Tiga Pemuda Keliling Jawa 9 – Baluran

_____ Setelah puas nan capek mendaki gunung berasap di dini harinya, siang harinya kami berencana pergi ke tempat yang cerah dan hangat. Seusai makan pagi+siang di warteg terdekat dan sholat zuhur, kami pun berangkat menggunakan mobil yang sama dengan saat berangkat ke gunung, bersama dengan pak supir yang sama. Pak supir menawarkan 2 tempat, yaitu penangkaran ikan hiu di Bangsring, Banyuwangi, atau Taman Nasional Baluran yang terletak di perbatasan kabupaten Banyuwangi dan Situbondo. Hmm… pilihan yang sulit karena keduanya sama-sama bagus ternyata saat kulihat di Internet. Namun karena kami hanya punya waktu sekitar 5 jam sebelum gelap, jadi kami hanya bisa pergi ke salah satu lokasi. Selama di mobil, aku, Kento, dan Riki berdiskusi sambil hompimpa ingin kemana dan akhirnya diputuskanlah untuk pergi ke Taman Nasional Baluran.

_____ Kenapa Taman Nasional Baluran? Pertama, karena aku sudah pernah lihat di salah satu film Indonesia (Jilbab traveler: Love sparks in Korea tepatnya) dan sepertinya sih bagus karena kita bisa “bersafari” layaknya di Afrika. Sebenarnya, penangkaran ikan hiu juga tak kalah menarik karena aku juga belum pernah lihat hiu langsung yang bisa benear-benar dekat (kecuali di akuarium Ancol) dan mereka berdua pun belum pernah lihat sama sekali malah. Tapi, karena aku ga jago berenang, aku takut kenapa napa jika berada di dalam sangkar yang sangat dekat sekali dengan hiu (maaak, aku masih pengen keliling dunia, gamau dimakan hiu……). Berhubung mobilnya masih di jalanan Banyuwangi, jadi pak supir pun tidak masalah dengan keputusan kami yang agak mepet tersebut berhubung belum sampai di percabangan jalan.

_____ Selama perjalanan, Kento & Riki menghabiskannya dengan tidur untuk sebagian besar waktunya, maklum mereka pasti capek banget, apalagi udara panas begini jelas menguras tenaga mereka lebih cepat lagi. Sedangkan aku melihat rute di google maps HP sambil berbincang bincang dengan pak supir. Rupanya, pak supir pun tidak kaget ketika melihatku membawa orang asing karena sebelumnya iapun pernah menyupir untuk orang Malaysia, Thailand, Korea, dan Amerika juga di Bali (di pekerjaan sebelumnya). Selama perjalananpun ia menceritakan padaku pengalamannya kerja sebagai supir di berbagai tempat pariwisata. Ia juga menunjukkanku sebuah semenanjung di Banyuwangi yang kebetulan searah dengan perjalanan kami menuju Baluran dimana kita bisa melihat ujung barat Pulau Bali, hanya tinggal naik kapal sedikit lagi sudah sampai sana.

Rute dari Stasiun Banyuangi-Karangasem ke Taman Nasional Baluran (source: google maps)
Sabana Bekol, pintu masuk Taman Nasional Baluran (source: personal snapshot)

_____ Perjalanan kami waktu itu berlangsung selama 1 jam karena selama perjalanan tidak terjebak kemacetan sama sekali dan pak supir juga lihai dengan jalur alternatif yang lebih cepat. Saat sampai, pak supir menunjukkanku bekas goa zaman penjajahan Jepang dulu di pintu masuk Taman Nasional Baluran. Setelah masuk ke dalam, aku dan pak supir turun dari mobil untuk membeli karcis. Untuk masuknya dikenakan biaya yang cukup terjangkau yaitu 15.000 per orang, sehingga aku hanya perlu membayar Rp 60.000 untuk 4 orang (termasuk pak supir juga). Karena tidak ada ketentuan tertulis mengenai biaya untuk orang asing di loket karcis, jadi ya… yasudah masuk saja. Setelah mobil kami masuk agak dalam melewati jalan sempit (hanya 1 jalan, berisi 2 lajur) yang dikelilingi hutan, sampailah kami di daerah depan taman, yaitu Sabana Bekol. Sejauh mata memandang hanyalah berisi rumput, rumput, dan rumput. Barulah setelah sampai, aku membangunkan Kento dan Riki dari tidur nyenyaknya untuk turun dan melihat lihat padang rumput yang luas itu.

_____ Kami bertiga pun keluar dari mobil sementara pak supir menunggu di dalam mobil saja sambil merokok. Kami langsung berlari menuju padang rumput sambil berfoto di bawah pohon akasia. Di kejauhan, terdapat banyak kerbau yang sedang berkelana di padang rumput. Setelah berjalan sekian jauh dari jalan raya, kami menemukan patok bertanda “Dilarang berjalan lebih jauh karena berbahaya”. Memang, sepertinya di padang rumput ini akan banyak bahaya jika kami menerobos lebih jauh. Mungkinkah di sana banyak ular atau serangga berbahaya, atau lumpur hisap? siapa yang tahu…. Alhasil, tak lama kemudian kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke bagian dalam taman nasional.

Pohon akasia di tengah sabana (source: personal snapshot)
Berteduh dulu yuk! (source: personal snapshot)
Jangan sampai tersasar di Sabana Bekol yang luas ya! (source: personal snaphsot)
Saatnya kembali ke mobil untuk ke area selanjutnya (source: personal snapshot)

_____ Setelahnya, kami berhenti di posko penjaga taman. Di sana, pengunjung bisa beristirahat sejenak, buang air, sholat, ataupun jajan di kantin di sebelah poskonya. Di depan poskonya terdapat beberapa koleksi tengkorak banteng. Mungkin saja tengkorak-tengkorak itu berasal dari banteng liar yang mati di taman ini. Dengan adanya dekorasi seperti ini di pinggir jalan, tak heran kalau taman ini bisa disebut Afrikanya Indonesia karena memang benar-benar mirip dengan savannah wilderness. Setelah beristirahat, kami kemudian masuk lebih dalam lagi menuju hutan bakau yang ada di ujung jalan raya.

Tengkorak banteng di dekat posko penjaga taman nasional (source: personal snapshot)
Koleksi tengkorak banteng (source: personal snapshot)
Banteng liar yang ada di Taman Nasional Baluran (source: Kento’s gallery

_____ Di hutan bakau ini, kami bisa tinggal berjalan sedikit saja untuk sampai ke Pantai Bama. DI hutan itu, kami bisa menemukan beberapa primata yang banyak sekali hidup di sana. Monyet-monyet itu sangat lucu, apalagi monyet yang sedang menyusui anaknya. DI hutan ini kita juga bisa menemukan beberapa burung dan kucing liar yang berkeliaran. Karena sudah tercium aroma lautan dan suara desir angin laut, jadi kami sekalian saja main di pantai. Kami turun dari mobil dan kemudian berkeliling sementara pak supir menunggu di mobil (dan pastinya merokok juga ataupun jajan di warung terdekat).

Monyet di hutan bakau dekat Pantai Bama, Taman Nasional Baluran (source: personal snapshot)

_____ Setelah dari pantai, kami berencana langsung pulang menuju penginapan saja, tapi berhubung kami menemukan spot bagus untuk berfoto di tengah sabana, kami pun berhenti sebentar. Disanalah kami bisa berfoto dengan penanda lokasi Taman Nasional Baluran bersama gunung dan sinar matahari terbenam. Untung pak supir bersedia untuk memotret kami semua. Siang itu meski sangat cerah dan terik ala cuaca Jawa Timur di bulan April, tapi kami semua sangat puas dengan semua perjalanan yang ada. Pokoknya taman ini merupakan tempat wisata yang wajib banget untuk dikunjungi kalau kita ke Banyuwangi (selain Kawah Ijen tentunya)

Foto rame-rame dulu lah di bawah mentari terbenam (source: personal gallery, taken by Pak Subur)

Mari pulang, marilah pulang (source: Kento’s gallery)

Eh sebentar, kita kan ke pantai… Bagaimana dengan pantai yang ada di Taman Nasional Baluran? Mari simak di postingan selanjutnya!

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: