Tiga Pemuda Keliling Jawa 7 – Ignis

_____ Perjalanan kami di hari ke-6 masih berlanjut di dalam kereta menuju Jawa Timur. Memang, perjalanan 14 jam bukanlah perkara yang mudah, apalagi tidak ada hiburan yang memadai di dalam kereta kecuali ponsel pribadi. Selama 14 jam itu, kami hanya kurang lebih mengobrol, atau sesekali memotret pemandangan di luar jendela. Memotret pemandangan mungkin bisa dilakukan ketika hari masih siang dan terang, namun apa yang kami lakukan ketika hari sudah mulai gelap? Jawabannya ya tak lain dan tak bukan hanya diam, cengok, mengobrol, main HP, ataupun membuat makanan. Ya, membuat makanan tentu bisa meredakan rasa penat selama perjalanan. Karena kami sudah menghabiskan bekal yang dibuat oleh ibu Emmanuel, jadi kami berencana membuat mie cup menggunakan mie cup yang sudah kami beli di Circle K sebelum berangkat.

_____ Aku dan Kento berjalan melewati beberapa gerbong untuk sampai ke gerbong restorasi dengan niat meminta air panas. Sesampainya di gerbong restorasi, kami menjumpai beberapa orang yang sedang menyeduh kopi panas ataupun juga membuat mie cup seperti kami. Namun, ternyata sayang sekali karena pihak pramusaji kereta mengenakan tarif sebesar Rp 10.000 untuk segelas air panasnya. APA!!?? Mahal banget, hingga 2x harga mie yang kubeli. Berdasarkan jawabannya, harga air panas yang dikenakan sama dengan harga mie cup yang dijual di dalam kereta. Alaasannya memang masuk akal, tapi kan kami hanya minta air panasnya saja, bukan mie nya karena mie nya sudah kami bawa sendiri. Karena kesal dengan harga segitu, kami pun tidak jadi makan mie. Saking jengkelnya, kento sampai memotret suasana gerbong restorasi yang menjual air dengan mahal itu.

_____ Setelah kembali ke bangku kami, kami heran kenapa Riki tiba tiba tidak ada. Awalnya kami menyangka ia sedang ke toilet, tapi ternyata tidak kunjung datang juga. Rupanya, ia sedang tidur di kursi seberang jalan dengan pulasnya. Hah kok bisa? Jadi ternyata katanya kursi tersebut sudah kosong saat kami pergi ke gerbong restorasi tadi, jadi ia gunakan saja untuk tiduran berhubung kursinya kosong melompong. Duhh… memang anak ini dari tadi tidurnya gampang banget kayak Nobita. Aku dan Kento hanya tertawa saja melihat ulah RIki. Karena perjalanan masih sekitar 3.5 jam lagi untuk sampai di stasiun Banyuwangi Karangasem, aku bisa menunggu sambil sholat maghrib & isya sekaligus karena aku yakin nanti saat sampai penginapan bisa langsung tepar karena kecapekan.

Mohon PT.KAI, coba dipertimbangkan lagi untuk harga air di dalam keretanya.

Aku
Gerbong restorasi kereta menuju Banyuwangi (source: Kento’s gallery)

_____ Kreeet…… Akhirnya rem pemberhentian kereta di Stasiun Banyuwangi-Karangasem berbunyi juga. Kami semua turun dari kereta dengan perlahan, bersama dengan beberapa turis asing di depan kami yang sepertinya akan mengunjungi tempat tujuan yang sama. Sesampainya di stasiun, kami langsung keluar dan berjalan melewati parkiran stasiun. Untuk penginapannya, aku terlebih dahulu sudah mengontak Bu Subur, pemilik penginapan yang ada tepat di depan Stasiun Banyuwangi. Aku sendiri mendapat nomor kontak tersebut dari mencari-cari di forum yang ada di internet. Karena penginapannya sangat dekat dengan stasiun (tinggal nyebrang parkiran dan jalan langsung sampai), serta harganya yang sangat ramah kantong mahasiswa, makanya aku memesan penginapan tersebut untuk menginap selama 2 hari 2 malam.

_____ Untuk harganya sendiri untuk kamar yang biasa (hanya berisi kasur, kamar mandi dengan pancuran, ember & gayung, lemari biasa, dan kipas) dipatok sebesar Rp 40.000 per 1 hari 1 malam. Namun karena kami berjumlah 3 orang dan kasurnya hanya muat untuk 2 orang, maka aku menambah extra bed untuk gelar lapak di lantai sebesar Rp.40.000 untuk 2 hari. Jadi, secara total, kami hanya mengeluarkan uang sejumlah Rp 280.000 untuk bertiga selama 2 hari 2 malam, atau sebesar Rp 80.000 per orangnya (kecuali aku yang nambah extra bed). Memang sih dari segi fasilitas memang tidak banyak yang ditawarkan, apalagi bentuk penginapannya memang lebih tampak seperti kos-kosan mahasiswa, tapi karena kami semua laki-laki dan nggak ribetan, serta nyari yang emang ramah budget, jadi nggak masalah. Benar benar harga mahasiswa banget kan! Oh iya, untuk kontaknya sendiri bisa menghubungi penginapan keluarga Subur di nomor: 0852-3615-5003. Jangan lupa membayar DP terlebih dahulu untuk bookingnya ya!

_____ Awalnya saat datang, aku menghubungi Bu Subur kembali saat tiba di penginapannya. Setelah menghubunginya, ia pun datang menghampiri kami di depan penginapannya. Beliau kemudian menyambut kami dan mengantarkan kami ke kamar yang terletak hampir persis di depan gerbang. Awalnya Bu Subur agak kaget gitu saat kuberitahu kalau aku membawa 2 orang asing karena jarang jarang ia menerima tamu orang asing, tapi ya karena aku menjelaskan kalau kami semua mahasiswa, sepertinya ia maklum saja. Setelah masuk kamar, kami langsung mengecas peralatan elektroniknya dan mulai hompimpa untuk menentukan siapa yang mandi duluan. Karena kereta tiba sedikit lebih awal, yaitu jam 9 malam, jadi kami punya lebih banyak waktu untuk beristirahat sebelum perjalanan selanjutnya. Makanya, aku menyuruh Kento untuk mandi terlebih dahulu dan Riki untuk beres beres kamar sedangkan aku meminta air panas ke Bu Subur untuk menyeduh mie cup yang sebelumnya batal diseduh. Untung saja beliau sangat baik sekali sehingga mau repot-repot merebuskan kami air panas untuk menyeduh 3 cup mie.

_____ Setelah mie jadi, kami segera makan mienya. Setelahnya, aku ingin pergi keluar untuk mencari ATM untuk mengambil uang. Aku bertanya pada Bu Subur apakah ada motor atau sepeda yang bisa kupinjam untuk pergi ke ATM dan beliau memberikanku sebuah kunci untuk memakai motor yang terparkir di garasi. Aku menawarkan salah 1 dari mereka apakah ada yang ingin merasakan sensasi digonceng naik motor karena mereka berdua belum pernah anik motor sekalipun. Akhirnya, Kento memberanikan diri untuk kugonceng sambil menemaniku ke ATM. Seusai mengambil uang, aku bertemu Bu Subur lagi dan membayarkan sisa uang penginapan yang belum lunas. Aku juga membayar jasa supir dan charter mobil yang kupesan sebelumnya. Untuk yang tidak membawa kendaraan, ada baiknya memang memesan charter mobil sekaligus supir yang seharinya dikenakan tarif Rp 500.000 per rombongan (sudah termasuk bensin), jadi sudah tidak perlu repot repot lagi untuk berjalan jalan seharian esoknya. Akhirnya, kami tidur dengan nyenyak karena kami harus bangun pada pukul 1 malam untuk pergi ke tujuan selanjutnya.

Siap mendaki semuanya??? (source: Kento’s gallery)

_____ Kemana sih emang harus berangkat sepagi itu? Jadi tujuan kami selanjutnya adalah Kawah Ijen, salah satu kawah gunung berapi yang ada di Banyuwangi yang terkenal dengan api birunya. Kalau biasanya api itu berwarna merah atau jingga kekuningan, api di gunung ini berwarna biru, fenomena alam yang sangat langka yang hanya bisa ditemui di 2 tempat yaitu Indonesia dan Islandia. Selain itu, kawah tersebut juga merupakan kawah terasam di dunia sehingga tak heran kalau deposit belerangnya cukup banyak hingga diperjualbelikan secara bebas. Sebelumnya, ada 1 temanku yang pernah ke tempat itu, yaitu Kohei (teman Jepangku dari Tsukuba juga, beda jurusan sama Kento & Riki) saat petualangan solo-nya menyusuri NTT, NTB, Bali, hingga Jawa selama 1 bulan. Karena aku penasaran, makanya aku memutuskan untuk pergi ke Ijen daripada Bromo, meskipun Bromo lebih dikenal secara luas. Tak hanya perkara hal menarik saja, aku sendiri sebenarnya sudah pernah ke Bromo saat SMA dulu dan saat Kento & Riki datang, Bromo sedang dalam status siaga. Yakali aku menantang maut untuk kesana…

Masa iya sih orang luar udah duluan ke tempat tempat menarik di Indonesia sedangkan aku yang notabene orang Indonesia belum pernah?

_____ Setelah tidur sebentar (sekitar 3 jam), kami pun bangun dan bersiap siap untuk pergi ke tempat selanjutnya. Pak supir yang kami pesan sudah tiba di depan penginapan lengkap dengan peralatan mendaki seperti masker gas, sarung tangan, persediaan air minum, headlamp, dan tentunya mobil dengan bensin yang penuh. Untuk harga yang ditawarkan segitu sih menurutku masih tergolong wajar, apalagi harga tersebut dipatok per rombongan, bukan per orang sehingga kalau dibagi 3, kami hanya perlu membayar sekitar Rp 167.000. Jika ditambah dengan biaya penginapan per orangnya yang seharga Rp 80.000 (kalau tanpa extra bed), berarti secara total kami hanya merogoh kocek sebesar Rp 247.000 per orang selama 2 hari. Udah paket mahasiswa banget deh pokoknya.

_____ Kami pun berangkat menuju Kawah Ijen bersama pak supir. Sepanjangperjalanan, kuminta mereka untuk istirahat saja menyimpan tenaga karena perjalanan diperkirakan berlangsung selama 1 jam hingga kaki gunung Kawah Ijen. Sepanjang jalanan memang gelap dan sangat minim penerangan, apalagi semakin mendekati lokasi, jalanan mulai terselimuti asap tipis. Sesampainya di lokasi, kami langsung mengenakan masker dan headlamp. Ternyata sudah banyak orang yang bersiap siap naik ke atas gunung dari sebelum pukul 2 malam agar bisa melihat api biru yang memang hanya bisa dilihat saat gelap. Namun, sepertinya kondisi sedang agak kurang mendukung karena kata pak supir baru saja hujan gerimis di Banyuwangi sehingga ada kemungkinan kalau nanti apinya kurang berkobar atau bahkan meredup. Oke, tak papa, langsung saja tancap gas!

Yuk manjat, jangan takut sama gelap! (source: personal snapshot)

_____ Saat akan membayar tiket masuk, aku langsung mengeluarkan dompetku dan menyiapkan uang di antrian. Untuk tiket masuknya sendiri dikenakan biaya Rp 7500 untuk wisatawan lokal dan Rp 150.000 untuk wisatawan mancanegara, sungguh perbedaan harga yang fantastis bukan!? Makanya, aku menyuruh mereka berdua untuk diam saja dan aku yang maju untuk membeli tiket, namun hal yang buruk terjadi. Rupanya penjual tiket di loket sudah tahu kalau mereka berdua adalah orang asing karena saat turun dari mobil dan diambilkan masker oleh pak supir, mereka mengucapkan arigatou dan itu terdengar oleh orang-orang di sekitar (tahu kan kalau ada kabar begitu nyebarnya cepat 1 lokasi). Alhasil, aku dikenakan biaya lokal dan mereka berdua dikenakan biaya yang fantastis. Aku memberanikan diri untuk menalangi sebagian biaya mereka agar mereka tak keberatan menanggung ongkosnya. Setelah bersusah-payah dengan urusan pertiketan, akhirnya kami masuk ke dalam trek jalan untuk naik ke Kawah Ijen.

Tak kusangka sepatah kata Arigatou bisa membawa masalah

_____ Jalanan gelap nan menanjak tentu akan menyulitkan kami, apalagi kami hanya bermodalkan headlamp dan senter yang kubawa dari rumah. Kedua alat itu sebenarnya hanya sekedar cukup untuk memberi petunjuk kemana kita harus berjalan, namun masih belum cukup terang untuk mengindikasikan langkah yang kami tapaki aman karena sepanjang jalan penuh dengan bebatuan dan di beberapa tikungan langsung berhadapan dengan jurang (sebagian bahkan tanpa pagar dan pepohonan). Di jalan yang gelap itu tentu menyeramkan karena di sisi yang berpohon, terdapat banyak pohon yang sudah tua dan berdaun lebat sehingga menambah kesan angker. Belum lagi toilet umum yang sesekali tampak di pinggir jalan dan tidak terurus sehingga memberikan kesan sebagai sarang jin. Anyways… orang asing sih harusnya tidak perlu takut dengan jin-jin lokal karena toh beda bahasa dan budaya kan!

_____ Perjalanan kami untuk sampai di bagian atas berlangsung selama 1 jam setelah melewati banyak kelokan dan tanjakan berbatu tajam. Maka dari itu, disarankan jika ingin ke Kawah Ijen menggunakan sepatu khusus mendaki, atau setidaknya sepatu olahraga agar tidak terpeleset dan terjatuh di jalanan berbatu dan bertanah tersebut. Jika kerepotan atau malas berjalan, bisa menggunakan jasa becak tarik yang dipatok sebesar Rp 50.000 untuk sekali jalan dari kaki gunung hingga puncak. Semakin mendekati puncak, kami jadi bisa melihat pemandangan kota Banyuwangi dari kejauhan. Tak hanya itu, semakin mendekati puncak, kami juga harus berhadapan dengan asap yang semakin tebal dan bau belerang yang semakin kuat. Herannya, meski perjalanan untuk sampai ke puncak penuh tantangan dan minim fasilitas, banyak sekali wisatawan yang bisa ditemui di puncak, termasuk wisatawan asing. Mantep juga yah Ijen bisa emnarik wisatawan asing sekian banyak, kukira hanya Bromo saja!

Semangat untuk para penambang belerang di Kawah Ijen (source: personal snapshot)

_____ Saat sampai di puncak, terdapat dataran pasir dengan bebatuan belerang yang cukup luas, lengkap dengan 2 buah toilet seadanya di ujung sana. Karena sudah pukul 3, kami mengikuti orang lain yang berjalan menuruni turunan curam nan berbatu untuk sampai ke pusat kawah yang katanya menjadi tempat kita bisa melihat api biru. Kami pun turut mengikuti mereka dengan harapan bisa melihat api biru yang katanya legendaris itu. Saat menuruni tebing, diharapkan harus extra hati hati dan memperhatikan kondisi sekitar agar tidak jatuh karena tangga yang dibuat untuk menuruni tebing benar benar curam, tajam, dan berbatu sehingga salah berpijak sedikit saja bisa fatal akibatnya. Sesekali, kami juga berpegangan dengan orang lain ketika harus menuruni tebing karena memang sudah tidak bisa dicapai dengan 1 langkah. Plus, hati hati juga karena asap sudah semakin tebal dan baunya sudah semakin kuat saat makin mendekati pusat kawah.

_____ Hal yang cukup menarik untuk ditemui di puncak adalah banyaknya penjual batu belerang, baik yang sudah diukir menjadi bros atau patung maupun batuan mentah. Rupanya para penjual belerang ini adalah bapak-bapak pemberani yang setiap harinya harus menerjang kepulan asap berbahaya ini demi menghidupi keluarga dengan menjual batuan belerang. Tak hanya itu, bapak-bapak tersebut juga rela memikul beban puluhan kilo belerang dari dasar kawah ke puncak, lalu menuruni gunung hingga kek kaki gunung hanya untuk mendapatkan rupiah. Benar benar perjuangan yang luar biasa, salut pak!

Hayo perhatikan langkahnya, jangan sampa tersasar ya! (source: personal snapshot)
Asap yang semakin dan semakin tebal ketika makin mendekati pusat kawah. Harap perhatikan langkahnya! (source: personal snapshot)

_____ Akhirnya setelah menuruni tangga dan tebing berbatu curam, sampailah kami di pusat kawah. Asap banyak sekali menyembur dari “cerobong” batu di sisi kiri dan kanan kami. Di kejauhan, tampak sinar biru yang membara yang tak lain tak bukan adalah api biru. Setelah berjalan perlahan-lahan mengikuti belokan yang ada, kami akhirnya sampai di tempat dimana kami bisa melihat api biru yang menyala-nyala tersebut. Benar benar menakjubkan rupanya meskipun dalam kondisi yang tidak sedang prima karena sempat terguyur hujan di sore harinya. Dibandingkan foto yang ditunjukkan Kohei, ini mungkin masih belum seberapa, tapi sudah cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu kami dengan api biru yang langka ini. Setelah puas memotret api birunya, kulihat banyak sekali orang yang ingin berjalan mendekati api birunya untuk berfoto lebih dekat, namun karena berbahaya, kami memutuskan untuk memotret dari jauh saja.

Tambang belerangnya sudah terlihat, begitupun api birunya dari kejauhan (source: personal snapshot)
Api biru yang menyala-nyala (source: personal snapshot)

_____ Setelah puas memotret, kami bergegas ke puncak agar tidak terlalu lama di dalam kepulan asap yang makin tebal itu. Untuk menanjak pun rupanya bisa lebih sulit daripada menuruni turunan dan tangga karena kita harus memijak batuan dengan mantap agar tidak terjatuh dan harus siap bergandengan tangan jika diperlukan. Untung saja bule-bule di depan kami cukup tinggi dan bisa saling menjulurkan tangan untuk menggapai pijakan di atasnya. Sesampainya di atas, kami melihat sinar berwarna ungu di langit yang hitam itu. Sepertinya sudah tanda-tanda fajar akan menyingsing. Oleh karenanya, kami mengikuti pengunjung lain yang berjalan mendaki lagi ke atas tanjakan pasir menuju puncak dari daratan pasir di puncak gunung. Yossh, ayo bersiap siap untuk mendaki lagi kawan!

Fajar akan menyingsing, ayuk kita ke atas! (source: personal snapshot)

Ada apa sih sampai rela capek-capek mendaki lagi menuju puncak dari puncak gunung? Mari simak di postingan selanjutnya!

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: