Takuya Kemari 1 – Bogor

_____ Setelah kedua temanku dari Jepang, Riki & Kento, yang datang ke Indonesia, aku kedatangan lagi seorang teman yang dulu sempat bertemu beberapa kali di Tsukuba (baca Fumidasou! 16). Yap, siapa lagi kalau bukan Takuya. Jadi, Takuya ini sebelumnya pernah membantuku untuk mengidentifikasi makanan halal dan makanan yang ramah muslim di Tsukuba, baik itu makanan restoran maupun camilan yang dijual di toko-toko. Ia sendiri memang bukan tipe orang yang kaleng-kaleng karena pengalaman berinteraksi dengan orang asingnya cukup luar biasa banyak, mulai dari pertukaran pelajar selama setengah tahun di Malaysia, skripsian di Filipina, belum lagi kenalan-kenalan dari asosiasi gerejanya. Jadi, ia sudah bisa untuk melenturkan “standar” Jepang yang biasa melekat di orang Jepang dan beradaptasi dengan kegaduhan dan kesemrawutan yang ada di negara “berflower”. Yang lebih mengejutkan lagi, Takuya juga mendapatkan tugas untuk S2 nya di Kyushu University (setelah S1 di University of Tsukuba) untuk meneliti keberlangsungan ekonomi dan lingkungan dari pembangunan ibukota baru di Indonesia lho!

Waw… Penelitiannya jauh-jauh amat ya~

_____ Kalau Kento & Riki datang ke Indonesia di sela-sela “kelas yang membosankan” (katanya) selama pertukaran pelajar di Malaysia sekitar bulan April 2019, lain halnya dengan Takuya yang datang karena memang resmi bertugas. Takuya datang ke Indonesia pada bulan Januari 2020, tepat sebelum keganasan pandemi COVID-19 berlangsung dan setelah Jakarta “berendam” untuk kesekian kalinya. Hari itu, ia berencana datang ke Indonesia pada malam hari karena dapatnya tiket pesawat yang malam. Karena hari itu aku ada urusan pekerjaan di Karawang, maka kebetulan banget aku bisa sekalian pulang ke Jakarta mengingat hari itu adalah hari Jumat. Aku pun membeli tiket kereta ekonomi yang berangkat dari Karawang menuju Stasiun Tanjung Priok yang harganya tak sampai Rp 10.000 (kalau tidak salah waktu itu masih Rp 6.000-7.000 an). Karena pas sekali aku bisa menaiki kereta terakhir, jadi aku sampai di Stasiun Pasar Senen (tidak turun di stasiun akhir) pada sekitar pukul setengah 6 sore. Setelahnya, aku menyambung lagi dengan KRL menuju Stasiun Sudirman dan menaiki kereta bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta, tempat Takuya akan mendarat. Nyamannya perjalanan kereta kali ini karena transportasi di Indonesia semakin berkembang tiap tahunnya, baik kuantitas maupun kualitas, jadi tinggal sambung-menyambung kereta aja tanpa perlu repot-repot ke jalan raya.

Sambil menunggu Takuya datang di bandara yang mulai sepi (source: personal snapshot)

Semoga makin banyak lagi kereta yang melintas di Indonesia agar perjalanan makin mudah, cepat, dan nyaman.

_____ Bandara pada pukul setengah 9 malam tampak sepi, apalagi waktu itu mulai ada desas-desus virus corona sehingga kupikir orang-orang pun mulai mengurungkan niatnya untuk berpergian. Ia pergi ke Indonesia dengan pesawat Air Asia untuk menghemat budget penelitian, maklum karena dana penelitiannya juga termasuk biaya akomodasi dan konsumsi. Aku menunggu di bagian kedatangan terminal 2 bandara. Pada pukul 9 malam kurang sedikit, akhirnya kami berdua bertemu setelah sekian lama (aah.. lebay, baru aja setahun XD). Karena sudah larut malam dan kami berdua belum makan, maka kami memutuskan untuk makan saja di terminal 3 yang lebih lengkap variannya. Kami memesan Marugame Udon, salah satu restoran waralaba ala Jepang yang terkenal di Indonesia. Bukan untuk bermaksud menjadi wibu atau apa, tapi agar ia terbiasa dengan makanan Indonesia, maka ia harus pelan-pelan menyesuaikan dengan lidah Indonesia, dimulai dari makanan Jepang yang ada di Indonesia.

_____ Setelah makan, aku memberikan kartu BRIZZI edisi khusus Asian Games 2018 kepada Takuya untuk digunakan sebagai pembayaran multiguna, mulai dari kereta bandara yang akan kami gunakan nanti untuk pulang ke rumahku, hingga transportasi umum seperti bis dan kereta yang mungkin akan kami gunakan keesokan harinya sebelum Takuya ke Kalimantan. EEEEHHHHH, KALIMANTAN?!!, Ya, ia akan ke Kalimantan pada hari Selasa esoknya, jadi kami punya waktu 2 hari untuk menghabiskan waktu bersama di Jabodetabek. Rencanaku adalah pada hari Sabtu besok kami akan bertemu dengan Bang Zaid, kakak tingkat di jurusanku di IPB sekaligus alumni mahasiswa IPB yang pernah ke Tsukuba Juga. Untuk hari minggunya karena ia harus ke gereja, maka anggap saja rehat day. Dan hari Seninnya, aku berencana mengajaknya berjalan-jalan keliling Jakarta, kemudian bertemu dengan Kak Robby, alumni mahasiswa Binus yang pernah ke Tsukuba juga (seangkatan dengan Bang Zaid). Selesai berbicara rencananya, sesampainya kami di rumah, aku memperkenalkannya kepada orang tuaku dan mengantarkannya ke kamar. Setelahnya, ia langsung mandi dan bersiap siap tidur untuk menyongsong hari esok (yealah…. bahasanya wkwk).

_____ Keesokan paginya, aku mengajak Takuya untuk naik kereta menuju Bogor dimana kami bisa bertemu Bang Zaid untuk reuni kecil-kecilan. Bang Zaid adalah orang yang seangkatan dengan Takuya dalam periode AIMS nya sehingga pasti sudah kangen banget setelah tidak bertemu lagi sejak lama. Selama di kereta, sebisa mungkin aku berbicara dalam Bahasa Jepang, meskipun akhirnya hanya 50:50 Bahasa Inggris-Jepang agar pembicaranku tak disadap oleh orang di sekitarku (berasa agen rahasia aja nih XD). Karena selama perjalanan menuju Bogor sempat gerimis, aku jadi sedikit khawatir dengan jalan-jalannya nanti karena aku dan Bang Zaid berencana mengajaknya ke Kebun Raya Bogor. Sepanjang perjalanan, aku juga mengirim pesan ke Bang Zaid untuk segera bersiap siap ke Stasiun Bogor. Selama perjalanan, Takuya juga mengatakan padaku kalau kereta yang kami naiki mirip sekali dengan yang ada di Jepang, belulm lagi ada tulisan tulisan kanjinya di kotak P3K dan lampu darurat. Aku pun menjelaskan padanya kalau kereta ini memang hibah dari Jepang untuk Indonesia, cuma bayar biaya ongkirnya aja.

Berasa nostalgia kan di dalam kereta Jepang jadoel? (source: personal snapshot)
Tiap nemu sisa-sisa tulisan Jepang langsung difotoin (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di Stasiun Bogor, kami langsung berjalan menuju pintu keluar dan bertemu Bang Zaid di dekat jembatan penyebrangan. Kami pun tidak melakukan “basa basi temu kangen” karena kondisi jalan cukup ramai, kan malu kalo dilihat orang bung. Setelahnya, kami berjalan menuju arah Kebun Raya Bogor dan berencana masuk ke dalamnya melalui pintu yang ada di dekat Lapangan Sempur karena lebih dekat dengan arah jalan kami daripada pintu masuk yang dekat musium etnobotani. Sesampainya di gerbang, kami bertiga membayar tiket masuk sekitar Rp 20.000 per orangnya, harga yang cukup wajar mengingat Takuya adalah orang asing dan tidak dikenakan tarif “bule”. Setelah masuk, kami berteduh sebentar di masjid yang ada sambil sholat zuhur karena saat itu sedang hujan cukup deras meski hanya sebentar. Setelah sholat zuhur dan menunggu hujan reda, pandangan kami tertuju menuju tempat penyewaan sepeda dan mobil golf yang berada tak jauh dari masjid. “Yuk kita kesana buat pinjam sepeda” seruku pada mereka berdua.

Peta Kebun Raya Bogor dari pintu masuk dekat Lapangan Sempur (source: personal snapshot)
Mari bersepeda mengelilingi Kebun Raya (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di gerai peminjaman sepeda, kami bertanya pada abang pengurusnya. Rupanya untuk meminjam sepeda kami dikenakan biaya Rp 25.000 selama 1 jam, harga yang memang tak murah untuk ukuran Indonesia. Meski demikian, kami tetap menyewanya selama 1 jam untuk berkeliling, toh kapan lagi bisa jalan-jalan bareng sambil reuni kayak gini. Kami pergi ke beberapa tempat seperti kolam teratai, tempat bunga bangkai, hingga arboretum dan Istana Bogor yang terletak di sisi sebaliknya dari arah pintu masuk. Meski perjalanan kami terhambat oleh hujan sehingga kami harus berteduh di toilet umum yang ada di dalam kebun raya (dan toiletnya pun ternyata sedang dalam perbaikan dan pengecatan ulang 😦 ), kami tetap menikmatinya karena pada akhirnya hujan reda dalam waktu kurang dari 1 jam waktu penyewaan sepeda kami. Untuk mengambil kenang kenangan terbaik, kami berfoto di kolam yang menghadap Istana Bogor.

_____ Setelah puas mengunjungi kebun raya, kami mengembalikan sepeda pada gerai yang terletak di dekat pintu keluar yang menghadap Suryakencana dan berjalan keluar dari taman. Aku dan Bang Zaid bingung dalam menentukan tempat makan siang untuk kami karena belum yakin Takuya sudah kuat perutnya untuk makan di pinggir jalan atau warung yang berjejer di sepanjang jalan. “Ah, gimana kalo ke Botani Square aja bang. Kan udah dekat tuh tinggal jalan dari sini” Kataku. “Ah iya juga. Biar makanannya lebih bersih juga ya, kasian kalo Takuya besok mencret pas pergi ke Kalimantan” jawab Bang Zaid.,Kami pun setelahnya berjalan menerjang gerimis, menyebrangi terowongan bawah tanah untuk menyebrang, dan masuk ke dalam Botani Square, salah satu tempat belanja dan nongkrong paling ikonik di Bogor (setidaknya sih bagi mahasiswa IPB).

Foto bersama Takuya dan Bang Zaid setelah hujan reda (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di Botani Square, kami langsung menuju lantai 3 tempat food court nya berada. Agar lebih familiar dengan makanan Indonesia, maka Takuya kami belikan ayam geprek dengan level kepedasan paling rendah sebagai pemanasan. Aku sendiri memesan Bakmi GM sedangkan Bang Zaid malah memesan Yoshinoya, sungguh kontras :p . Saat mencicipi suapan pertama, Takuya sepertinya masih agak-agak tahan gitu namun setelah suapan ke sekian, barulah ia menghembus kepedasan. Untungnya, paket makanan yang ia beli sudah lengkap dengan es teh manis sehingga bisa meredakan kepedasannya. Setelah makan, kami berencana pergi ke 1 tempat lagi, yaitu musium perjuangan, sebuah musium yang berisi sejarah Indonesia seputar kemerdekaan dan beberapa tahun setelahnya. Saat menuruni eskalator, Takuya tiba tiba berceloteh sambil menunjuk ke arah stand makanan, “Ih, itu jual takoyaki atau sashimi? Kok tulisannya sashimi tapi bola bola?”. Aku dan Bang zaid hanya bisa merespon ,”Waduh, gatau. Tanya abangnya gih wkwk! “

Patung Jenderal Sudirman di Musium Pejuangan (source: personal snapshot)

_____ Kami pergi ke musium perjuangan dengan menggunakan Go-Car agar tidak terlalu makan waktu berjalan karena sudah agak sore. Kenapa harus musium? Karena Takuya suka sekali dengan benda-benda bersejarah layaknya om-om (kadang dipanggil ossan juga wkwk), apalagi musium yang kami tuju merupakan musium sejarah modern yang lekat hubungannya dengan perang. Beruntung, musium masih buka hingga 1 jam ke depan dan kami tidak perlu membayar tiket masuk. Kok bisa? Gak tahu kenapa, kakek penjaga loketnya mengatakan kami tidak perlu membayar sepeserpun karena sudah mau tutup. Apalagi sang kakek tahu kalau kami membawa orang asing disini. Saat masuk ke dalam, sembari sang kakek menjelaskan sedikit pada kami mengenai artefak-artefaknya, ia juga bertanya-tanya gitu ke Takuya seputar Jepang. Mungkinkah sang kakek merupakan veteran perang dulu?

_____ Seusai melihat sisi dalam bangunan musium, baik bagian kiri maupun kanannya, kami pergi menuju bagian tengah lapangan. Di bagian tengah terdapat patung Jenderal Sudirman, lengkap dengan pahatan nama dan gelarnya dalam bahasa lain, termasuk Jepang, yaitu Daidanchō. Setelah puas berkeliling musium, aku dan Bang Zaid pun berpamitan dengan kakeknya dan pergi menuju masjid yang terletak di sebelah musium untuk sholat ashar sedangkan Takuya menunggu di luar. Kemudian, barulah kami memesan Go-Car untuk terakhir kalinya sebleum berpisah menuju Stasiun Bogor. Hari itu merupakan hari reuni paket komplit, baik Takuya dengan Bang Zaid maupun aku dengan Bang Zaid. Lelah sih, apalagi kami sampai di rumah pukul setengah 8 malam, namun rasa lelah itu terobati karena ibu sudah membuatkan masakan yang enak untuk makan malam. Setelahnya, barulah kami tidur di kamar masing masing untuk mengisi tenaga tuk dipakai di keesokan harinya.

Jadi, besok ngapain aja nih? Kita nonton film Indonesia-Jepang juga lho! Apa tuh? Mari baca di postingan selanjutnya.

つづく~~>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: