Tiga Pemuda Keliling Jawa 10 – Pantai

_____ Setelah sampai di penghujung Taman Nasional Baluran, kita bisa menemukan sebuah pantai yang tidak terlalu terkenal namanya, namun cukup bersih dan indah bernama Pantai Bama. Karena pantainya terletak di bagian terdalam taman nasional, maka kita harus ke sana menggunakan kendaraan pribadi karena sangat jauh untuk masuk ke dalamnya (disarankan mobil, motor juga gak papa soalnya panas banget). Siang itu, kita punya waktu untuk bermain di pantai selama sekitar 1 jam dari pukul 3 lewat hingga pukul 4 sore. Karena kami baru tahu dari awal bahwa ada pantai semacam itu saat sampai di Taman Nasional Baluran (dan setelah pak supir memberi tahu), maka jelas saja kami tidak membawa baju renang. Maka dari itu, kami hanya bisa bermain di tepiannya saja serta di hutan bakau yang ada di pinggir pantai. Sebagaimana yang telah kutulis di postingan sebelumnya, di pantai ini (terutama bagian hutan bakaunya) terdapat banyak satwa liar, terutama monyet dan burung. Makanya kami bisa memotret banyak gambar monyet disini.

Monyet lagi mencari kelomang di pasir pantai (source: personal snapshot)
Pengen balik ke SD deh~ (source: Kento’s gallery)

_____ Di bagian depan pantai, terdapat pondok-pondok yang sepertinya adalah milik pengurus taman serta kantin untuk pengunjung menikmati hidangan. Terdapat musholla yang bisa digunakan untuk sholat ashar dan juga joglo untuk pengunjung bersantai bersama dengan semilir angin laut. Ketika kami ke wilayah yang berpasir, kami bisa menemukan ayunan yang dirakit menggantung di bawah pohon besar. Karena suasananya sangat enak, maka kami pun tak luput untuk mencoba berayun-ayun di ayunan tersebut. Nggak usah malu atau ragu untuk bermain ayunan ini bagi remaja atau dewasa karena ini memang sudah size nya orang dewasa. Ayunan untuk anak-anak sendiri sudah tersedia di sisi lainnya dengan ukuran yang lebih mini. Lihat deh, betapa asiknya berayun ayun di tepi pantai, meskipun panas, tapi kami bisa merasa seperti dikipasi oleh angin alami. Hitung-hitung lumayan lah untuk sarana pereda stress, apalagi bagi orang Jepang yang cenderung serius dan kerja keras tiap harinya seperti Kento dan Riki.

Berayun dengan alunan angin laut (source: Kento’s gallery, taken by me)
Berjalan di pasir Pantai Bama yang bersih (source: personal snapshot)

_____ Jika kita bergeser ke arah utara atau selatan, kita bisa menemukan semenanjung yang dipenuhi hutan bakau yang lebih lebat. Maka dari itu, kami pun mencoba berjalan ke arah utara untuk melihat lihat lebih banyak. Di pantai ini juga banyak lho cangkang dari kerang-kerang yang sudah mati sehingga mungkin bisa dibawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh. Apabila kita melepas sepatu dan mencelupkan kaki ke airnya, kita akan merasa sejuknya air di tengah udara yang panas ini. Aku pun menyuruh Riki dan Kento untuk “nyemplung” sedikit ke air lautnya untuk merasakan segarnya air laut tropis yang tak mungkin mereka rasakan di Jepang (mungkin cuma bisa dirasakan di Okinawa aja). Sesampainya di ujung semenanjung hutan bakau, Kento rupanya harus berhenti sejenak karena “bebeb” nya sedang menelpon. Alhasil, hanya aku dan Riki saja yang bisa mengeksplor daerah tersebut lebih lanjut sedangkan Kento menelpon doi di bawah rindangnya pohon bakau. Memang ya, ppohon bakau itu punya banyak manfaat, mulai dari fungsi ekologis sebagai tempat berkembang biak bagi satwa air, mengurangi laju abrasi, hingga bisa jadi tempat bersantau dan ngadem di bawahnya sambil menelpon pacar, hehe.

Muara, batu, dan bakau (source: personal snapshot)

Ngadem di bawah naungan pohon bakau (source: personal snapshot)

_____ Di ujung semenanjung, kami melihat sekelompok orang yang didominasi ibu-ibu sedang mengumpulkan sesuatu. Sepertinya mereka adalah nelayan yang sedang mencari kepiting, kerang, ataupun rumput laut yang banyak ditemukan di laut dangkal. Karena penasaran, Riki ingin mencoba mencari kepiting juga di laut dangkal. Ia pun pergi ke daerah yang berbatu dimana kepiting suka menjadikannya sebagai tempat tinggal. Ia pun melihat beberapa kepiting yang muncul ke permukaan dengan malu-malu dan mencoba mengambilnya, meskipun pada akhirnya ia tidak jadi mengambil karena takut dicapit. “Hish, lagian ngide sih nyoba ngambil kepiting di tempat berbatu gini. Kalo kepeleset bahaya loh” kataku. “Hahaha, namanya juga usaha dulu, kali aja dapet nih” jawabnya.

Nyari kepiting dulu ah! (source: personal snapshot)
Baju biru diantara langit dan laut biru (source: personal snapshot)
Masih ada semangat nonton batalyon merah FATETA (source: personal gallery, taken by Riki)

_____ Setelah puas mencari kepiting dan berfoto foto di semenanjung pantai, aku dan Riki mengajak Kento yang sedang menelpon untuk kembali ke mobil segera karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami harus segera kembali karena kami harus istirahat agar keesokan harinya saat bangun pagi, kami tidak lemas karena capeknya hari ini yang penuh dengan jalan jalan. Setelah berfoto di bawah mentari terbenam di Sabana Bekol, kami langsung pergi menuju penginapan keluarga Subur. Kami sangat berterima kasih dengan penginapan subur karena bisa mendapatkan fasilitas yang komplit mulai dari penginapan hingga sewa mobil dengan harga yang ramah kantong mahasiswa. Malam harinya, kami makan di warteg sebelah penginapan. Untungnya, mereka berdua sepertinya cocok dengan makan malamnya karena makannya masih sama lahapnya seperti saat makan di rumahku. Plus, warung sebelah juga sepertinya tergolong bersih karena tidak ditemukan jejak-jejak kotoran di lantai lesehan maupun mejanya, ditambah lagi aku juga hampir tidak melihat lalat selama makan. Kalau biasanya di dekat tempat wisata makanan serba mahal, di daerah ini sepertinya tidak begitu, karena meski aku membawa orang asing, penduduk sekitar tidak menaikkan harga seenak udelnya dan harganya pun masih terbilang waras untuk wisatawan lokal juga.

_____ Setelah makan, kami membelil persediaan makanan untuk sarapan besok seperti roti, susu, air minum, dan cemilan untuk dimakan di kereta menuju tempat selanjutnya. Seusai membeli persediaan, barulah kami mandi satu per satu sedangkan yang menunggu antrian bisa mengecas gawainya agar tidak kerepotan keesokan harinya. Setelah semuanya mandi, kami pun mematikan lampu dan segera tidur lebih awal pada pukul 9 agar besok bisa bangun saat adzan subuh. Maklum, kereta yang akan kami naiki besok berangkat pada pukul 06.45 pagi. Meski ke stasiun hanya tinggal nyebrang, tetap saja kita tak boleh telat, bukan!

Mengenang perjalanan oleh Trio Tsukuba (source: personal gallery, taken by passerby)

_____ Keesokan paginya, aku bisa bangun tepat saat adzan subuh untuk sholat subuh. Setelahnya, aku membangunkan mereka untuk bersiap siap , mulai dari membereskan kamar penginapan (sesuai tradisi Jepang, dateng rapi pulang juga rapi), mengemas perlengkapan kami, mengecas gawai jika diperlukan, serta mandi. Pada pukul 06.00, kami melapor ke Bu Subur untuk checkout dan menyerahkan kunci kamar serta mengucapkan terima kasih atas penginapannya. Kami pun langsung menyebrang jalan menuju stasiun dan mencetak karcis di mesin cetak. Heran juga, di pagi pagi begini rupanya stasiun sudah padat dengan orang orang. Seusai mencetak, petugas stasiun kemudian mengumumkan lewat pengeras suara bahwa kereta yang akan kami naiki akan segera datang. Kami pun akhirnya masuk ke dalam kereta dan segera mencari tempat duduk kami.

Rute dari Stasiun Surabaya Gubeng hingga Hotel Kapsul “My Studio” (source: google maps)
Hotel Kapsul “My Studio” tampak depan (source: google maps)

_____ Kereta yang akan kami naiki kali ini adalah kereta ekonomi dari Stasiun Banyuwangi-Ketapang hingga Jogjakarta dengan pemberhentian di Surabaya, kota tujuan kami selanjutnya. Perjalanan kami berlangsung kira-kira selama 4 jam 15 menit karena diperkirakan tiba di surabaya pada pukul 13.00. Sesampainya di Stasiun Gubeng, Surabaya, kami langsung pergi mencari hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari untuk meletakkan tas. Kami menginap di hotel kapsul yang terletak tak jauh dari Stasiun Gubeng. Setelah melakukan check-in dan meletakkan barang-barang, kami langsung berpetualang menjelajahi kota terbesar ke-2 di Indonesia, Surabaya.

Sampai juga di kota terbesar ke-2 di Indonesia. Hal seperti apa yang kan menanti kami disana? Simak di postingan selanjutnya.

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: