Takuya Kemari 3 – Jiko

_____ Hari-hari setelah Takuya berangkat pun berlalu. Tiap hari, ia mengabariku bagaimana kehidupannya di sana, mulai dari mencari makanan, menghubungi dan bertemu pak camat untuk meminta data serta menyewa motor. Hah, sebentar…sebentar… menghubungi pak camat? menyewa motor? emang boleh orang asing? Awalnya aku juga merasa skeptis dengan 2 hal itu, tapi memang rupanya selalu ada jalan untuk setiap masalah. Pak Camat Sepaku rupanya bisa cukup berbahasa Inggris, setidaknya untuk berkomunikasi secara biasa dengan Takuya, begitupun pak pemilik rental motor yang kata Takuya setidaknya bisa walaupun terbata-bata dan dibantu dengan google translate. Lalu, bagaimana dengan urusan menyetirnya?

_____ Jadi, sebelumnya, ketika Takuya sudah sampai di hotel di Balikpapan, Takuya memintaku untuk membantu mencarikan tempat rental motor yang amanah, setidaknya dari segi harga dan kualitasnya. Beruntung aku menemukan sebuah rental motor yang cocok harganya dan masih memiliki stok motor tersedia karena dari 4 lokasi yang kuhubungi rata-rata sudah tersewa semua motornya. Setelah kuberitahu pak pemilik rental bahwa temanku akan tiba di lokasi peminjaman pada pukul 9 pagi. Aku sudah bilang padanya kalau temanku orang asing, SETELAH pak pemilik menaksir harga sewanya (agar tidak dinaikkan sesuka hati). Takuya pun tiba di lokasi dan membayar dengan uang cash sejumlah dengan nominal yang disebutkan berikut menyerahkan kartu pelajarnya sebagai jaminan. Oh iya, baiknya, tempat rental ini sudah mengisi bensin hingga penuh dari awal sehingga tak perlu takut dan kondisi motornya pun masih cukup bagus.

_____ Kok dia boleh menyetir? Jadi Takuya sudah memiliki SIM internasional yang tentu saja berlaku di Indonesia, sama seperti banyak bule yang menyewa kendaraan di Bali. Ia juga pernah menyewa kendaraan saat di Filipina semasa skripsian dulu. Singkat cerita, ia banyak menghabiskan waktu dengan berpergian dari Balikpapan menuju daerah yang sedang dibangun menjadi calon ibukota baru di Penajam Paser. Untuk pergi kesana, kita harus berjalan melewati hutan dan harus menyebrangi sungai besar dengan kapal. Jalanannya pun tidak mulus karena masih masih banyak yang dipenuhi dengan bebatuan kasar, sesekali bahkan masih ada yang bertanah. Ia bertugas untuk mengamati keseimbangan dampak ekonomi-lingkungan beserta keberlanjutannya (semacam feasibility & sustainability study gitu) dari pembangunan ibukota baru.

Pilihan motor yang tersedia (source: motorbike rental owner’s gallery)

_____ Hari-hari pun berlalu, hingga tiba di hari Sabtu pagi pada pekan yang sama dengan kedatangan Takuya di Kalimantan, tiba tiba aku mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Kaget, aku pun bingung antara mengangkat atau tidak karena takut menjadi korban penipuan atau hipnotis via telepon (kan masih banyak yaa korban begitu). Awalnya kuacuhkan saja dering teleponnya, hingga telepon kedua, aku baru melirik ke arah layar HP. Di layar, tertulis alamat penelponnya berasal dari Balikpapan. Karena bingung dengan apa yang terjadi, aku pun mengangkat telponnya. Rupanya telpon tersebut berasal dari warga setempat yang mengabari bahwa terjadi kecelakaan pada Takuya. Aku benar-benar kaget mendengar hal itu, meski separuh tak percaya.

Penelpon: Assalamualaikum mas, saya ***** dari Banser NU Balikpapan. Mas, ini temannya yang dari Jepang habis kecelakaan di hutan, tapi saya nggak ngerti mau ngomong apa. Dia nunjukin HP nya yang ada nomor mas. Boleh tolong dibantu nggak?

Aku: Waduh, serius pak? Coba saya mau dengar suaranya…. Di hutan mana pak?

Penelpon: Di daerah Penajam pak, ini saya kasih ya HP nya.

_____ Aku pun menanyakan pada Takuya terkait kecelakaannya, dan ya, memang benar bahwa ia kecelakaan di tengah hutan. Bukan karena tabrakan antara motor dengan kendaraan atau orang, melainkan jatuh sendiri di jalanan berkerikil kasar. Awalnya aku sempat khawatir karena ia belum tahu medan pengemudi motor di Indonesia sehingga aku takut kalau ia menabrak pengemudi kendaraan lain ataupun warga, lalu cekcok, apalagi pak penelpon merupakan anggota dari organisasi yang cukup terkenal di Indonesia. Katanya, ia jatuh saat perjalanan pulang dari kantor kecamatan Sepaku karena salah 1 HP nya yang berisi data tertinggal di kantor kecamatan. Setelah mengobrol sebentar, Takuya kemudian memberikan HP ke pak penelponnya.

Penelpon: Mas, ini kan masih di tengah hutan, nggak ada puskesmas atau klinik, temannya saya bawa ke rumah warga di kampung aja ya buat diobatin.

Aku: Oalah, boleh pak. Terima kasih banyak atas bantuannya. Nanti kalau sekiranya beli obat-obatan atau apa-apa bilang aja nanti saya ganti uangnya. Mohon maaf ngerepotin pak.

Penelpon: Waduh, nggak usah mas. Namanya juga manusia, harus saling tolong menolong. Di rumah saya kayaknya ada kok obat merah sama perban. Ini tadi saya sama warga yang lain habis dari hutan terus ketemu temannya lagi jatoh di jalan. Ini saya kirim fotonya ke mas juga ya. Mas nya standby aja, nanti kalau temannya ada apa-apa saya bisa langsung telpon.

Aku: Oke pak. Sekali lagi, terima kasih dan mohon maaf sudah merepotkan bapak dan warga lainnya.

Terjadi kecelakaan di hutan (source: villager’s gallery)

_____ Siang itu, aku merasa khawatir sekali dengan Takuya. Meski terpisah jauh sekali dari Jakarta hingga Penajam, tapi entah kenapa aku masih tidak habis pikir dengan kejadian tersebut. Belum genap seminggu, sudah ada kejadian seperti ini. Aku tak bisa membayangkan entah bagaimana nanti ketika ia kembali ke Jepang dan keluarganya mendapati anaknya luka-luka. Setelah zuhur, aku ditelpon kembali oleh bapak tersebut.

Penelpon: Mas, ini temannya habis dari mana dan ngapain ya? Kok bisa sampai ada di tengah hutan gini?

Aku: Oh, itu dia lagi tugas penelitian S2 nya pak. Tadi dia sih bilangnya ke kantor camat soalnya HP nya ketinggalan kemarin disana. Dia habis wawancara dan mengambil data gitu dari kantor camat.

Penelpon: Oalah, ke sana toh. Saya kenal sih sama pak camatnya, nanti saya sampaikan ke beliau kalau gitu. Terus ini temannya balik kemana?

Aku: Dia menginap di Balikpapan pak, di hotel *****. Oh iya teman saya bagaimana pak kabarnya? itu motornya nggak rusak kan pak? Soalnya itu motor sewaan.

Penelpon: Oh nggak papa mas temannya, ini sudah diperban sama dikasih obat merah lukanya, tapi jalannya masih pincang gitu. Nanti suruh ke dokter aja soalnya kita nggak punya obat-obatan lain mas. Motornya aman kok mas, paling lecet dikit aja.

Aku: Wah, syukurlah. Terima kasih banyak pak. Saya coba pesankan Go-Car atau Grab-car ya pak buat jemput kesana.

Penelpon: Waduh, jangan mas. Disini susah banget kalo mau pesen gituan. Saya antar aja ya kalo begitu nanti.

Aku: Waduh, nggak papa toh pak? Kalau begitu, nanti saya ganti biaya bensin dan kapalnya ya pak. Mohon maaf ngerepotin banget jadinya pak. Sekali lagi, terima kasih banyak.

Penelpon: Udah, nggak usah mas. Kami semua ikhlas kok, yang penting temannya cepat bisa dirawat.

_____ Telepon pun ditutup. Mendengar hal itu, rasanya aku ingin menangis karena masih banyak orang baik di luar sana. Walaupun tidak pernah bertemu, hanya berbicara via suara, tapi entah kenapa aku merasa lega dengan semua itu karena masih ada orang baik yang lebih dari sekedar rela menolong orang yang tak dikenal, orang asing pula. Ditolong di tengah jalan untuk diobati saja rasanya sudah bersyukur sekali, apalagi daerah tempat Takuya jatuh merupakan daerah hutan yang jauh dari pemukiman warga. Ini bahkan sampai diantarkan ke Balikpapan, sebuah kota yang terpaut jarak tempuh 3 jam lamanya dan harus menyebrangi sungai serta menembus hutan, rasanya sudah seperti keajaiban bisa menemukan hal seperti ini. Yang lebih menyentuh lagi adalah, bapak-bapak tersebut menolong secara iklhas tanpa mengharap imbalan apa-apa, bahkan untuk mengganti biaya obat dan bensinnya saja nggak. Dari cerita Takuya pun, mereka tidak meminta ataupun mengambil apa apa dari Takuya, semua utuh tanpa kehilangan apapun. Semoga bapak-bapak tersebut selalu dicurahkan Rahmat dan selalu berada dalam lindunganNya.

_____ Malamnya, setelah Takuya diantar ke hotel dan beristirahat, ia menelponku sambil memberikan kabar terkini terkait luka-lukanya. Ia mengatakan bahwa mungkin ia patah tulang di bagian kaki kanannya. Ia juga menunjukkan bahwa sekujur tubuhnya mulai dari tangan, pundak, hingga bagian dorsal pun luka luka. Tapi, bukannya malah meringis kesakitan, ia malah mengatakan kalau ia terharu sekaligus kagum dengan kejadian ini karena bapak-bapak yang menolongnya di hutan hingga resepsionis hotel sudah sangat berbaik hati padanya.

Takuya: Aku tadi dianter loh, 3 jam dari Penajam sampai Balikpapan.

Aku: Oh iya, dibonceng gitu? Trus bapaknya balik naik apaan?

Takuya: Nggak. Bapaknya dan temennya narik motorku gitu di sisi kiri sama kanan, jadi motorku di tengah.

Aku: Waduh, sampai segitunya. Bapaknya baik banget.

Takuya: Iya yah, pertama kali loh aku lihat orang nolong sampai segitunya, apalagi kalau pulang pergi bisa 6 jam. Udah gitu pas sampai hotel, dianter sampai masuk kamar kan. Trus resepsionisnya yang ngelihat bawain buah-buahan gitu ke kamarku tadi pas maghrib. Orang Indonesia baik-baik yah, jadi berhutang nyawa nih sama orang Indonesia.

Aku: Iya, aku kaget banget pas denger begitu. Syukurlah, yaudah istirahat aku coba nego ke bapak rentalnya.

Takuya: Boleh sih, tapi aku besok langsung siap-siap balik ke Jepang. Ngga kebayang ntar muka ortuku sama profesor pas lihat kondisiku begini.

Aku: Hah, udah ke Jepang aja? Yaudah, kalo misalnya mampir ke Soekarno-Hatta, kita ketemuan deh.

Takuya: Oke, aku kirim rencana perjalanannya.

_____ Rasanya terharu sekali mendengar ceritanya bahwa yang baik bukanlah hanya bapak-bapak yang rela mengantar sejauh 6 jam PP, bahkan resepsionis hotelnya pun sangat perhatian padanya. Kekagumanku pada warga Balikpapan bertambah di keesokan harinya ketika Takuya menghubungi pemilik rental dan mengabari kondisi motornya, pemilik rental motor justru menjemput Takuya dengan mobil dan mengantarnya ke bandara. Ia juga mengatakan bahwa pemilik rental akan mengambil motornya kemudian setelah kembali dari bandara. Untuk biaya kerusakan, Takuya dikenakan biaya Rp 500.000 karena lampu dan remnya ada masalah. Kata Takuya, uangnya nanti akan dikembalikan besoknya jika biaya perbaikannya tidak sampai segitu. Let’s see….

Sampai di Jakarta lagi (source: personal snapshot)

_____ Hari minggunya, setelah Takuya menaiki pesawat dari Balikpapan menuju Bandara Soekarno Hatta, aku pun berangkat menuju bandara untuk memberikan oleh-oleh yang telah dibellikan ibuku ke Takuya. Selain itu, aku juga berniat menengok kondisinya dan mengobrol-ngobrol sebelum ia berangkat ke Jepang. Ia dijadwalkan tiba di abndara pada pukul 12 siang. Aku sudah menunggu di lobby kedatangan dari pukul setengah 12 siang, namun aku belum juga menemukannya ketika pesawat yang dinaikinya telah tiba pada pukul 12 siang kurang, sedangkan penumpang lain sudah mulai berdatangan di lobi. Setelah lebih dari 15 menit, aku akhirnya menemukannya berjalan terseok-seok keluar dari balik partisi tanpa bantuan tongkat ataupun kursi roda. melihat hal itu, aku segera menghampirinya dan membantu membawa barang bawaannya.

Aku: Okaeri~ Kok nggak dikasih tongkat atau kursi roda? Kamu ngga minta kah?

Takuya: Emang boleh ya minta gituan?

Aku: Ya jelas boleh lah, yakali ga boleh. Yaudah kita ke resepsionis dulu sini.

Hiasan lampu yang menggantung di stasiun bandara (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di resepsionis, aku meminta kursi roda untuk penumpang pesawat *** yang akan berangkat nanti malam. Resepsionisnya pun tak kalah kaget melihat Takuya tidak diberikan alat bantu bergerak oleh pihak Bandara Sepinggan maupun pihak maskapai. Menurutnya, harusnya yang bertanggung jawab memberikan hal tersebut adalah pihak maskapai karena Takuya sudah membeli tiket dan tercatat sebagai pengguna. Pihak bandara pun seharusnya memberi layanan alat bantu jalan untuk digunakan selama di bandara. Setelah menjelaskan hal itu, ia langsung memanggil pihak keamanan untuk merelakan 1 anggotanya agar membawa kursi roda dan mengantar Takuya ke Terminal 3. Agak susah memang saat memasuki kereta dalam bandara dengan kursi roda, tapi karena kami berencana makan siang disana jadi mau tidak mau harus kesana dengan kereta (yakali jalan).

_____ Sesampainya di tempat makan terminal 3, aku meminta petugas untuk melepas kami agar bebas berkeliling di bandara. Ia menjelaskan untuk bisa demikian, kami harus memberikan jaminan, entah paspor atau ID card. Jika tidak, maka penggunaan alat bantu jalan harus didampingi petugas. Maka dari itu, aku pergi ke bagian bantuan medis terminal 3 untuk menyerahkan ID card kami dan petugas pun berlalu. Akhirnya, kami bisa makan dengan tenang di restoran Marugame Udon sebagai tempat makan yang terkesan fusion antara Indonesia dan Jepang. Waktu mengobrol dan berkeliling pun berlalu hingga pada pukul 5 sore, kami bergegas menuju terminal 2 untuk persiapan makan sore, membeli oleh oleh, dan keberangkatan Takuya.

Papan penanda di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (source: personal snapshot)

_____ Sesampainya di terminal 2, kami mendatangi gerai maskapai yang akan digunakan oleh Takuya untuk kembali ke Jepang dengan transit di Kuala Lumpur, Malaysia selama hampir setengah hari. Betapa kagetnya aku bahwa ternyata kursi roda yang dipinjamkan harus dilepas di Bandara Soekarno-Hatta juga, tidak bisa dibawa hingga Jepang baru dikembalikan. Bisa sih katanya, asalkan menggunakan kursi roda yang disediakan khusus oleh pihak maskapai. Maka dari itu, kami pergi mengganti kursi rodanya dan mengembalikan yang lama serta menerima kursi roda yang baru dari pihak maskapai. Setelah mengurus permasalahan kursi roda, tiket, dan urusan lainnya, barulah kami makan malam di restoran cepat saji ala Jepang, yap! Hoka Hoka Bento. Kenapa harus disana? Ya, soalnya hanya itu yang harganya masih wajar di benakku dan rasanya lebih terjamin, setidaknya untukku dan Takuya, apalagi ia juga belum pernah merasakan makanannya. Dan ya, dugaanku benar, menurutnya gorengannya agak berminyak tapi sama enaknya dengan yang di Jepang.

_____ Setelah makan, barulah kami mengunjungi posko kesehatan bandara. Disana, seorang perawat wanita mengganti perban Takuya dan membubuhkannya obat anti infeksi. Karena perihal “perpesawatan” ini harus diurus kembali, maka akupun pergi ke gerai maskapai sementara Takuya kutinggalkan di posko sembari melakukan pergantian perban. Sekembalinya aku ke posko, Takuya mengatakan bahwa mbaknya baik banget sambil ganti perban sambil ngajak ngobrol, udah gitu ganti perbannya benar-benar telaten, rapi, dan lembut banget jadi nggak kerasa sakit.

Aku: oh iya, wah nggak salah dong pergi ke posko kesehatan sekarang, apalagi perbanmu udah dari kemarin kan yang dipasang sama warga.

Takuya: Iya, udah sehari nih, bener banget perlu diganti biar ga infeksi. Eh itu mbaknya habis ganti perbanku langsung baca buku gitu. Orang Indonesia rajin-rajin dan ramah banget ya kayaknya!

Aku: Buku? Oh itu, itu buku soal dan pembahasan ujian CPNS. Mungkin mbaknya mau daftar jadi PNS.

Takuya: Oh iya? Mungkin lebih menjamin hidupnya kali ya kalo PNS di Indonesia. Pasti bisa lah mbaknya, soalnya ngganti perban aja telaten banget, habis itu langsung belajar. Keliatan kalo orangnya rajin dan teliti.

Aku: Ehem… ufufu~

_____ Yak, waktu bergosip di posko kesehatan selesai, waktunya beralih ke pojok oleh-oleh. Aku menyarankan Takuya untuk membeli bakpia pathok dan keripik pisang Lampung karena menurutku itu cukup awet untuk dibawa ke Jepang sebagai oleh-oleh, meskipun pada akhirnya ia malah membeli sesuatu yang lain juga seperti keripik buah-buahan dan lainnya. Pukul 9 malam pun tiba, kini saatnya kami harus berpisah karena ia harus segera masuk ke dalam untuk memperoleh boarding pass. Sambil mengantarkannya mengurus boarding pass, aku berpesan kepada petugas maskapai untuk menjaga temanku baik-baik karena ia baru saja kecelakaan.

Berlatih menggunakan kursi roda di bandara (source: personal snapshot)

_____ Keesokan harinya, aku men-chat Takuya untuk menanyakan kabar. Rupanya, di Malaysia, ia tidak bisa meminjam kursi roda karena peraturan disana mengatakan bahwa untuk memesan kursi roda bersamaan dengan memesan tiket (pesannya jauh jauh hari pas beli tiket gitu, nggak bisa on the spot pinjam kayak di Indonesia). Sayang sekali, alhasil ia menaiki kendaraan pembawa koper yang ada di dalam bandara. Sungguh, benar-benar lagi apes sepertinya Takuya setelah keluar dari Indonesia. Sesampainya di Jepang, ia langsung dijemput oleh Ibunya di Bandar Tokyo-Haneda. tentu saja, emak-emak yang khawatir sama kondisi anaknya pasti langsung ngomel. Ia pun bercerita kalau ia hanya bisa maklum sambil mengatakan shoganai~~~

Begitulah kisah beberapa hari temanku ketika tiba di Indonesia. Meski singkat, sepertinya sudah mengukir kenangan yang cukup dalam, mulai dari pahitnya tragedi hingga manisnya keramahtamahan warganya. Abayo~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: