kami mengantri di barisan, sembari menyiapkan identitas kami, yaitu KTP untukku dan paspor untuk Riki dan Kento. Setelah check in, kami langsung mencari tempat duduk di bangku panjang yanng ada di dekat musholla. Berhubung aku belum sholat zuhur, jadi langsung saja aku sholat zuhur yang dijamak qashar dengan ashar di musholla yang ada di dekat tempat duduk kami. Kami menunggu kereta yang akan berangkat pada pukul 13:20 dan sekarang masih ada sekitar 20 menit sebelum waktunya tiba. Mereka tampaknya masih kenyang setelah makan mie goreng tadi sehingga tak banyak gerak dan hanya duduk duduk saja di bangku. Untuk keamanan barang bawaan, mereka tampaknya sudah lihai karena sudah membeli gembok untuk tas ransel dan tas selempangnya. Ya, gembok, anda tidak salah baca bung! Setiap resleting tas mereka pasangkan gembok agar isi tas aman dari tangan-tangan tak beradab.

Kereta sudah datang gaes! (source: Kento’s gallery)

_____ Akhirnya tak lama kemudian, kereta pun tiba di Stasiun Pasar Senen. Mereka pikir kereta yang akan mereka naiki adalah kereta buatan Jepang lainnya, tapi tidak lho hehehe. Aku menjelaskan pada mereka kalau kereta jarak jauh yang digunakan di Indonesia biasanya adalah buatan dalam negeri. Sebelum kami masuk ke dalam, tak lupa kami berfoto dahulu di depan kereta yang abru saja datang mumpung masih ada waktu sekitar 10-20 menit sebelum berangkat. Seusai berfoto, kami masuk ke gerbong yang ditulis di karcis kami. Untuk tempat duduknya sendiri, karena aku tidak mendapatkan tempat duduk yang bisa diputar agar bisa saling berhadapan, maka aku mengaturnya agar kami sederet saja, A B C D dengan konfigurasi aku sendiri bersama orang lain dan mereka duduk berdua. Jelas saja, aku lebih memilih agar duduk sendiri daripada salah satu dari mereka yang duduk dengan orang lain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (risiko paling minimum, ya paling salah paham doang).

Sebelum masuk, pak masinis ngajak foto nih 😀 (source: Kento’s gallery)
Sebuah tiket kereta dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Tugu Yogyakarta (source: Kento’s gallery)

_____ Bicara soal kereta, aku mendapatkan tiket murah selama seluruh perjalanan. Bayangkan saja, untuk ke Jogja menggunakan kereta eksekutif seperti ini hanya dikenakan tarif sebesar 175.000 rupiah per orangnya. Hal tersebut terbilang murah mengingat hari itu adalah akhir pekan dan banyak hari libur yang terselip di bulan April. Untuk urusan tiketnya, aku memesan di Tiket.com , salah satu dari tempat membeli tiket perjalanan yang sering aku pakai karena tampilan UI nya simpel tapi menarik dan pengoperasian UX nya yang mudah. Tak hanya itu, aku juga menggunakan Tiket.com sejak keberangkatan ke Jepang dahulu dan so far so good, tidak ada kendala dan bagian narahubungnya pun cukup responsif. Selain itu, entah kenapa selama 2 minggu perjalanan kami, aku mendapatkan banyak promo menarik mulai dari kereta keberangkatan, kereta selama perjalanan, hingga kereta untuk pulang nantinya.

Pemandangan dari kereta menuju Jogja (source: Kento’s gallery)

_____ Enough with the chuggin’ railway matters, selama perjalanan di kereta kami lebih banyak habiskan untuk melihat pemandangan di luar jendela. Beruntung orang yang duduk di sebelahku tergolong cukup pendiam sehingga tidak banyak bertanya padaku saat aku berbicara dalam Bahasa Inggris atau Jepang dengan Riki dan Kento. Awalnya Riki dan Kento sempat heran dengan banyaknya pembuangan sampah dan pemukiman kumuh yang ada di bantaran kali dan rel kereta selama perjalanan kami dari Jakarta hingga Bekasi. Tapi setelah keluar dari kedua daerah tersebut, pemandangan kami berubah menjadi lebih banyak persawahan dan pedesaan. Untuk makan malamnya sendiri, kami sudah menyediakan roti sehingga tak masalah untuk mengganjal perut kami. Karena kami direncanakan untuk tiba di Stasiun Tugu Jogja pada hampir pukul 10 malam, kami juga masih memiliki kesempatan untuk membeli sangu di stasiun tersebut jika seandainya kelaparan menyerang. Tak lupa aku menghubungi temanku, Emmanuel selama perjalanan di kereta. Emmanuel? Ya, dia adalah temanku dari Fisipol UGM yang kukenal saat di Tsukuba dulu (baca serial Fumidasou!, terutama Fumidasou! 27).

Sudah malam, bentar lagi sampai (source: personal gallery)

_____ Setibanya kami di Staisun Tugu Jogja pada pukul 10 malam kurang sedikit, aku menghubungi Emmanuel kembali. Ia berniat menjemput kami dari stasiun menuju penginapan Airy Rooms yang ada di dekat pasar, yaitu Airy Rooms Tugu Yogyakarta Poncowinatan 3. Kenapa kami memilih tempat tersebut? Karena tempat tersebut menawarkan harga murah yang fantastis, yaitu hanya 210.000 Rupiah selama 3 hari 3 malam, mantap kan! Aku juga memilih tempat tersebut karena selain harganya yang murah, tempatnya pun tidak jauh dari Stasiun maupun Malioboro, dan dengan fasilitas lengkap seperti kamar dan kamar mandi yang bersih, wifi dalam kamar, AC, TV, peralatan mandi dan snack, untuk harga segitu sih itu termasuk benar benar murah, pake banget. Sebelum berangkat, kami membeli makanan dan air minum di Alfamart yang ada di luar stasiun terlebih dahulu. Kami pun kemudian diantarkan oleh Emmanuel menuju penginapan. Selama perjalanan, Emmanuel banyak bercerita tentang tips membawa orang asing di Jogja agar terhindar dari kejahatan dan bisa berkeliling dengan nyaman. Terima kasih Emmanuel 😀

_____ Sesampainya di penginapan, Emmanuel pun pergi dan berencana kembali lagi keesokan harinya untuk menjemput kami. Kami bertiga langsung check in, dimulai dengan menunjukkan bukti penyewaan kamar dari laman Airy rooms dan identitas diri. Setelah check in, mas pengelola hotelnya mengantarkan kami ke kamar dan menjelaskan pada kami hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam kamar, seperti penyetelan wifi, penggunaan air panas dan air dingin, hingga penitipan kunci saat keluar. Ok mas, terima kasih. Saatnya, beres-beres dan rebahan~ yeay.. Eits, jangan lupa mandi dulu ya biar ga bau acem, hihihi

Penginapan murah ala mahasiswa yang kami pesan (source: personal document)

_____ Sambil menunggu giliran mandi, waktunya bedah isi kamar. Terdapat kasur yang cukup untuk 3 orang dengan meja diantaranya. Di depan kasur terdapat TV dan kotak snack dan minuman yang sudah diisi oleh pengelola. Di dalam ruangan terdapat lampu utama dan lampu tidur serta AC 1 PK. Untuk kamar mandinya sendiri terbilang cukup bersih, lengkap dengan air panas dan peralatan mandi ala Airy Rooms (sabun dan shampoo cair, sikat gigi dan odol kecil, sisir, dan dompet pengemasnya). Meski untuk menggunakan air panas perlu sedikit cooldown sekitar 1 menit untuk memanaskannya, tapi suhu dan debit airnya cukup memuaskan. Untuk harga sekitar 70.000 rupiah per malam per orang, menurutku ini sudah sangat bagus sekali karena jika kita memesan kamar di tempat lain, harganya bisa 2-3 kali lipatnya. Nah… akhirnya giliran mandiku tiba setelah Riki dan Kento, saatnya mandi~. Setelah mandi, aku langsung menyetel alarm agar bisa bangun pagi keesokan harinya.

Suasana interior kamar hotel dengan budget mahasiswa (source: Kento’s gallery)

_____ Naah, akhirnya setelah pulas tidur semalaman di Airy Rooms, kami bersiap untuk memulai hari ke-4. Emmanuel berencana menjemput kami pada pukul setengah 7 pagi di depan penginapan untuk berjalan-jalan ke sebuah tempat yang sakral namun tetap ramai dikunjungi wisatawan. Setelah sarapan seadanya dengan Mie sedaap cup rasa Soto kesukaan Riki dan beberapa biskuit yang disediakan pihak pengelola penginapan, kami turun ke lantai dasar untuk menitipkan kunci kamar kami pada pengelola. Penitipan kunci tersebut dimaksudkan agar kamar kami bisa dibereskan dan dibersihkan sehingga setelah kembali dari perjalanan nanti, kami sudah tinggal rebahan aja (walaupun kamar kami nggak kotor sama sekali, salut dengan 2 orang Jepang tersebut yang emang peduli kebersihan dan kerapihan). Kami berangkat dengan mobil Emmanuel, beserta 1 orang temannya yang sudah ada di dalam mobil. Wahh, tampaknya seru nih perjalanan karena lebih rame~. Setelah menempuh perjalanan naik dan turun, melewati berbagai kelokan dan tikungan, akhirnya kami sampai di tempat wisata tersebut pada pukul 8 pagi. Tempat apa yang dimaksud? mari baca postingan selanjutnya!

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: